Skip to main content

Wasilah dari Sarjana Rahim


Saya memiliki seorang adik laki-laki yang sangat manja dan penuh dengan gairah hidup. Penampilannya begitu ceria dan senantiasa tersenyum dalam kondisi apa pun. Sekilas, mungkin orang hanya melihat parasnya saja yang cukup tampan. Tapi, lebih dari itu, ia punya hati yang tidak kalah tampan.
Ibu kami menamainya Hafizh Haq Amarullah, yang artinya pemelihara kebenaran para pemimpin Allah. Dia lahir pada saat usianya di dalam kandungan masih tujuh bulan. Kelahirannya tiba-tiba terjadi sehabis ibu terjatuh di kamar mandi. Untungnya, ia lahir dengan selamat dan tanpa cedera. Ia tumbuh sebagai anak laki-laki periang yang hingga akhir hayatnya sulit mengucapkan popoean (jemuran dalam bahasa Sunda) dan lebih sering menyebutnya popoyan.
Kami tumbuh dalam lingkungan yang sangat baik karena ibu dan ayah mendidik kami dengan penuh cinta sehingga ikatan batin antara saya dengannya terjalin begitu kuat. Dia sedih, saya pun ikut merasakannya. Dia sakit, begitu juga saya.
Dari kecil hingga usianya 13 tahun, dia selalu iri pada saya dan saudara-saudara kami yang lain karena hanya dia yang tidak pernah mendapatkan peringkat satu di kelasnya. Hanya dia yang tidak memiliki kemampuan bernyanyi yang baik, dan hanya dia yang tidak bisa menggambar sketsa apa pun dengan bentuk yang menyerupai bentuk aslinya.
Masih terngiang di telinga saya bagaimana dia bertanya kepada ibu sewaktu kecil, “Bu, kok yang lain juara satu, dede nggak?”, “Bu, kok yang lain bisa nyanyi dan menggambar, dede nggak?”
Ibu saya dengan penuh kasih sayang menjelaskan pada adik saya itu bahwa setiap anak terlahir dengan kemampuan yang berbeda-beda. Untuk membesarkan hatinya, ibu senantiasa berkata, “Kamu kan juara ibu dan ayah.”
Waktu bergulir begitu cepat hingga sampailah pada waktu ketika ibu harus menderita penyakit multiple sclerosis, suatu kondisi imun yang berpengaruh terhadap sel-sel saraf dalam otak dan tulang belakang yang menyebabkan penderita mengalami berbagai macam gangguan hingga disabilitas parah. Sejak saat itu, ibu tidak bisa berjalan dan melakukan kegiatan apa pun dengan mandiri sehingga satu dari kami harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengurusnya seharian penuh.
Saat itu, saya sedang hamil tua, sedangkan adik-adik saya yang lain sedang sekolah dan bekerja. Namun, dengan penuh keikhlasan, Hafizh bersedia merelakan pendidikannya untuk berbakti mengurus ibu kami di rumah. Dia terpaksa menanggalkan statusnya sebagai salah satu siswa berprestasi di Sekolah Menengah Kejuruan terbaik di wilayah kami.
Saat itu, usianya masih 14 tahun. Di saat remaja lain sibuk dengan teman-teman, permainan, dan berbagai hal menyenangkan lainnya, adik saya ditempa dengan ujian hebat ini. Setahun lamanya, dia harus mengurus ibu kami sendirian hingga tahun berikutnya, adik ketiga saya yang menggantikannya untuk mengurus ibu.
Meski terlihat mulus, namun perjalanan psikologis adik saya ternyata tidak semulus yang orang lihat. Ketika kembali masuk sekolah, dia menerima perlakukan yang tidak baik dari teman-teman sekelasnya. Bullying menjadi makanan sehari-hari yang harus diterimanya. Setiap malam, dia harus mengalami rasa panik dan teror atas kesakitan yang diperolehnya selama setahun mengurus ibu kami yang sakit.
Tapi, tidak seorang pun dari kami yang tahu bahwa bullying dan trauma yang dialaminya mampu memicu persoalan psikologis yang lebih besar dari itu. Tiga tahun berlalu, dia pun lulus dari sekolahnya dengan jurusan teater dan nilai yang memuaskan. Ia kemudian diterima sebagai mahasiswa berprestasi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui beasiswa bidik misi. Seluruh keluarga senang dan bangga karena dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang mandiri dan mampu berdikari dalam banyak hal.
