Skip to main content

Posts

Sanggama dan Pesantren: Penyatuan Nafsu dan Rahasia Ilahi (Bag. II)

Bukanlah barang yang baru bahwa pernah ada kehidupan sosial, budaya, dan spiritual yang mengacu pada seks. Sebut saja konsep “lingga dan yoni” yang sudah ada sejak zaman Hindu atau barangkali sudah ada pula konsep serupa yang hidup di masa animisme dan totemisme. Sejarah Nusantara sendiri tidak terlepas dari hal tersebut, bahkan setelah masuknya Islam. Di awal transisi zaman Hindu ke Islam, terjadi asimilasi budaya dan kepercayaan. Peleburan nilai-nilai Islami, Hindu, dan falsafah Jawa Kuno terjadi. Persoalan seks termasuk di dalamnya. Hal ini, salah satunya dapat disimak di dalam Serat Centhini yang disusun oleh tiga pujangga keraton atas titah Anom Amengkunegara III (Surakarta) pada awal abad ke-19. Dalam Serat Centhini , seks bukanlah pemanis belaka. Hal itu bahkan mungkin menjadi sumbu esensi karya ini. Seks tidak berdiri sendiri. Sesembrono apa pun adegannya, ia berkelindan dengan berbagai hal, termasuk dengan nilai-nilai ilahi. Cebolang dan Nurwitri menyerap kenikmatan para gadi
Recent posts

Bulan Purnama, Saatnya Berubah!

Dalam film horor atau legenda, bulan purnama erat kaitannya dengan lolongan serigala atau manusia serigala . Menurut mitos Eropa Kuno tersebut, manusia serigala akan berubah dan mencapai puncak kekuatan mistiknya saat bulan purnama tiba. Dalam beberapa cerita, manusia serigala juga dikisahkan akan kehilangan kekuatannya di saat yang sama. Misalnya, Inuyasha yang akan kehilangan kekuatannya saat bulan purnama tiba. Baik cerita rakyat, legenda, maupun mitos terkait serigala atau bulan purnama tentu tidak hadir begitu saja. Ketiganya merupakan sastra lisan yang bersifat mimesis alias meniru kehidupan nyata. Jadi, bukan tidak mungkin jika manusia atau hewan dan makhluk hidup lainnya merasakan perubahan fisik maupun emosi saat bulan purnama. Bulan Purnama © Peter de Vink from Pexels Bulan purnama dan manusia Beberapa tahun lalu, saya menyadari bahwa tubuh dan emosi saya berubah seketika saat menjelang purnama. Awalnya, saya mengira kalau saya terlalu imajinatif karena merasakan “serangan-ak

Bias Gender dalam Buku Pelajaran Sekolah

Masih terngiang di pikiran saya ketika kira-kira dua belas tahun silam, saat saya masih duduk di kelas satu atau dua sekolah dasar, buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dikutip oleh guru saya mencontohkan beberapa rangkai kalimat berbunyi, “Ibu sedang memasak.” atau “Ayah sedang membaca koran.” Saat itu, mungkin kalimat-kalimat tersebut terdengar sangat lumrah. Bahkan, ketika saya beranjak remaja, saya masih menemukan kalimat serupa di buku pelajaran anak tetangga saya ketika saya menemaninya mengerjakan PR. “Mirna sedang menyapu.” “Mirna suka membantu ibu.” Begitu kira-kira contoh kalimat di dalam buku teks pelajaran Bahasa Indonesia yang saya lihat. Bukan cuma kalimatnya yang bertendensi bias gender. Ilustrasi di dalamnya pun cenderung menonjolkan mitos bahwa perempuan identik dengan warna atau kegiatan tertentu. Dalam buku tersebut, sosok Mirna pada kalimat di atas digambarkan sebagai seorang perempuan berusia enam tahunan yang mengenakan baju berwarna merah muda dengan bando di kep

Sanggama dan Pesantren: Penyatuan Nafsu dan Rahasia Ilahi (Bag. I)

Walau ekspresi pengalaman seksual sudah ada di dalam lukisan zaman batu, seks tetap menjadi hal yang penuh rahasia hingga saat ini. Ia tidak pernah benar-benar selesai. Bagi sebagian orang, ia menjadi tabu untuk dibicarakan. Bagi sebagian yang lain, ia menjadi begitu vulgar, menjadi sekadar bersifat badaniah. Sementara bagi sebagian yang lain mengandung nilai-nilai filosofis. Ia hadir dalam mimpi sekaligus kenyataan. Sanggama dan Pesantren © Ahmed Aqtai from Pexels Melalui masa pubertas ala santri Masing-masing kita memiliki titik awal yang berbeda terhadap seks. Secara teoretis, usia akil balig bermula dengan adanya mimpi basah, tumbuhnya rambut di bagian tubuh tertentu, atau bentuk badan yang berubah. Namun, pengetahuan dan pengalaman tentang seks bisa jadi dimulai sebelum atau sesudah batas antara masa kanak-kanak dan akil balig terjadi. Pengetahuan dan kesadaran pertama saya tentang seks terbentuk ketika…, ah saya lupa kapan dan bagaimana wujudnya. Yang pasti, hal itu terjadi di pe

Manusia, Pohon, dan Kehidupan

Saya masih ingat bagaimana dedaunan dan alang-alang yang saya sentuh ketika saya berusia tujuh tahun mampu membuat mood yang saat itu berantakan seketika berubah menjadi relaksasi menyenangkan. Berjibaku dengan setumpuk pekerjaan rumah dari guru-yang-terlihat-sempurna-nyatanya-tidak, omelan orang tua-yang-ingin-terlihat-sempurna di mata anak mereka, serta ejekan teman-teman yang merasa-diri-mereka-sempurna adalah hal yang melelahkan. Setiap kali lelah itu datang, saya kembali menyapa dedaunan dan alang-alang. Jika sepulang sekolah teman-teman biasa bermain petak umpet di tanah lapang, maka saya akan asyik bersentuhan dengan pepohonan di ladang belakang sekolah. Inilah momen pertama kali saya merasa bahwa kesepian bisa terobati hanya dengan sentuhan dedaunan dan pepohonan. Membayangkan mereka sebagai teman-teman menjadi kebiasaan baru bagi saya saat itu. Dalam benak saya, merekalah teman yang selalu hadir di saat saya merasa sedih: dedaunan dan pepohonan. Manusia, pohon, dan kehidupan ©