Skip to main content

Posts

Panik karena Covid-19? Trust Your Body!

Akhir-akhir ini, saya merasakan kekacauan energi di sekitar saya akibat wabah virus corona atau Covid-19. Bukan sekadar panik akan kondisi kesehatan, banyak orang justru tidak mampu mengarahkan kesadaran fisik dan psikologis mereka karena tergiring oleh opini dan kecemasan publik terkait virus tersebut. Bagi seorang empath, menghadapi situasi seperti ini tentu akan melelahkan karena bisa jadi, kita merasakan hal yang menakutkan di satu waktu, tapi akan tenang kembali di waktu lainnya. Jadi, mana energi yang benar? Kesadaran empati seperti ini tentu jadi persoalan tersendiri untuk para empath dan HSP. Tapi, bukan berarti kamu nggak bisa mengatasinya. Baca juga: Apakah Kamu Seorang Empath?
Hal pertama yang harus dipahami adalah bagaimana kita bisa percaya bahwa tubuh kita juga hidup. Memercayai tubuh sama saja dengan memercayai energi di sekitar kita; percaya bahwa tubuh kita juga punya “kuasa” untuk menerima dan menghalau energi di sekitarnya. Jadi, jangan remehkan kekuatan tubuh kita send…
Recent posts

Dear Empath, Ini 5 Cara Supaya Kamu Nggak Kewalahan!

Menjadi seorang empath tentu bukan hal yang mudah. Bisa merasakan energi semesta dan harus menghadapi energi itu sendirian adalah hal yang melelahkan. Bahkan, orang-orang terdekat pun bisa jadi kewalahan saat harus menghadapi emosi empath yang bisa berubah dalam waktu sekejap. Dari sekian banyak tulisan yang saya buat, banyak pesan masuk yang berisi soal bagaimana cara terbaik bagi para empath untuk mengelola energi. Oke, saya sendiri sebenarnya belum cukup matang untuk bisa memberikan panduan. Tapi, mari kita lakukan apa yang sudah saya sering lakukan dan mari kita coba insight dari referensi para empath yang pernah saya baca.
#1: Jangan jadikan meditasi sebagai senjata! Banyak literatur yang menyarankan para empath untuk membuat “perisai” diri dengan bermeditasi dan membayangkan cahaya berwarna putih untuk melindungi tubuh dan jiwa kita dari “serangan” energi negatif. Tapi, membuat perisai dan bermeditasi juga butuh energi. Kalau kita sudah kewalahan, pasti akan sangat lelah untuk bisa…

Kenapa Perempuan Diam Saat Mengalami Pelecehan Seksual?

Saya pernah mendapatkan catcalling maupun pelecehan seksual, baik di sekolah maupun tempat kerja. Tapi, saya hanya terdiam dan bertanya-tanya dalam hati, “apa pakaian saya terlalu terbuka?” atau “apa saya bersikap menggoda sehingga laki-laki memperlakukan saya seperti itu?”, dan kemungkinan-kemungkinan lain yang belum pasti. Hingga suatu hari, saya pernah mendapatkan pengobatan spiritual dari seorang laki-laki yang menyuruh saya berbaring dan terdiam begitu saja ketika dia menyentuh alat kelamin saya. Selesai berobat, saya masih saja terdiam. Saat itu, saya hanya bertanya dalam hati, “apa memang pengobatannya harus begitu?” Jika saat itu saya berteriak, apakah saya akan selamat? Jika setelahnya saya melapor pada seseorang, mungkinkah hanya dianggap angin lalu? Lebih buruk lagi, mungkin akan dimarahi karena dianggap sebagai perempuan yang tidak bisa menjaga diri. Kasus pelecehan seksual sering kali mengusik telinga dan hati saya, termasuk kasus pelecehan seksual oleh Dedy Susanto yang saa…

Menjadi Anak Sulung: Anugerah atau Musibah?

“Enak ya jadi anak pertama, bisa nyuruh-nyuruh adiknya.” Begitu kelakar yang sering didapat anak sulung dari adik-adik atau orang-orang sekitarnya. Anak pertama memang sering kali diasumsikan sebagai individu yang dominan, perfeksionis, dan cenderung kurang fleksibel. Tapi, apa benar demikian? Beberapa waktu lalu saya sempat merasa lelah menjadi anak sulung. Bukan cuma bertugas sebagai kakak yang wajib memberi teladan yang baik, tapi juga bertugas menggantikan sebagian atau bahkan seluruh tugas orang tua jika mereka sudah tiada.
Mengalami masa percobaan yang berat Di satu sisi, anak sulung lahir sebagai kado pertama bagi orang tua sehingga mereka cenderung mendapatkan banyak perhatian yang mungkin tidak didapat adik-adiknya. Psychology Today menyebutkan, anak sulung cenderung mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tua sehingga tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri. Di sisi lain, anak sulung juga mengalami masa percobaan yang berat. Ketika orang tua memiliki anak pertama, kebanyaka…

Marriage Story, Indah Tapi Tak Menggugah

Gaung film Marriage Story sudah lama sampai ke telinga saya. Mulai dari review di media sampai Instagram stories yang mengatakan kalau film ini punya efek yang cukup dahsyat buat sebagian orang. Namun, karena kesibukan yang cukup menyita waktu, saya baru berkesempatan untuk menontonnya beberapa hari lalu dan meresensinya hari ini. Dengan rating yang cukup tinggi dari IMDb, yaitu 8.1/10, film ini membuat ekspektasi saya melambung tinggi. Apakah film ini benar-benar bisa menyita perhatian saya? Tentu. Selain karena testimoni yang mayoritas hebat, film ini juga dibintangi oleh salah satu aktris favorit saya, Scarlett Johansson.
Satu jam pertama yang membosankan Ekspektasi yang tinggi terhadap film ini membuat saya sedikit kecewa ketika dalam satu jam pertama hanya melihat adegan-adegan teatrikal yang bagi saya terasa membosankan dan sama sekali tidak menyentuh, baik nalar puitik maupun melodramatis. Namun, saya yakin akan ada hal baik yang bisa dipetik dengan menonton film ini.  Secara sinem…

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan. 
#1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dilahirkan dengan tingkat intelektu…