Menjadi penari tradisional di berbagai kesempatan pagelaran budaya, menjadi aktor utama di berbagai panggung teater,  menjadi duta bahasa di perguruan tingginya, dan menjadi pemain figuran di beberapa film layar lebar menjadikannya semakin gemilang. Dia tumbuh menjadi anak yang tidak hanya mampu berbagi kasih sayang dengan keluarganya, tapi juga mampu menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.
Tapi, Semesta tidak pernah salah menentukan takdir. Rasa trauma akibat bullying dan teror setiap malam yang melandanya membuatnya semakin lama larut dalam rasa cemas yang berlebihan. Setiap malam, dia dirongrong rasa takut sehingga tidak bisa tidur walaupun sejenak. Obat anti-depressan dan berbagai pil penenang ditelannya habis-habis supaya hilang rasa takut dan kesepian.
Inilah titik awal yang menjadikan ikatan batin kami begitu kuat. Di tengah malam, ketika semua orang terlelap, dia menghubungi saya dan bertanya, “Kenapa kamu terlahir sebagai perempuan kuat, sedangkan aku tidak?”
Baginya, saya adalah kakak perempuan tunggal yang ikut membesarkan dirinya. Baginya, saya adalah arah dan semangat hidup yang mampu menjadikannya sebagai adik sekaligus anak laki-laki yang tangguh.
Tidak perlulah saya ceritakan sekarang tentang bullying yang adik saya terima dari SD hingga kuliah. Kalau pun saya bercerita, itu akan terasa lebih sakit bagi kami. Yang jelas, bullying demi bullying telah menjadikan adik saya menderita anxiety disorder hingga akhir hayatnya.
Setahun sebelum kepergiannya
Hafizh Haq Amarullah
Setahun sebelum kepergiannya, kami pergi bersama ke Yogyakarta. Di kota inilah kami berbagi kisah dari waktu kami kecil hingga dewasa. Kota inilah yang menjadi saksi bagaimana bullying yang adik saya alami sewaktu kecil mampu membuatnya mendapati teror dan mencari perlindungan di setiap penjuru. Bullying berisiko lima kali lipat lebih tinggi menjadikan seseorang menderita anxiety disorder dibandingkan dengan penganiayaan yang dilakukan oleh orang dewasa.
Adik saya terus-menerus mencari perlindungan hingga akhirnya dia sadar bahwa hanya Semesta yang bisa memberinya perlindungan terbaik. Tiga minggu sebelum kepergiannya, ia meminta kami untuk membawanya pulang ke rumah. Tubuhnya menyusut drastis dengan diagnosa kanker usus.
Saya tahu betul bahwa penyakit yang dideritanya bukan semata-mata karena fisiknya yang tidak kuat. Saya tahu betul bahwa sakit yang dideritanya merupakan gangguan psikosimatis yang berawal dari trauma dan rasa cemas berlebihan yang harus ditelannya selama bertahun-tahun. Ya, bertahun-tahun. Hingga akhirnya dia kandas dan memilih untuk pulang.
Pada Jumat, 19 Oktober 2018, di usianya yang ke-21, ia berhasil menyandang gelar Sarjana Rahim bagi Semesta. Ia berhasil menyelesaikan seluruh misi kehidupan duniawi dengan sangat senyap, membahagiakan semua orang. Penuh cinta dan kasih sayang. Pada hari itu, semua ujian telah lulus dilewatinya. Bagi kami, keluarganya, dia telah lulus jadi Sarjana Rahim dengan nilai Suma-Cumlaude.
Selama seminggu, saya menerima ratusan ucapan bela sungkawa dari berbagai pihak. Ada yang mengucap doa, ada yang megucap rindu, ada yang berujar sesal, ada yang bertangis sedih, dan ada pula yang terkagum-kagum karena adik saya telah meninggalkan begitu banyak cerita baik bagi kehidupan orang lain.
Ini bukan cerita duka yang mengajak kamu untuk berlinang air mata. Bukan pula cerita tragis yang mengajak kamu untuk membayangkan kematian dan kesepian yang menyedihkan.
Ini adalah berita tentang bagaimana bullying menjadikan seseorang hidup dalam kesepian, rasa takut, dan ketidakberdayaan selama bertahun-tahun. Adik saya adalah satu dari sekian banyak korban bullying yang cukup kuat untuk terus berjuang melawan rasa sakit dan takut. Meski pada akhirnya, kematianlah yang mencabut semua rasa sakit dan takut yang dideritanya.
Bagi saya, adik saya itu adalah sosok pemuda yang muncul sebagai wasilah dari Tuhan untuk menyampaikan pada kita semua agar bisa menghentikan bullying dalam bentuk apa pun.
Stop bullying dan selamat hari Sumpah Pemuda, Indonesia!

