Skip to main content

Review GoMassage: Relaksasi Sambil Berbagi Inspirasi

Beberapa waktu lalu, tubuh saya terasa sangat lelah. Bukan cuma lelah fisik, melainkan juga pikiran. Saya merasa lelah karena harus bekerja keras untuk memenuhi biaya sekolah adik-adik dan juga pengobatan ibu saya tanpa ada sedikit pun waktu untuk berjeda dengan diri sendiri. Jika bukan karena mereka, mungkin saya sudah lama hengkang dari Ibu Kota yang penuh penat ini. Ah, daripada terus mengeluh, ada baiknya saya melakukan relaksasi. 
Tapi, jangankan mengeluarkan uang untuk pergi ke tempat spa. Menghabiskan waktu selama dua jam di coffee shop saja rasanya sudah terlalu boros bagi saya.
Di kampung tempat ibu saya tinggal, tukang pijat keliling biasa dibayar maksimal Rp50 ribu. Itu pun sudah dibilang baik hati dan tidak sombong. Lah, di Jakarta, saya harus berpikir seribu kali untuk membayar tukang pijat karena harganya yang menurut saya tak masuk akal.
Selagi melenguh dan mengeluh kelelahan, teman kos saya menyambar, “panggil GoMassage gih!”
Saya terdiam. Masih berpikir, mahal nggak ya?
Sampai penghujung senja, saya masih saja mengeluh pegal sana-sini tanpa ada aksi panggil tukang pijat. Tapi, teman kos lagi-lagi meyakinkan saya bahwa sudah saatnya tubuh saya mendapatkan perawatan. “Sekali-kali mahal buat kesehatan nggak apa-apa, toh?”
Akhirnya, setelah berpikir dua ribu kali, saya pun memesan GoMassage selama 90 menit dengan tarif Rp115 ribu dan berharap terapisnya bisa mengeluarkan semua penat di pikiran dan juga tubuh saya.
Bekerja dengan Hati
Ya, memang ada lagunya. Bekerja bersama hati, kita ini insan bukan seekor sapi. Begitulah nasib saya kali ini, merasa seperti seekor sapi. Menghadapi lelah yang tak bertepi.
Selang 15 menit saya memesan GoMassage, hari semakin petang. Tapi, terapis belum juga datang. Saya merasa kesal dan hampir ingin meledak. Beberapa menit kemudian, terapis pun datang. Saya sudah pasang muka cemberut, tapi terapis datang dengan wajah penuh keceriaan. “Malam, Mbak. Maaf ya datangnya lama, tadi salat dulu.”
Seketika, wajah saya beringsut dari cemberut penuh kerut jadi sumringah cerah. “Ya, nggak apa-apa.”
Mbak terapis pun langsung meminta izin untuk mencuci tangannya sebelum memijat. Setelah itu, ia pun mulai memijat kaki saya.
© Pixabay via Pexels
Oh iya, saya sendiri sebenarnya termasuk orang yang dianugerahi kemampuan memijat oleh Semesta. Makanya, saya sering kali ragu jika harus mendapat pijatan dari orang lain karena tidak semua orang pandai dan tahu cara memijat dengan baik dan benar. Tapi, kali ini, saya benar-benar merasa harus dipijat. Makanya, saya memaksakan diri untuk panggil GoMassage.
“Kalau kurang keras atau terlalu keras bilang ya, Mbak.” ucapnya sebelum memijat.
Sentuhan pertama, saya langsung merasa cocok. Dalam hati pun saya merasa girang, “Wah, akhirnya nemu juga tukang pijat enak.”
Seperti ada chemistry di antara kami, si Mbak terapis pun mulai bertanya, “sering panggil GoMassage?”
Nggak, Mbak. Soalnya saya belum percaya kalau orang lain bisa mijat saya,” jawab saya jujur.
Cerita pijat memijat pun bergulir begitu saja. Ternyata, saya dan Mbak terapis ini sama-sama pandai memijat sehingga terkadang sulit untuk menemukan orang lain yang juga pandai memijat kalau badan sudah mulai terasa penat.
Saat memijat bagian telapak kaki, sontak saya merasa kesakitan. “Ini usus halusnya kurang sehat, Mbak,” ujarnya.
Mendengar pernyataan tersebut, saya semakin yakin kalau Mbak terapis ini memang punya kemampuan healing yang sama seperti saya karena tidak semua orang tahu titik mana mengarah ke bagian tubuh yang mana.
