Manusia lahir sudah harus menanggung stigma. Merah muda untuk perempuan, biru untuk laki-laki. Memasuki usia anak-anak, perempuan diajarkan untuk membantu mengurus rumah, sementara laki-laki bermain saja. Memasuki usia remaja, perempuan disuruh bersaing dengan perempuan lain, siapa yang lebih cantik, cerdas, dan menarik. Belum lagi dijejali stigma “wajar laki-laki tak rupawan berpasangan dengan perempuan rupawan” tapi kalau sebaliknya? Heboh bukan main. Stigma Anak Perempuan © Pixabay from Pexels Memasuki usia dewasa, perempuan dituntut jadi dewi. Selain harus bisa mengurusi diri sendiri, mengurusi rumah, mengurusi laki-laki, mengurusi anak, mengurusi mulut tetangga, kalau bisa tetap tampil cantik kapan pun dan di mana pun. Akan selalu ada pembanding. Usahanya seakan tak pernah cukup. Sementara laki-laki? Ya nggak apa-apa, namanya juga laki-laki. Bukankah kita sering melihat konten media sosial yang saling menjatuhkan sesama perempuan? Dialog seperti, “Jadilah cewek yang serbabisa...
Teman berbagi untuk kamu yang ingin, sedang, dan telah berbahagia.