*Tulisan ini dibuat untuk mengenang kepergian adik saya, pemuda yang telah berjuang begitu hebat melawan bullying dan anxiety disorder yang dimilikinya

Comments

  1. Mbrebes mili bacanya
    Enggak nyangka y mb di balik sosok yg terlihat sempurna ada luka yg dalam
    Semoga adik mb diterima di sisi Nya aamiin

    ReplyDelete
  2. Amin. Terima kasih atas doanya. Salam hangat

    ReplyDelete

Post a Comment

Bacaan Populer

Spiritual Awakening, Apakah Kamu Sedang Mengalaminya?

Bagi sebagian orang, istilah spiritual awakening mungkin terdengar asing. Tapi, bisa jadi mereka semua pernah atau bahkan sedang mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah “pencerahan” atau “kebangkitan spiritual”, sebagian lagi menyebutnya “kesadaran spiritual”. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya sebagai kesadaran spiritual karena bagi saya, setiap orang sudah mengalami perjalanan spiritual sejak lahir. Namun, tidak semua orang menyadarinya.  Sebagian orang mungkin akan merasakan kedamaian tersendiri saat mengalaminya, tapi ada juga sebagian orang yang justru merasakan hal-hal lain di luar kendali, seperti merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, kemelut pikiran dan hati, sampai merasakan adanya gangguan mental yang sering kali dianggap sebagai penyakit. Untuk lebih memahaminya, mari kita perjelas dulu batasan kesadaran spiritual ini! Spiritual Awakening © Retha Ferguson via Pexels Apa itu kesadaran spiritual? Ketika seseorang melalui kesadaran s

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath. Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri. Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi. © Pixabay via Pexels Empath dan HSP Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berb

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan.  © Pexels #1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dilahirk

Dalam Penciptaan Hawa, Tuhan Tak Patriarkis

Baru-baru ini, teman baik saya mengirimkan thread Twitter soal Hawa yang mendorong saya untuk kemudian mengenal perempuan pertama di muka bumi ini secara lebih dekat.  Sebagian dari kita mungkin sudah mendengar kisah bagaimana Adam diciptakan dan diperkenalkan kepada makhluk Tuhan lainnya semasa di surga. Bahkan, beberapa literatur menyebutkan bahwa Adam hidup sampai 930 tahun. Lalu, bagaimana dengan Hawa? Bagaimana ia diciptakan, diturunkan ke bumi, sampai akhirnya melahirkan manusia-manusia lainnya di muka bumi ini? © Luis Quintero from Pexels Benarkah Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam? Menurut tradisi Yahudi , Adam dikecam sebelum dia dipertemukan dengan Hawa. Dalam buku abad pertengahan yang berjudul The Alphabet of Ben-Sira, disebutkan bahwa istri pertama Adam adalah Lilith yang marah dan kemudian bersekutu dengan setan sehingga Tuhan mengecamnya dan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Konsep inilah yang kemudian mengonstruksi anggapan bahwa Hawa (perempuan)

Mitos Kecantikan dan Budaya Patriarki dalam Lagu “Aisyah Istri Rasulullah”

© Janko Ferlic from Pexels Sore ini, untuk ke sekian kalinya, telinga saya digandrungi oleh lagu islami berjudul “Aisyah Istri Rasulullah”. Sekilas, nadanya cukup mudah diingat dan terdengar romantis sehingga saya berniat untuk ikut meng- cover lagu tersebut. Seperti biasa, saya akan terlebih dahulu menghafal liriknya sebelum bernyanyi. Sayang seribu sayang, niat saya untuk berpartisipasi memviralkan lagu tersebut terhenti saat menemukan liriknya yang berbunyi kulit putih bersih merahnya pipimu. Kenapa? Dalam buku berjudul The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women , disebutkan bahwa penyebutan kulit putih merupakan salah satu mitos kecantikan yang diproduksi kapitalisme dalam industri kecantikan untuk mengontrol otoritas perempuan atas tubuhnya. Dalam konteks ini, budaya patriarki tidak berupaya mendominasi tubuh perempuan secara fisik, tetapi menghegemoninya secara psikis sehingga banyak perempuan yang terjebak pada mitos putih-itu-cantik . Mitos kecant