Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2020

Janda dan Stigma

Menjadi janda di usia muda tidak lantas membebaskan saya dari stigma. Ada banyak hal yang membuat saya kerap merasa jengah karena ketika mendengar kata “janda”, ada banyak telinga dan mata yang tiba-tiba berubah menjadi agresif. Ada yang tiba-tiba berusaha empatik dengan menanyakan alasan kenapa saya menjanda atau cuma sekadar bilang, “Maaf ya, saya nggak tahu.”; ada yang tiba-tiba berubah jadi serigala dan menawarkan macam-macam “bantuan” yang sebenarnya nggak dibutuhkan, “Kalau butuh teman, hubungi saya aja.”; ada yang pura-pura nggak kenapa-kenapa, tapi di belakang berseliweran kasih info sana-sini; atau ada juga yang berusaha santai-tapi-salah dengan melemparkan lelucon yang sebenarnya tidak layak disampaikan. Mulai dari mengomentari fisik, “Pantesan seksi banget, ya.” sampai mengomentari psikis, “Wah, janda biasanya lebih dewasa nih!” yang pada akhirnya berujung pada stigma “janda itu penggoda”, “janda itu kesepian”, dan macam-macam stigma negatif lain yang memang sudah tumbuh

Apa Hubungan Bra dan Feminisme?

Bra dan Feminsime © Pixabay Saat kuliah, saya pernah mendengar seorang dosen berkata, “Males saya sama si X. Dia bilang, feminis nggak pakai beha.” Itulah momen pertama saya menyadari bahwa saya tertarik dengan isu feminisme, termasuk dengan konteks pakai-atau-tak-pakai-beha. Saat itu, saya berpikir kalau memang benar ada hubungan signifikan antara feminisme dan tak-pakai-beha. Tapi, asumsi saya saat itu tentu saja tidak tepat karena saya mengira kalau untuk menjadi feminis, seorang perempuan perlu melepas atribut yang satu itu. Asal muasal bra Dirangkum dari Historia , bra pertama kali diluncurkan di Paris pada 1889. Aksesori yang satu ini dibuat oleh seorang pengusaha pakaian bernama Herminie Cardolle dengan bentuk berupa korset. Kata “bra” sendiri berasal dari kata brassiere yang digunakan pertama kali oleh majalah Vogue pada 1907. Kebiasaan menggunakan bra ini sempat hilang saat Perang Dunia I karena industri militer negara-negara yang terlibat perang mengguna

Dikandung 9 Bulan, Apakah Anak Harus Mengabdi Selamanya?

Mungkin kita sering mendengar cerita tentang anak usia belasan tahun di negara-negara maju yang diperbolehkan pergi ke luar rumah atau menjalani hidup mandiri dan terlepas dari orang tua mereka.  Di Indonesia, tentu budaya seperti ini jarang sekali diizinkan. Bahkan, seseorang yang berusia dewasa pun masih tetap dianggap sebagai tanggung jawab orang tua ketika mereka belum menikah. Akibatnya, banyak anak yang memutuskan untuk menikah muda supaya terbebas dari “penjara” yang dibuat oleh orang tua dan ada juga yang justru menjadi “anak mama” karena segala sesuatunya terbiasa diputuskan oleh orang tua. Toxic Parents © Andreas Wohlfahrt via Pexels Rata-rata, mitos “anak durhaka” menjadi senjata andalan bagi orang tua untuk memutuskan apa saja hal yang perlu atau tidak dilakukan oleh anak tanpa penjelasan berterima tentang kenapa anak tidak atau harus melakukan tindakan tersebut. Sebagai contoh, ketika seorang anak meminta izin kepada orang tua untuk pergi hangout bersama teman