Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2018

Pembalut dan Menstruasi di India

Sewaktu kecil, ibu saya sering sekali menonton film India sehingga saya bisa hafal nama-nama aktor dan aktris India pada masa itu. Saat itu, film India sepertinya identik dengan ibu-ibu dan acara tangis-tangisan. Bagi sebagian orang, film Bollywood mungkin dianggap terlalu dramatis. Apalagi, India sangat hobi memasukkan nyanyian dan tarian di dalam setiap filmnya sehingga membuat sebagian orang merasa bosan saat menontonnya. Namun, saya melihat perkembangan perfilman di India dewasa ini cukup signifikan. Selain memiliki banyak aktor yang hebat, banyak sekali film India yang mengedepankan sisi humanisme dan tema-tema inklusif di dalamnya. Salah satunya adalah film yang saya tonton baru-baru ini: Pad Man. Menstruasi dan tabu Sebagian besar masyarakat India percaya bahwa perempuan yang sedang menstruasi adalah najis sehingga dilarang memasuki kuil, ambil bagian dalam upacara keagamaan, menyiapkan makanan tertentu, dan harus diam di luar rumah sampai habis masa menstruasi. Film “Pad Man” ber…

Perjalanan Integritas Perempuan dalam Film “Ini Kisah Tiga Dara”

Saya bukan orang yang terbiasa menonton film di bioskop ketika sedang booming. Bukan karena tidak tertarik, tapi lebih pada kebiasaan ngirit selagi muda yang terbawa sampai sekarang. Toh, nanti juga filmnya tayang di TV atau nanti juga bisa streaming. Kebetulan, saya baru bisa menonton film “Ini Kisah Tiga Dara” kemarin malam. Film yang diadaptasi dari film “Tiga Dara” ini cukup menarik perhatian saya karena diadaptasi dari film legendaris karya Usmar Ismail dan beberapa tokohnya diperankan oleh aktris dan aktor yang saya sukai. Berbeda dengan “Tiga Dara” yang ceritanya lebih sederhana dan tentu saja disajikan dengan latar kebudayaan pada zamannya (1950-an), “Ini Kisah Tiga Dara” justru lebih kompleks dan kontemporer. Film yang disutradarai Nia Dinata ini jauh lebih merepresentasikan konsep integritas perempuan dalam dunia modern, beserta tahapan yang mesti dilalui oleh perempuan untuk sampai pada tahap “berjiwa bebas”. Bagi saya, menonton “Ini Kisah Tiga Dara” tidak hanya memberikan nua…

Alasan Perempuan Lebih Panjang Umur daripada Laki-laki

Selama ini, kita mungkin melihat bahwa laki-laki jauh lebih kuat daripada perempuan. Tapi, tahukah kamu beberapa penelitian menunjukkan kalau perempuan justru lebih panjang umur dibandingkan dengan laki-laki?

Berdasarkan informasi yang dipublikasikan Scientific American, beberapa negara di AS menyebutkan bahwa perempuan dapat hidup sampai usia 80,1 tahun, sedangkan laki-laki hingga usia 73,4. Kasus serupa juga terjadi di Prancis dengan perbedaan angka usia harapan hidup terpaut 7,8 tahun, Inggris 5,3 tahun, Rusia lebih dari 12 tahun, dan India 0,6 tahun. Kenapa bisa begitu? Faktor biologis Selama tahun pertama kehidupan, angka kematian anak laki-laki cenderung lebih besar 25-30% dibandingkan dengan anak perempuan. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh faktor genetik. Jika terjadi kerusakan sel pada salah satu gen kromosom X, perempuan lebih bisa bertahan karena memiliki dua kromosom X; sedangkan laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Perbedaan inilah yang membuat perempuan memilik…

Yang Mahal dari Agensi Digital

Saya bukan orang yang memahami digital sepenuhnya. Bahkan, bisa dibilang, saya adalah orang gagap teknologi yang berjodoh dengan dunia digital. Sejak 2012, saya berkecimpung di dunia media digital. Lalu, pada 2016, saya pindah haluan ke agensi digital. Sama seperti orang awam lainnya, saya cukup terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa uang yang harus dikeluarkan untuk menjalankan sebuah bisnis dengan konsep dan strategi digital tidaklah kecil (malah bisa dibilang mahal sih, ya!). Dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan calon klien yang menilai bahwa biaya yang harus mereka keluarkan jika menggunakan jasa agensi digital berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan jika mereka menjalankan strategi digital sendiri (ya iyalah, bikin bakso sendiri juga pasti lebih murah daripada beli bakso di warung Pak Kumis). Itu analogi awamnya. Kalau jawaban teknis dan praktisnya, silakan tanya pada ahlinya. (Lah, terus saya mau nulis apa?) Kali ini, saya tidak akan membahas apa …

