Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

Bolehkah Muslim Mengucapkan Selamat Natal?

Sejak kecil, keluarga besar saya mengharamkan kami untuk mengucapkan selamat Natal atau hari besar agama lain kepada siapa pun yang merayakannya. Mungkin, kamu sudah tahu dalil apa yang melatarbelakangi larangan tersebut. Kalau belum tahu, silakan googling ya! Beranjak remaja, saya memiliki seorang sahabat beragama Katolik. Setiap kali saya merayakan Idulfitri atau Iduladha, dia tidak pernah kelewat mengucapkan selamat pada saya dan teman-teman muslim lainnya. Lantas, apakah seyogianya saya mengucapkan selamat Natal saat ia merayakannya? Akankah saya berdosa jika melakukannya? Muslim mengucapkan Natal © Irina Iriser from Pexels Terlepas dari bagaimana sejarah Natal dimulai beserta polemiknya, pada hari ini, banyak orang berkeyakinan bahwa Natal merupakan momen sakral untuk memperingati kelahiran Yesus. Dengan begitu, kelahiran Mesias ini perlu dirayakan dengan sukacita. Dalam perayaan inilah semua doa diamini, semua kebahagiaan dipendarkan. Jika manusia lain berbahagia, apakah kita ber

Perempuan, Parfum, dan Sumber Fitnah

  “Perempuan baik-baik nggak boleh pakai parfum.” “Wangi banget, pasti cewek nggak bener.” Selain dua kalimat tersebut, masih banyak kalimat lain yang menunjukkan seolah-olah parfum adalah petanda kuat yang bisa secara akurat menunjukkan mana perempuan baik (baik-baik) dan mana yang tidak. Meski diksi “perempuan baik-baik” bagi saya sudah cukup tidak mengenakkan, hubungan antara parfum dan perempuan jauh lebih merangsang nalar saya untuk berpikir, menganalisis, dan pada akhirnya menulis.  Perempuan dan seksualitas dalam masa Islam pramodern Dalam masyarakat Islam pramodern, seksualitas dan kesuburan perempuan menjadi sesuatu yang ditakuti kaum patriarkis. Itulah sebabnya, perempuan dianggap harus menjaga dirinya agar tidak menjadi sumber fitnah. Hal ini dilakukan melalui pemisahan ranah publik bagi laki-laki dan ranah privat bagi perempuan. Di ranah publik, laki-laki mesti tunduk pada aturan penampilan yang sesuai, tetapi diizinkan untuk menunjukkan penampilan mereka kepada laki-laki m

Mereka Perempuan, Mereka Pahlawan: yang Menjaga Keanekaragaman dan Merawat Eksistensi (Bag. II)

Beberapa perempuan rutin dan rajin mengumpulkan tanaman liar yang bisa dijadikan pewarna untuk tenun, seperti beting, rengat, jangau, engkudu, engkerabai, kemunting, rengat padi ( indigofera ), rengat pepat, dan mengkudu kayu . Kegiatan menenun sudah menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Iban, tidak terkecuali di Ngaung Keruh. Mereka bahkan memiliki kelompok penenun yang bernama “Serakop Indo Ngaung Keruh”. Mereka juga yang menjadi pihak penting dalam pemanfaatan dan pelestarian hasil hutan bukan kayu. Mereka telaten mencari rotan atau resam untuk dijadikan perkakas rumah tangga atau kerajinan tangan. Dalam sosial-budaya perladangan, peran perempuan juga lebih menonjol karena pengetahuan penting mengenai perladangan ada di kaum perempuan. Dalam ritual panen, tata cara kepemimpinan dan literatur sesajian (tanaman yang harus ada di setiap prosesi gawai, dll) sumbernya ada di perempuan. Sementara itu, peran kaum lelaki dalam keberhasilan pencapaian program restorasi lebih kepada

Mereka Perempuan, Mereka Pahlawan: yang Menjaga Keanekaragaman dan Merawat Eksistensi (Bag. I)

Ditulis oleh Abroorza A. Yusra . Seorang pengantar kue.  Revisi terakhir tulisan tanggal 18 September 2020 (Disunting oleh Perempuan Sufi) Semasa berkuliah, saya pernah membuat cerita pendek yang bertemakan feminisme. Kisahnya: tokoh ‘aku’ cerpen pergi ke suatu negara untuk meliput turnamen besar sepakbola. Di sana, bukan melulu soal sepakbola yang ditemukannya, melainkan juga perlawanan ideologis terhadap turnamen tersebut. Para feminis berdemo sambil bertelanjang dada ( topless ). Kata mereka, “Piala Dunia hanya menahbiskan kekuasaan patriarki. Bentuk pialanya saja sudah seperti anu lelaki!” Tokoh ‘aku’ lalu bertemu dengan seorang perempuan senegara. Bukan perempuan yang baru kenal. Dahulu mereka pernah dekat. Bukan sekadar dekat, melainkan teman tapi mesra. Tentu mereka saling terkejut dengan pertemuan tanpa rencana itu. Bagi tokoh ‘aku’, perempuan itu memiliki arti yang sangat mendalam. Memori masa lalu menyeruak kembali mengisi imaji dan otaknya: ketika perempuan itu menjejalinya

Mengenal 4 Jenis Intuisi, Kamu yang Mana?

Beberapa waktu lalu, saya sempat berbicara dengan seorang sahabat terkait intuisi. Lantas, apakah setiap orang memiliki intuisi? Tentu. Tapi, ada orang yang sangat sensitif dan ada yang tidak sehingga tidak semua orang bisa melakukan sebuah tindakan berdasarkan intuisi yang mereka punya. Intuisi sendiri merupakan kemampuan untuk memahami sesuatu tanpa penalaran rasional atau intelektual. Artinya, seseorang bisa saja mengetahui suatu hal tanpa teori lain yang mendahuluinya. Kebanyakan orang menyebutnya sebagai firasat. Jenis-jenis Intuisi © Elizaveta from Pexels Apakah intuisi bersifat akurat? Mengutip Psychology Today , sebuah penelitian mengungkapkan bahwa intuisi tidak hanya lebih cepat dari refleksi, tetapi juga lebih akurat. Hampir setiap manusia bisa menilai seseorang berdasarkan kesan pertama, mulai dari foto, gestur, sampai kata-kata yang diucapkannya. Artinya, intuisi relatif bersifat akurat kalau kita benar-benar memperhatikannya. Menurut psikolog Sascha Topolinski dari Univer