Saat pertama kali mendengar kata pelakor , saya berasumsi bahwa istilah tersebut merujuk pada para pelaku korupsi. Lambat laun, istilah tersebut semakin bergema ketika dikumandangkan oleh kaum hawa yang notabene adalah istri-istri atau para perempuan yang lelakinya berselingkuh dengan perempuan lain. Oh, pelakor itu “ perebut laki orang ”. Sejak dulu, perempuan yang menjadi bagian dari kisah cinta lelaki yang telah berpasangan memang selalu mendapat stigma di masyarakat, baik itu sebagai pasangan sah (istri kedua-ketiga-dan seterusnya) maupun bukan. Padahal, tidak sedikit laki-laki yang pasangannya kedapatan berselingkuh, namun tidak serta-merta menjadikan pria idaman lain sang istri sebagai pebikor ( perebut bini orang ). Inilah yang bikin saya merasa bahwa ada yang salah dalam penggunaan dan pemaknaan istilah pelakor. © Pixabay Makna kepemilikan yang keliru Secara morfologis, kata perebut berasal dari kata dasar rebut yang ditambahi imbuhan pe- yang menyatakan p...
Teman berbagi untuk kamu yang ingin, sedang, dan telah berbahagia.