Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Stigma Perempuan

Struggles Menjadi Perempuan Berpendidikan di Desa

Penduduk desa biasa dikenal dengan keramahan, keakraban antartetangga, dan solidaritas antara sanak famili. Sebagai perempuan desa nan jauh di belahan bumi Nusantara, saya sudah hafal bagaimana suka duka tinggal di desa. Namun, di sini, saya akan mengupas perihal dukanya saja sebagai bentuk mengeluarkan suara hati yang sedari lama bersembunyi rapat-rapat. Selain itu, tulisan ini juga sebagai bentuk kritikan saya untuk masyarakat pedesaan dengan harapan dapat memutus rantai kebiasaan yang menurut saya cukup meresahkan. Perempuan Desa Berpendidikan ©  Anete Lusina from Pexels Saking solidnya masyarakat pedesaan, terkadang kehidupan orang lain pun turut diurusi. Hal ini tentu saja bukanlah suatu yang tabu bagi masyarakat desa karena memang sudah melekat dan membudaya. Awalnya, saya menganggap hal ini sebagai suatu kewajaran, sampai suatu ketika saya menginap berhari-hari di rumah teman yang ada di kota. Saat itu, saya merasa bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kehidupan di desa...

Janda dan Stigma

Menjadi janda di usia muda tidak lantas membebaskan saya dari stigma. Ada banyak hal yang membuat saya kerap merasa jengah karena ketika mendengar kata “janda”, ada banyak telinga dan mata yang tiba-tiba berubah menjadi agresif. Ada yang tiba-tiba berusaha empatik dengan menanyakan alasan kenapa saya menjanda atau cuma sekadar bilang, “Maaf ya, saya nggak tahu.”; ada yang tiba-tiba berubah jadi serigala dan menawarkan macam-macam “bantuan” yang sebenarnya nggak dibutuhkan, “Kalau butuh teman, hubungi saya aja.”; ada yang pura-pura nggak kenapa-kenapa, tapi di belakang berseliweran kasih info sana-sini; atau ada juga yang berusaha santai-tapi-salah dengan melemparkan lelucon yang sebenarnya tidak layak disampaikan. Mulai dari mengomentari fisik, “Pantesan seksi banget, ya.” sampai mengomentari psikis, “Wah, janda biasanya lebih dewasa nih!” yang pada akhirnya berujung pada stigma “janda itu penggoda”, “janda itu kesepian”, dan macam-macam stigma negatif lain yang memang sudah tumbuh ...

Respon Liris Penyintas Kekerasan dalam Lagu “Perempuan Mati di Bawah Jembatan”

Berdasarkan Catatan Tahunan (Catahu) 2020 Komnas Perempuan , tercatat sebanyak 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi di Indonesia sepanjang 2019. Berdasarkan catatan tersebut, terdapat temuan mencengangkan terkait kasus kekerasan terhadap perempuan.   © Yab Sarpote Dalam kurun waktu 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792% dan kekerasan terhadap anak perempuan meningkat sebanyak 2.341 kasus dengan kasus terbanyak adalah inses dan kekerasan seksual. Sementara itu, kekerasan seksual terhadap perempuan disabilitas naik 47% dibandingkan dengan tahun lalu dan korban terbanyak adalah disabilitas intelektual. Baca juga: Kenapa Perempuan Diam Saat Mengalami Pelecehan Seksual? Angka tersebut merupakan peringatan bagi masyarakat Indonesia untuk terus mendorong pemerintah agar dapat menekan angka kekerasan dan mencegah terjadinya kasus-kasus serupa di masa mendatang. Selain itu, kita sebagai masyarakat juga dituntut untuk terus mengembangka...