Skip to main content

Posts

Apakah Kekayaan Mengubah Manusia Menjadi Jahat?

Beberapa waktu ke belakang, mungkin kita amat sering mendengar berita-berita tentang kejahatan. Mulai dari kejahatan yang remeh-temeh, seperti maling ayam tetangga, sampai kejahatan luar biasa (yang oleh sebagian besar masyarakat global kini sudah dianggap biasa saja), seperti maling uang rakyat. Melihat dunia yang makin carut-marut, sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya: “masih adakah manusia kaya raya yang juga kaya hati?” Dulu, saya bercita-cita menjadi orang kaya supaya bisa menolong sesama yang miskin papa dan menciptakan dunia yang tak lagi nestapa. Namun, ternyata menjadi kaya raya dan baik hati sering kali tidak bisa jalan beriringan. Saat kondisi finansial saya mulai meroket, kadang saya menjadi alpa dengan niat awal saya menjadi kaya. Sering kali saya menjadi buta dalam melihat kemiskinan sesama, hingga akhirnya Tuhan menjatuhkan saya berkali-kali ke lubang yang sama: kemiskinan harta. Beberapa kali saya mencoba bangkit untuk kembali membenahi niat baik menjadi kaya. Namu...
Recent posts

5 Zodiak Ini Akan Memasuki “Babak Baru” dalam Hidup di Tahun 2026

Gimana rasanya berhasil melewati tahun 2025? Kalau masih sedih, kesal, kecewa, dan marah, nggak apa-apa. Ada kalanya semesta sengaja “mengacak-acak” hidup kita hanya untuk menyusunnya kembali menjadi pola yang lebih indah. Jadi, jangan terlalu larut ya karena 2026 akan jadi babak baru yang menuntun kita untuk lebih baik ke depannya. Zodiak di Tahun 2026 © Timur Kozmenko from Vecteezy Kalau dilihat dari polanya, tahun 2026 diprediksi akan menjadi titik balik besar bagi banyak orang. Namun, para astrolog meramalkan bahwa ada lima zodiak khusus yang akan mengalami perubahan hidup yang sangat mendalam. Dengan pergeseran planet utama, termasuk pergerakan Saturnus di Pisces dan perjalanan Jupiter menuju Virgo, energi tahun 2026 akan sangat mendukung pertumbuhan, realisasi diri, dan transformasi jangka panjang. Transformasi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari karier, hubungan, sampai identitas pribadi, yang mendorong introspeksi diri yang dalam dan keberanian untuk memulai hal baru. Berik...

Surat untuk Matilda

Ini bukan surat biasa, melainkan ruang sunyi yang ingin saya buka, untuk seseorang yang pernah memanggil saya “Matilda”. Surat untuk Matilda © 123rf Suatu malam, kami pernah berbicara dari hati ke hati tentang luka dan rasa sakit yang pernah kami alami. Saya ingat betul ketika dia berkata, “Selama ini aku selalu kepingin jadi Matilda. Tapi, hari ini, aku ketemu kamu kok rasanya seperti ketemu Matilda ya.” Sejak saat itu, obrolan seputar Matilda menjadi sesuatu yang menarik bagi kami. Baginya, Matilda adalah sosok yang diharapkan bisa menjadi dirinya. Bagi saya, Matilda adalah sosok unik yang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan rasa kami. Kini, setelah kepergiannya, kalimat itu terngiang kembali. Rasanya seperti pesan terakhir yang dititipkannya sebelum ia benar-benar hilang. Perkenalan yang Bukan Kebetulan Sebut saja ia Matilda, atau M. Saya dan M terpaut usia 10 tahun. Namun, kami tidak pernah merasa bahwa usia adalah penghalang bagi kami untuk bisa berbagi banyak hal. Perkenal...

The Power of Walking: Tersesat di Jalan Kebenaran

Bagi sebagian orang, berjalan kaki mungkin merupakan aktivitas yang cukup melelahkan dan membosankan. Apalagi jika orang-orang tersebut memiliki waktu yang sangat sempit untuk mengejar sesuatu, bisa dipastikan bahwa mereka akan lebih memilih menggunakan kendaraan ketimbang berjalan kaki.  Namun, bagi saya, berjalan kaki bukan hanya bergerak melangkahkan kaki dengan tujuan tertentu. Berjalan kaki adalah seni melepaskan emosi yang baru saya tahu ternyata juga memiliki banyak manfaat secara intelektual dan spiritual. The Power of Walking © Andrea Piacquadio from Pexels Ketika saya merasa marah dengan suatu keadaan atau emosi negatif lainnya, saya memilih untuk menghabiskan waktu dengan berjalan kaki tanpa tujuan ketimbang menghabiskan energi untuk memendam kemarahan dengan berdiam diri di rumah. Saat berjalan kaki melintasi suatu tempat, saya tidak hanya melihat bagaimana tempat itu berdiri, tapi juga merasakan bagaimana energi yang ada di sekitarnya. Begitu juga ketika saya bertemu d...

Korea Selatan yang Terus Maju, Indonesia yang Terus… (Isi Sendiri)

Sebelum drama Korea se- booming sekarang, saya sudah cukup aktif menonton drama Korea di televisi. Selain karena kualitas pemainnya yang bagus, saya juga melihat perfilman Korea terus berkembang pesat dibandingkan pertama kali saya menonton Endless Love yang diperankan Song Hye Kyo dan Song Seung Heon pada awal 2000-an.  Drama Korea Selatan © Arina Krasnikova from Pexels Meski terbilang mampu menghanyutkan perasaan penonton, beberapa drama Korea awal 2000-an bagi saya masih terasa sangat kaku, baik dari segi alur maupun score- nya (musik yang mengiringi tiap adegan). Sebut saja Winter Sonata, Hotelier, dan Lovers in Paris, yang juga dirilis di era yang sama dengan Endless Love, yang cenderung menghadirkan film bernuansa romantis dengan jalan cerita yang sebenarnya begitu-begitu saja. Kalau tidak tentang anak dan orang tua, ya tentang cinta segitiga. Intinya, masih terasa William Shakespeare sentrislah. Sementara itu, saya juga merasa serial drama Korea yang sudah saya sebutkan di ...