Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2020

Spiritual Awakening, Apakah Kamu Sedang Mengalaminya?

Bagi sebagian orang, istilah spiritual awakening mungkin terdengar asing. Tapi, bisa jadi mereka semua pernah atau bahkan sedang mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah “pencerahan” atau “kebangkitan spiritual”, sebagian lagi menyebutnya “kesadaran spiritual”. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya sebagai kesadaran spiritual karena bagi saya, setiap orang sudah mengalami perjalanan spiritual sejak lahir. Namun, tidak semua orang menyadarinya.  Sebagian orang mungkin akan merasakan kedamaian tersendiri saat mengalaminya, tapi ada juga sebagian orang yang justru merasakan hal-hal lain di luar kendali, seperti merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, kemelut pikiran dan hati, sampai merasakan adanya gangguan mental yang sering kali dianggap sebagai penyakit. Untuk lebih memahaminya, mari kita perjelas dulu batasan kesadaran spiritual ini! Spiritual Awakening © Retha Ferguson via Pexels Apa itu kesadaran spiritual? Ketika seseorang melalui kesadaran s

Menyoal Femmephobia, Menyoal Kemanusiaan

Sejak kecil, saya mendapat doktrin untuk tidak bergaul dengan lesbian karena lesbian itu “menular”. Sejak kecil, lingkungan “mengajari” saya untuk membenci waria karena mereka menyalahi kodrat. Sejak kecil, budaya tempat saya tinggal “menasihati” saya agar menjadi perempuan sempurna agar tidak menjadi hina. Ketika dewasa, saya menemui berbagai macam orang dari berbagai latar belakang sehingga mengalami culture shock saat harus bertemu dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dan orientasi seksual dengan saya. Tapi, pengalaman inilah yang justru mengantarkan saya pada tahap pengenalan kemanusiaan. Pengalaman inilah yang mengajari saya bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya, yang tidak hanya berempati terhadap diri sendiri, tapi juga kepada seluruh makhluk di muka bumi ini. Menyoal Femmephobia © Markus Spiske by Pexels Berawal dari misogini Misogini adalah kebencian atau prasangka yang kuat terhadap kaum perempuan. Mengutip Science Daily , misogini biasanya dilakukan o

Food Waste Bukan Sekadar Isu Lingkungan

Saat masih belasan tahun, saya pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe dekat kampus. Momen inilah yang membuat saya sadar betapa banyaknya orang yang datang dan pergi ke kafe; bukan untuk memesan dan menghabiskan makanan, melainkan untuk memesan dan menyisakan makanan mereka. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bukan tentang bagaimana orang [yang merasa] kaya tidak sayang membuang-buang uang mereka, melainkan kenapa banyak orang yang tidak bisa menghargai dan mensyukuri apa yang sudah mereka dapatkan.  Saat itu, saya berpikir kalau mereka bukan hanya tidak mensyukuri pemberian Tuhan, tetapi juga tidak menghargai apa yang sudah diberikan oleh para koki, barista, dan pelayan di kafe kami. Bagi saya, sisa makanan ( food waste ) bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga isu kemanusiaan dan spiritual. Food Waste Bukan Sekadar Isu Lingkungan © Pexels Tingkat kelaparan di tengah sisa makanan yang terbuang Sebagian besar sampah organik yang dihasilkan manusia berasal

Kenapa Banyak Orang Benci Feminis/me?

Feminisme © Retha Ferguson via Pexels “ Ngapain ngurusin feminisme? Udah nggak zaman tau! ” “ Di Islam itu nggak ada feminisme karena kodrat perempuan dan laki-laki sudah diatur di dalamnya. ” “ Feminisme itu melanggar kodrat, lho! ” Itu cuma sepenggal opini publik yang pernah saya terima ketika sedikit berbincang tentang feminisme bersama beberapa orang teman. Bukan cuma laki-laki, melainkan juga perempuan. Mendengar opini-opini tersebut, saya pun bertanya-tanya dalam hati, “Kenapa banyak orang benci feminis/me?” Dari sekian banyak perbincangan tentang feminisme, saya menemukan beberapa alasan kenapa orang tidak suka atau bahkan membenci feminisme. Orang tersebut tidak benar-benar paham apa itu feminisme. Orang tersebut menyamakan makna “sama” dengan “setara”. Orang tersebut menganggap bahwa kesetaraan gender sudah dicapai. Orang tersebut tidak pernah mendapat stigma atau mengalami diskriminasi. Orang tersebut terbiasa dengan budaya patriarki dan bias gender. A