Dari situlah kami mulai bercerita tentang latar belakang masing-masing. Mulai dari kami yang sama-sama berasal dari Tanah Sunda, dia yang sehari-hari bekerja sebagai guru TK dan saya yang juga pernah bekerja sebagai guru TK, sampai dia yang memutuskan untuk mengangkat anak asuh karena sudah lima tahun menikah dan belum juga dikaruniai anak.
“Yang penting bekerja dengan hati. Apa pun saya jalani,” ungkapnya sambil tersenyum.
Mendengar ucapannya, lelah saya pun berkurang. Saat itu, saya sadar bahwa bukan cuma saya yang harus merasa lelah karena banting tulang demi keluarga. Ada ribuan, bahkan jutaan orang di seluruh penjuru Nusantara yang mungkin harus berperang melawan rasa lelah agar mereka bisa bekerja dengan hati demi orang-orang yang dicintai.
Tiga Jam Penuh Cerita
“Alhamdulillah, sekarang saya sudah punya anak. Tapi, saya tetap sayang sama anak asuh saya. Cuma, takut aja kalau nanti dia tahu saya bukan ibunya, dia malah sakit hati.” Begitulah perempuan berusia hampir 40 tahunan itu bercerita sambil memijat bagian bahu saya.
Nggak apa-apa, Mbak. Anak juga tahu mana yang sayang mana yang nggak,” jawab saya menenangkan.
Dari sekadar cerita tentang pekerjaan, lama-lama kami bercerita tentang bagaimana seorang perempuan wajib berpendidikan dan memiliki soft skill untuk bisa bertahan hidup di era globalisasi ini. Dia yang guru TK dan memilih menghabiskan sisa waktunya untuk memijat; saya yang dulunya guru TK dan memilih bekerja sebagai penulis. Ada benang merah terjalin antara cerita kami: kami adalah perempuan yang sama-sama berjuang bukan demi diri sendiri, melainkan agar bisa menjadi orang yang berguna bagi lingkungan.
“Mudah-mudahan, pijatan saya bisa membantu orang-orang yang lagi sakit untuk jadi sembuh.”
Lagi-lagi saya tersenyum. “Mudah-mudahan, tulisan saya juga berguna buat orang yang baca.”
Kami sama-sama tersenyum, saling berbagi energi positif, dan sampai lupa kalau waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam.
Ponsel si Mbak pun berbunyi. “Waduh, saya lupa waktu! Ini udah tiga jam ternyata,” ujarnya sambil mengangkat telepon dari suaminya.
Saya tertegun karena waktu tiga jam terasa begitu singkat. Padahal, saya cuma memesan GoMassage untuk dua jam saja. Tapi, Mbak terapis ini bisa sampai lupa waktu begitu.
Kali ini, saya tidak akan membagikan review GoMassage tentang berapa tarifnya dan bagaimana cara memesannya lewat aplikasi karena kamu bisa langsung memahaminya begitu membuka aplikasi GoLife. Tampilannya yang simpel namun estetis memudahkan kita untuk menemukan pencarian layanan apa yang kita butuhkan.
Kalau soal tarif, mungkin awalnya saya pikir itu mahal. Tapi, setelah mendapatkan pengalaman ini, saya merasa bahwa inspirasi dan komunikasi jauh lebih mahal dari apa pun.
Di review GoMassage ini, saya cuma ingin berbagi cerita tentang bagaimana teknologi tidak hanya mengubah cara manusia mendapatkan kemudahan dalam mengakses sesuatu, tapi juga bisa mendapatkan beragam inspirasi dari setiap interaksi yang kita lakukan lewat koneksi dan aplikasi.
Menutup pertemuan saya dan Mbak terapis GoMassage ini, kami pun bersalaman dan saling bertukar energi positif. Tubuh dan pikiran saya tidak lagi terasa lelah. Semangat saya kembali bergelora. 
Sepulangnya Mbak terapis, saya baru sadar kalau kami belum sempat berkenalan. Saya buka kembali aplikasi GoLife dan melihat nama yang tertera di history: Eti Sumiati. Benar kata William Shakespeare: apalah arti sebuah nama, jika yang kita bagi sudah lebih dari sekadar nama.
Terima kasih Mbak Eti Sumiati yang selalu bekerja dengan hati tanpa kenal waktu dan henti! Terima kasih GoMassage karena telah menjadi ruang untuk kami berbagi inspirasi!
*Saya nggak sempat foto bareng Mbak Eti karena sudah terlalu malam dan dia pun sudah buru-buru pulang. Mungkin, besok-besok Semesta mempertemukan kami kembali 😊

