Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2020

Mereka Perempuan, Mereka Pahlawan: yang Menjaga Keanekaragaman dan Merawat Eksistensi (Bag. II)

Beberapa perempuan rutin dan rajin mengumpulkan tanaman liar yang bisa dijadikan pewarna untuk tenun, seperti beting, rengat, jangau, engkudu, engkerabai, kemunting, rengat padi ( indigofera ), rengat pepat, dan mengkudu kayu . Kegiatan menenun sudah menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Iban, tidak terkecuali di Ngaung Keruh. Mereka bahkan memiliki kelompok penenun yang bernama “Serakop Indo Ngaung Keruh”. Mereka juga yang menjadi pihak penting dalam pemanfaatan dan pelestarian hasil hutan bukan kayu. Mereka telaten mencari rotan atau resam untuk dijadikan perkakas rumah tangga atau kerajinan tangan. Dalam sosial-budaya perladangan, peran perempuan juga lebih menonjol karena pengetahuan penting mengenai perladangan ada di kaum perempuan. Dalam ritual panen, tata cara kepemimpinan dan literatur sesajian (tanaman yang harus ada di setiap prosesi gawai, dll) sumbernya ada di perempuan. Sementara itu, peran kaum lelaki dalam keberhasilan pencapaian program restorasi lebih kepada

Mereka Perempuan, Mereka Pahlawan: yang Menjaga Keanekaragaman dan Merawat Eksistensi (Bag. I)

Ditulis oleh Abroorza A. Yusra . Seorang pengantar kue.  Revisi terakhir tulisan tanggal 18 September 2020 (Disunting oleh Perempuan Sufi) Semasa berkuliah, saya pernah membuat cerita pendek yang bertemakan feminisme. Kisahnya: tokoh ‘aku’ cerpen pergi ke suatu negara untuk meliput turnamen besar sepakbola. Di sana, bukan melulu soal sepakbola yang ditemukannya, melainkan juga perlawanan ideologis terhadap turnamen tersebut. Para feminis berdemo sambil bertelanjang dada ( topless ). Kata mereka, “Piala Dunia hanya menahbiskan kekuasaan patriarki. Bentuk pialanya saja sudah seperti anu lelaki!” Tokoh ‘aku’ lalu bertemu dengan seorang perempuan senegara. Bukan perempuan yang baru kenal. Dahulu mereka pernah dekat. Bukan sekadar dekat, melainkan teman tapi mesra. Tentu mereka saling terkejut dengan pertemuan tanpa rencana itu. Bagi tokoh ‘aku’, perempuan itu memiliki arti yang sangat mendalam. Memori masa lalu menyeruak kembali mengisi imaji dan otaknya: ketika perempuan itu menjejalinya