Skip to main content

Posts

Struggles Menjadi Perempuan Berpendidikan di Desa

Penduduk desa biasa dikenal dengan keramahan, keakraban antartetangga, dan solidaritas antara sanak famili. Sebagai perempuan desa nan jauh di belahan bumi Nusantara, saya sudah hafal bagaimana suka duka tinggal di desa. Namun, di sini, saya akan mengupas perihal dukanya saja sebagai bentuk mengeluarkan suara hati yang sedari lama bersembunyi rapat-rapat. Selain itu, tulisan ini juga sebagai bentuk kritikan saya untuk masyarakat pedesaan dengan harapan dapat memutus rantai kebiasaan yang menurut saya cukup meresahkan. Perempuan Desa Berpendidikan ©  Anete Lusina from Pexels Saking solidnya masyarakat pedesaan, terkadang kehidupan orang lain pun turut diurusi. Hal ini tentu saja bukanlah suatu yang tabu bagi masyarakat desa karena memang sudah melekat dan membudaya. Awalnya, saya menganggap hal ini sebagai suatu kewajaran, sampai suatu ketika saya menginap berhari-hari di rumah teman yang ada di kota. Saat itu, saya merasa bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kehidupan di desa den
Recent posts

Sudahi Sekarang! Anak Perempuan Tak Seharusnya Menanggung Stigma

Manusia lahir sudah harus menanggung stigma. Merah muda untuk perempuan, biru untuk laki-laki. Memasuki usia anak-anak, perempuan diajarkan untuk membantu mengurus rumah, sementara laki-laki bermain saja. Memasuki usia remaja, perempuan disuruh bersaing dengan perempuan lain, siapa yang lebih cantik, cerdas, dan menarik. Belum lagi dijejali stigma “wajar laki-laki tak rupawan berpasangan dengan perempuan rupawan” tapi kalau sebaliknya? Heboh bukan main.  Stigma Anak Perempuan © Pixabay from Pexels Memasuki usia dewasa, perempuan dituntut jadi dewi. Selain harus bisa mengurusi diri sendiri, mengurusi rumah, mengurusi laki-laki, mengurusi anak, mengurusi mulut tetangga, kalau bisa tetap tampil cantik kapan pun dan di mana pun. Akan selalu ada pembanding. Usahanya seakan tak pernah cukup. Sementara laki-laki? Ya nggak apa-apa, namanya juga laki-laki. Bukankah kita sering melihat konten media sosial yang saling menjatuhkan sesama perempuan? Dialog seperti, “Jadilah cewek yang serbabisa, ya

Hikmah Mencuatnya Kasus Ali Hamzah; Saring sebelum Sharing

Baru-baru ini, dunia maya dipanaskan dengan konten yang “diklaim” sebagai ujaran kebencian kepada salah satu komunitas penyuka musik pop asal Negara Ginseng atau yang lebih akrab dikenal dengan istilah Kpopers . Pasalnya, konten yang awalnya hanya menimbulkan kontroversi dari pihak Kpopers , lama-kelamaan makin melebar dan memanjang hingga netizen lain pun menganggapnya sudah keterlaluan. Dengan begitu, konten yang dibuat oleh TikToker dengan username @alinezad sukses menuai berbagai respons dari setiap kalangan, mulai dari kreator dakwah, kreator Kpop, kreator edukasi, kreator dokter, sampai kreator psikolog.  Kasus Ali Hamzah dan Kesehatan Mental © Tatiana from Pexels Awal mula bara api mencuat Kisah panjang ini bermula dari kasus M-net (salah satu stasiun TV Korea Selatan) yang menjadikan azan sebagai lagu remix . Hal itu tentu menuai kontroversi di kalangan umat Islam, termasuk @alinezad atau Ali Hamzah yang notabene adalah seorang kreator dakwah. Kemurkaannya tentang kasus tersebu

Nestapa Upah Guru Indonesia, Masih Tak Seindah Jasanya

Lebih dari setengah abad Indonesia merdeka, sosok guru masih juga belum mencapai kesejahteraan finansial. Kita pasti sudah sering mendengar berita tentang upah guru honorer yang jauh dari minimum regional. Tapi, pernahkah terlintas di benakmu bagaimana kelanjutan nasib semua guru selama pandemi COVID-19? Gaji Guru PNS Indonesia © ThisIsEngineering from Pexels COVID-19 datang seperti badai yang menumbangkan siapa pun yang lemah dan tak berdaya. Tentu, hal ini dirasakan oleh semua pihak. Tapi, di Hari Guru Internasional ini, biarlah saya menyampaikan aspirasi mereka yang tak kunjung tersampaikan.  Baca juga: Bias Gender dalam Buku Pelajaran Sekolah Derita guru PNS yang hampir tak terdengar Selain guru honorer yang semakin terseok-seok, ternyata guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) juga terjerat kompensasi yang seharusnya tidak mereka tanggung. Setidaknya, tidak dalam waktu yang begitu panjang ini. Enam belas bulan berlalu, sejak pandemi pertama kali masuk ke Indonesia, selama itu juga para gu