Comments

Bacaan Populer

Wasilah dari Sarjana Rahim

Saya memiliki seorang adik laki-laki yang sangat manja dan penuh dengan gairah hidup. Penampilannya begitu ceria dan senantiasa tersenyum dalam kondisi apa pun. Sekilas, mungkin orang hanya melihat parasnya saja yang cukup tampan. Tapi, lebih dari itu, ia punya hati yang tidak kalah tampan. Ibu kami menamainya Hafizh Haq Amarullah, yang artinya pemelihara kebenaran para pemimpin Allah. Dia lahir pada saat usianya di dalam kandungan masih tujuh bulan. Kelahirannya tiba-tiba terjadi sehabis ibu terjatuh di kamar mandi. Untungnya, ia lahir dengan selamat dan tanpa cedera. Ia tumbuh sebagai anak laki-laki periang yang hingga akhir hayatnya sulit mengucapkan popoean (jemuran dalam bahasa Sunda) dan lebih sering menyebutnya popoyan. Kami tumbuh dalam lingkungan yang sangat baik karena ibu dan ayah mendidik kami dengan penuh cinta sehingga ikatan batin antara saya dengannya terjalin begitu kuat. Dia sedih, saya pun ikut merasakannya. Dia sakit, begitu juga saya. Dari kecil hingga usianya 13 ta…

Yang Mahal dari Agensi Digital

Saya bukan orang yang memahami digital sepenuhnya. Bahkan, bisa dibilang, saya adalah orang gagap teknologi yang berjodoh dengan dunia digital. Sejak 2012, saya berkecimpung di dunia media digital. Lalu, pada 2016, saya pindah haluan ke agensi digital. Sama seperti orang awam lainnya, saya cukup terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa uang yang harus dikeluarkan untuk menjalankan sebuah bisnis dengan konsep dan strategi digital tidaklah kecil (malah bisa dibilang mahal sih, ya!). Dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan calon klien yang menilai bahwa biaya yang harus mereka keluarkan jika menggunakan jasa agensi digital berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan jika mereka menjalankan strategi digital sendiri (ya iyalah, bikin bakso sendiri juga pasti lebih murah daripada beli bakso di warung Pak Kumis). Itu analogi awamnya. Kalau jawaban teknis dan praktisnya, silakan tanya pada ahlinya. (Lah, terus saya mau nulis apa?) Kali ini, saya tidak akan membahas apa …

Kemelut Soal Tagar #KamiTidakTakut dan Kutukan buat Terorisme

Sejak kecil, saya punya kemampuan mendapatkan energi berlebih dari Semesta; baik energi positif maupun negatif. “Kelebihan” ini membuat teman-teman kadang menjuluki saya sebagai cenayang atau orang malang yang energinya kalang kabut gegara bisa mencecap energi lain di tengah malam. Seperti halnya malam sebelum tragedi peledakan bom di Surabaya, hati saya berkemelut. Saya menangis sejadinya dan merasakan bahwa sesuatu yang besar di negeri ini akan terjadi. Lalu, BOOM! Apakah peristiwa ini membuat saya berhenti gelisah? Tidak. Saya semakin gelisah, apalagi setelah keesokan harinya melihat timeline media sosial saya dipenuhi dengan tagar #KamiTidakTakut dan kutukan terhadap terorisme dan pelakunya. Tidak sedikit orang yang menilai para pelaku teror sebagai “bukan manusia”. Lalu, semanusia apakah kita?

#KamiTidakTakut, benarkah? Pertama, saya akan membahas tagar #KamiTidakTakut yang begitu viral. Apakah kita benar-benar tidak takut atau justru tagar itu merupakan salah satu mekanisme pertaha…