Skip to main content

Posts

Bertualang Semalam, dari Lagu “Blue Bayou” sampai Filosofi Hell is Other People

Suatu hari, di tengah November 2019, saya mengalami serangan panik karena merasa tidak ada seorang pun yang peduli pada saya. Saat itu, pasangan saya sedang asyik dengan dunianya, dunia yang mungkin di dalamnya tidak ada saya. Sementara itu, beberapa teman baik saya sedang sibuk dengan masalah tak-ada-uang-bikin-pening atau pasangan-bikin-pusing sehingga tidak satu pesan teks pun saya terima. Berkutat dengan kesepian memang bukan hal mudah, meski Afrizal Malna (penyair kesayangan saya) pernah berkata, “Manusia itu keningnya pucat dan kesepian.” Di tengah puncak kesepian saya malam itu, kembali saya teringat masa-masa lalu saya yang mengerikan. Mulai dari kehilangan sahabat yang meninggal di usia muda, kehilangan anak yang baru lahir dari kandungan, kehilangan pasangan hanya karena kami tak sanggup menahan luka saat bermain api, sampai kehilangan diri sendiri yang sampai hari itu masih saja sering mengulas duka. Jika sebelumnya saya sering mendengarkan lagu-lagu melankolis untuk menuntask…
Recent posts

Apa Tugas Seorang Istri?

Sejak kecil, orang tua saya sering kali memarahi saya jika saya ketahuan bangun siang dan tidak membantu mengerjakan urusan domestik. Sementara itu, adik saya (laki-laki) bisa tertidur lelap sampai jam berapa pun tanpa perlu memikirkan beban membantu-ibu-memasak-di-dapur. Sejak saat itu, saya terus berkutat dengan kegelisahan atas ketidakadilan gender yang terjadi pada saya dan adik saya. Sampai suatu hari, ayah saya membangunkan saya dengan kalimat, “Bangun dong, masa anak gadis bangun siang. Mendingan beres-beres, tuh!” Kemarahan saya tidak terbendung dan saya pun mengatakan, “Bukan cuma anak gadis yang harus bangun pagi. Bukan cuma anak gadis yang harus bantu beres-beres rumah.” Meski sempat menimbulkan sedikit huru-hara, akhirnya orang tua saya menyadari bahwa pekerjaan domestik bukan semata-mata tugas istri dan anak perempuan. Kalau memang ingin mendidik kebaikan, tidak usah dibedakan mana peran untuk anak laki-laki ataupun perempuan. Bagaimana pembagian tugas dalam rumah tangga? Berb…

RUU PKS Ditarik, Perlukah Ada Gulabi Gang di Indonesia?

Badan Legislasi (Baleg) DPR, Menteri Hukum dan HAM, serta Panitia Perancang Undang-Undang (UU) DPR sepakat mengurangi 16 RUU Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2020, termasuk RUU PKS. Lantas, alasan yang tak masuk akal pun dilontarkan oleh Wakil Ketua Komisi VIII Marwan Dasopang kepada wartawan di DPR dengan mengatakan, “RUU PKS ditarik karena pembahasannya agak sulit. Kami menarik dan sekaligus mengusulkan yang baru, yaitu RUU tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.” Apa yang sulit? Mengutip VOA Indonesia, Komnas Perempuan menilai bahwa penundaan berulang ini bisa menimbulkan dugaan bahwa sebagian besar anggota DPR RI belum memahami dan merasakan situasi genting persoalan kekerasan seksual.  Padahal, menurut Komnas HAM, terdapat 542 kasus kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga (KDRT) yang 24 persennya merupakan kasus kekerasan seksual. Sementara itu, terdapat 226 kasus kekerasan terhadap perempuan di ranah komunitas dengan 89 persennya merupakan kekerasan seksual. Baca j…

Apa yang Salah dengan #BekalUntukSuami?

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan sebuah pesan singkat dari seorang teman yang turut meramaikan media sosial dengan mengepos beberapa foto bertagar #bekaluntuksuami. Awalnya, teman saya ini hanya berniat untuk berbagi resep masakan kepada teman-temannya yang juga suka memasak bekal untuk suami mereka. Alangkah terkejutnya teman saya ini waktu postingannya dijadikan sebagai objek cuitan oleh akun-akun yang mengatakan bahwa threadtersebut merupakan salah satu bentuk pelanggengan budaya patriarki. Apa benar begitu?
Patriarki itu apa sih? Dalam thread tersebut, muncul perdebatan antara kaum perempuan yang ikut meramaikan tagar tersebut dengan beberapa pihak yang menganggap keberadaan utas ini sebagai bahan pembenaran bagi budaya patriarki agar kaum perempuan mengabdi pada suaminya dan harus lihai dalam urusan domestik. Oke, sekarang mari kita berbicara soal esensi patriarki. Dalam KBBI, disebutkan bahwa istilah tersebut mengacu pada perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan d…

Janda dan Stigma

Menjadi janda di usia muda tidak lantas membebaskan saya dari stigma. Ada banyak hal yang membuat saya kerap merasa jengah karena ketika mendengar kata “janda”, ada banyak telinga dan mata yang tiba-tiba berubah menjadi agresif. Ada yang tiba-tiba berusaha empatik dengan menanyakan alasan kenapa saya menjanda atau cuma sekadar bilang, “Maaf ya, saya nggak tahu.”; ada yang tiba-tiba berubah jadi serigala dan menawarkan macam-macam “bantuan” yang sebenarnya nggak dibutuhkan, “Kalau butuh teman, hubungi saya aja.”; ada yang pura-pura nggak kenapa-kenapa, tapi di belakang berseliweran kasih info sana-sini; atau ada juga yang berusaha santai-tapi-salah dengan melemparkan lelucon yang sebenarnya tidak layak disampaikan. Mulai dari mengomentari fisik, “Pantesan seksi banget, ya.” sampai mengomentari psikis, “Wah, janda biasanya lebih dewasa nih!” yang pada akhirnya berujung pada stigma “janda itu penggoda”, “janda itu kesepian”, dan macam-macam stigma negatif lain yang memang sudah tumbuh dan…