Skip to main content

Posts

Membaca Isra Miraj dari Kacamata Relativitas hingga Feminitas

Salah satu peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah Islam adalah Isra Miraj, yaitu perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad dari Masjidilharam ke Masjidilaksa dan dilanjutkan ke Sidratulmuntaha hanya dalam waktu semalam. Dari sinilah Nabi Muhammad mendapat wahyu untuk melaksanakan salat lima waktu dan menyebarkannya kepada seluruh umat Islam. Secara etimologi , Isra berasal dari kata saro yang artinya ‘perjalanan di malam hari’, sedangkan Miraj berasal dari kata aroja yang berarti ‘naik’. Artinya, Isra dan Miraj merupakan dua peristiwa berbeda yang terjadi dalam semalam. Sementara itu, burak sebagai kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad untuk melakukan perjalanan ini pun tentu sudah tidak asing lagi, terutama di telinga umat Islam. Meski begitu, pemaknaan Isra Miraj dan burak sendiri tidak lepas dari kontroversi. Bagi sebagian orang, Isra Miraj adalah dogma; Nabi Muhammad pergi ke langit ketujuh dengan menggunakan kendaraan bernama burak . Titik, tidak bisa ditawar. Bagi sebagian ya
Recent posts

Merayakan Eksistensi Tanpa Perayaan

Januari lalu, saya berulang tahun. Namun, berbeda dengan momen ulang tahun di tahun-tahun sebelumnya, kali ini saya berujar dalam hati, “Sepertinya saya sudah tidak butuh ucapan ulang tahun atau kado kejutan dari siapa pun.” Mestakung. Tidak satu pun teman atau keluarga yang mengucapkan selamat seperti tahun-tahun sebelumnya, apalagi mengadakan pesta. Apakah saya kecewa? Tidak sama sekali. Hanya bertanya-tanya dalam hati, sedekat itukah pikiran saya dengan semesta? Merayakan Eksistensi Tanpa Perayaan © Flora Westbrook from Pexels Saat masih kanak-kanak, pesta ulang tahun merupakan salah satu prioritas yang ingin saya capai. Pasalnya, hampir semua orang tua teman saya mengadakan pesta ulang tahun yang meriah untuk anak-anak mereka, baik di rumah maupun di restoran cepat saji.  Tapi, prioritas tersebut tidak pernah tercapai karena yang menjadi prioritas bagi kedua orang tua saya saat itu adalah kebahagiaan adik saya yang umurnya cuma terpaut setahun dengan saya. Pesta ulang tahun adik di

Sanggama dan Pesantren: Penyatuan Nafsu dan Rahasia Ilahi (Bag. II)

Bukanlah barang yang baru bahwa pernah ada kehidupan sosial, budaya, dan spiritual yang mengacu pada seks. Sebut saja konsep “lingga dan yoni” yang sudah ada sejak zaman Hindu atau barangkali sudah ada pula konsep serupa yang hidup di masa animisme dan totemisme. Sejarah Nusantara sendiri tidak terlepas dari hal tersebut, bahkan setelah masuknya Islam. Di awal transisi zaman Hindu ke Islam, terjadi asimilasi budaya dan kepercayaan. Peleburan nilai-nilai Islami, Hindu, dan falsafah Jawa Kuno terjadi. Persoalan seks termasuk di dalamnya. Hal ini, salah satunya dapat disimak di dalam Serat Centhini yang disusun oleh tiga pujangga keraton atas titah Anom Amengkunegara III (Surakarta) pada awal abad ke-19. Dalam Serat Centhini , seks bukanlah pemanis belaka. Hal itu bahkan mungkin menjadi sumbu esensi karya ini. Seks tidak berdiri sendiri. Sesembrono apa pun adegannya, ia berkelindan dengan berbagai hal, termasuk dengan nilai-nilai ilahi. Cebolang dan Nurwitri menyerap kenikmatan para gadi

Bulan Purnama, Saatnya Berubah!

Dalam film horor atau legenda, bulan purnama erat kaitannya dengan lolongan serigala atau manusia serigala . Menurut mitos Eropa Kuno tersebut, manusia serigala akan berubah dan mencapai puncak kekuatan mistiknya saat bulan purnama tiba. Dalam beberapa cerita, manusia serigala juga dikisahkan akan kehilangan kekuatannya di saat yang sama. Misalnya, Inuyasha yang akan kehilangan kekuatannya saat bulan purnama tiba. Baik cerita rakyat, legenda, maupun mitos terkait serigala atau bulan purnama tentu tidak hadir begitu saja. Ketiganya merupakan sastra lisan yang bersifat mimesis alias meniru kehidupan nyata. Jadi, bukan tidak mungkin jika manusia atau hewan dan makhluk hidup lainnya merasakan perubahan fisik maupun emosi saat bulan purnama. Bulan Purnama © Peter de Vink from Pexels Bulan purnama dan manusia Beberapa tahun lalu, saya menyadari bahwa tubuh dan emosi saya berubah seketika saat menjelang purnama. Awalnya, saya mengira kalau saya terlalu imajinatif karena merasakan “serangan-ak

Bias Gender dalam Buku Pelajaran Sekolah

Masih terngiang di pikiran saya ketika kira-kira dua belas tahun silam, saat saya masih duduk di kelas satu atau dua sekolah dasar, buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dikutip oleh guru saya mencontohkan beberapa rangkai kalimat berbunyi, “Ibu sedang memasak.” atau “Ayah sedang membaca koran.” Saat itu, mungkin kalimat-kalimat tersebut terdengar sangat lumrah. Bahkan, ketika saya beranjak remaja, saya masih menemukan kalimat serupa di buku pelajaran anak tetangga saya ketika saya menemaninya mengerjakan PR. “Mirna sedang menyapu.” “Mirna suka membantu ibu.” Begitu kira-kira contoh kalimat di dalam buku teks pelajaran Bahasa Indonesia yang saya lihat. Bukan cuma kalimatnya yang bertendensi bias gender. Ilustrasi di dalamnya pun cenderung menonjolkan mitos bahwa perempuan identik dengan warna atau kegiatan tertentu. Dalam buku tersebut, sosok Mirna pada kalimat di atas digambarkan sebagai seorang perempuan berusia enam tahunan yang mengenakan baju berwarna merah muda dengan bando di kep