Karena KB adalah Hak Segala Bangsa

Dulu, sebagian keluarga saya selalu menentang program Keluarga Berencana (KB) karena menganggap hal itu sebagai cara manusia menentang takdir. Sementara itu, sebagian keluarga saya yang lain menganggap bahwa KB adalah hal yang harus dilakukan untuk mengurangi beban mental dan finansial keluarga. Tapi, bukankah nasib dan takdir itu berbeda? Ya, kadang-kadang, ada yang takdirnya memang harus punya banyak anak, tapi hidupnya enak. Tapi, ada juga yang anaknya cuma satu, tapi takdirnya sudah buntu. Pada akhirnya, manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Absolutely. Di tulisan ini, saya tidak akan membahas soal perlu atau tidaknya KB. Saya hanya akan bercerita soal populasi dunia yang semakin lama semakin bertambah. World Economic Forum menyatakan bahwa populasi dunia bertambah sebanyak 83 juta jiwa setiap tahunnya. Saat ini, sudah ada sekitar 7,6 miliar orang di dunia. Tapi, tren populasi di dunia tidaklah sama. Beberapa negara berkembang dengan cepat sehingga populasi semakin bany…

Masih Minggu Malam, Tapi Senin Sudah Terasa Melelahkan?

“If Monday had a face, I would punch it.” Pernah berpikir seperti itu? Saya juga pernah. Saat Minggu malam datang, terkadang saya tidak bisa tidur dan membayangkan harus bertemu dengan Senin yang melelahkan. Malah, kelelahan di hari Senin yang belum terjadi itu justru bikin saya capek dan kurang bersemangat menyambut hari esok. Dulu, sama seperti kebanyakan orang, saya mengamini bahwa Senin hari di mana kita memulai sesuatu yang melelahkan (sambil membayangkan capeknya lima hari ke depan) dan mengakhiri sesuatu yang menyenangkan (Sabtu dan Minggu yang selalu terasa singkat). Tapi, sekarang tidak lagi. Saya menjadikan semua hari yang saya jalani sebagai hari yang penuh kejutan, remeh-temeh yang kadang menjengkelkan, tapi anugerah yang selalu membahagiakan. Kenapa? Karena saya telah mengubah hal-hal berikut ini. Mindset yang tersesat
Dalam artikel yang dipublikasikan di Inc.com, Nicolas Cole menyebutkan bahwa “hidup untuk akhir pekan” bukanlah strategi jangka panjang. Kamu tidak bisa berpik…

Tak Selamanya Drama Korea Bikin Kamu Jadi Drama Queen

Saya bukan tipe orang yang fanatik terhadap kebudayaan dan selebriti Korea (kecuali Kim Nam Gil). Tapi, saya juga bukan orang yang anti terhadap budaya populer yang satu ini. Meskipun beberapa pihak menganggap drama Korea sebagai ancaman karena seringkali membuat penontonnya bersikap dramatis dan tidak realistis, tapi bagi saya, drama Korea lebih baik daripada sinetron. Setidaknya, saya tidak pernah marah-marah hanya karena melihat tokoh antagonisnya bersikap antara terlalu baik dan terlalu bodoh seperti halnya ketika ibu saya menonton sinetron yang episodenya susah berhenti. Beberapa film dan drama Korea sudah saya tonton. Hasilnya, saya tetap menjalani kehidupan saya sebagaimana mestinya dan tidak berharap lelaki tampan mapan seperti halnya aktor Korea yang sering digembor-gemborkan di media. Mungkin karena saya bersyukur punya pasangan yang tidak melakukan operasi plastik. Mungkin lho, ya. Kalau di hadapan saya tiba-tiba ada Kim Nam Gil datang nyatakan cinta juga pasti saya terima. …