Saya masih ingat bagaimana dedaunan dan alang-alang yang saya sentuh ketika saya berusia tujuh tahun mampu membuat mood yang saat itu berantakan seketika berubah menjadi relaksasi menyenangkan. Berjibaku dengan setumpuk pekerjaan rumah dari guru-yang-terlihat-sempurna-nyatanya-tidak, omelan orang tua-yang-ingin-terlihat-sempurna di mata anak mereka, serta ejekan teman-teman yang merasa-diri-mereka-sempurna adalah hal yang melelahkan. Setiap kali lelah itu datang, saya kembali menyapa dedaunan dan alang-alang. Jika sepulang sekolah teman-teman biasa bermain petak umpet di tanah lapang, maka saya akan asyik bersentuhan dengan pepohonan di ladang belakang sekolah. Inilah momen pertama kali saya merasa bahwa kesepian bisa terobati hanya dengan sentuhan dedaunan dan pepohonan. Membayangkan mereka sebagai teman-teman menjadi kebiasaan baru bagi saya saat itu. Dalam benak saya, merekalah teman yang selalu hadir di saat saya merasa sedih: dedaunan dan pepohonan. Manusia, pohon, dan kehidupan ©...
Teman berbagi untuk kamu yang ingin, sedang, dan telah berbahagia.