Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2018

Kemelut Soal Tagar #KamiTidakTakut dan Kutukan buat Terorisme

Sejak kecil, saya punya kemampuan mendapatkan energi berlebih dari Semesta; baik energi positif maupun negatif. “Kelebihan” ini membuat teman-teman kadang menjuluki saya sebagai cenayang atau orang malang yang energinya kalang kabut gegara bisa mencecap energi lain di tengah malam. Seperti halnya malam sebelum tragedi peledakan bom di Surabaya, hati saya berkemelut. Saya menangis sejadinya dan merasakan bahwa sesuatu yang besar di negeri ini akan terjadi. Lalu, BOOM! Apakah peristiwa ini membuat saya berhenti gelisah? Tidak. Saya semakin gelisah, apalagi setelah keesokan harinya melihat timeline media sosial saya dipenuhi dengan tagar #KamiTidakTakut dan kutukan terhadap terorisme dan pelakunya. Tidak sedikit orang yang menilai para pelaku teror sebagai “bukan manusia”. Lalu, semanusia apakah kita?

#KamiTidakTakut, benarkah? Pertama, saya akan membahas tagar #KamiTidakTakut yang begitu viral. Apakah kita benar-benar tidak takut atau justru tagar itu merupakan salah satu mekanisme pertaha…

Sendiri yang Mengasyikkan di Kota Padang

Saya lahir dari lingkungan keluarga yang konservatif, yang di dalamnya perempuan tidak punya kebebasan untuk memilih atau memutuskan. Salah satunya, perempuan di keluarga saya tidak boleh pergi sendirian. Kalau nggak diantar ayah atau adik/kakak laki-laki, ya terpaksa harus cari teman perempuan supaya saya bisa pergi atau sekadar hang out bareng teman-teman. Hal itu berlangsung selama bertahun-tahun sehingga kemampuan diri saya untuk “berdiri sendiri” semakin menurun. Saya terbiasa pergi diantar dan pulang dijemput karena keluarga memperlakukan saya bak tuan putri yang pergi ke mana-mana harus selalu dikawal. Ini membuat saya semakin lama semakin takut berjalan sendirian. Bahkan, untuk sekadar menempuh perjalanan Bandung ke Jakarta pun saya harus pergi ke toilet berkali-kali supaya bisa mengusir rasa grogi. Padahal, di bis atau kereta yang saya tumpangi pun kan nggak ada yang harus saya grogiin, ya? Oke, skip. Lanjut! Tapi, tahun ini sepertinya menjadi titik balik bagi saya. Awalnya, say…

Menyoal Tabu Perceraian

“Kenapa harus menikah jika akhirnya bercerai?” beberapa orang seringkali mencetuskan pertanyaan tersebut pada pihak yang bercerai dengan alasan bagaimana pun koyaknya biduk rumah tangga, pernikahan tetap wajib dilanggengkan. Di beberapa negara, perceraian adalah hal yang tabu dan menjadi janda adalah malu. Bagi saya, tabu dan malu saat memutuskan untuk bercerai adalah tirani bagi kedua belah pihak untuk melanggengkan kebahagiaan. Lantas, jika memang sudah tidak bahagia, apa pernikahan layak diteruskan? Hikmah semacam ini pun tidak serta-merta datang begitu saja. Dibutuhkan waktu yang panjang dengan jalan yang berkelak-kelok untuk saya bisa sampai pada pemahaman ini. Kali ini, saya tidak akan berbicara soal hukum perceraian menurut agama apa pun. Saya hanya ingin berbagi dengan seluruh perempuan di dunia untuk kembali menyoal tabu perceraian. Soal bagaimana menyikapi perceraian tanpa harus menuai kebencian atau tentang bagaimana seorang perempuan yang telah bercerai tidak lagi dijadikan …

Tentang Perempuan Sufi

Saat mendengar kata sufi, apa yang ada di pikiran kamu? Yup, Kebanyakan orang mungkin akan beranggapan kalau ini sejenis blog yang berniat menyerang pikiranmu dengan ajaran agama atau fatwa-fatwa tentang hijrah. Tapi, baca dulu sampai selesai! Secara populer, sufisme memang dikenal sebagai keyakinan atau praktik mistis yang dilakukan oleh umat Islam untuk mendekatkan diri pada akhirat dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang bersifat duniawi. Tapi, bukan berarti praktik sufisme hanya bisa ditembus melalui salat, dzikir, dan mengaji. Britannica menyebutkan bahwa sufisme adalah suatu keyakinan sekaligus praktik yang dilakukan untuk menemukan kebenaran cinta dan pengetahuan ilahi melalui pengalaman pribadi langsung dari Tuhan. Ah, kebanyakan yang merasa dirinya agnostik atau ateis pasti malas baca ini. Tapi, jangan berhenti dulu! Menurut saya, kebenaran cinta dan pengetahuan ilahi atau bahkan pengalaman pribadi langsung dari Tuhan pun tidak melulu datang dari praktik baik yang muncul da…