Skip to main content

Dear Empath, Ini 5 Cara Supaya Kamu Nggak Kewalahan!

Menjadi seorang empath tentu bukan hal yang mudah. Bisa merasakan energi semesta dan harus menghadapi energi itu sendirian adalah hal yang melelahkan. Bahkan, orang-orang terdekat pun bisa jadi kewalahan saat harus menghadapi emosi empath yang bisa berubah dalam waktu sekejap.
Dari sekian banyak tulisan yang saya buat, banyak pesan masuk yang berisi soal bagaimana cara terbaik bagi para empath untuk mengelola energi. Oke, saya sendiri sebenarnya belum cukup matang untuk bisa memberikan panduan. Tapi, mari kita lakukan apa yang sudah saya sering lakukan dan mari kita coba insight dari referensi para empath yang pernah saya baca.
Supaya Empath Tidak Kewalahan
© Pexels

#1: Jangan jadikan meditasi sebagai senjata!
Banyak literatur yang menyarankan para empath untuk membuat “perisai” diri dengan bermeditasi dan membayangkan cahaya berwarna putih untuk melindungi tubuh dan jiwa kita dari “serangan” energi negatif. Tapi, membuat perisai dan bermeditasi juga butuh energi. Kalau kita sudah kewalahan, pasti akan sangat lelah untuk bisa sekadar diam sekejap membentuk perisai tersebut. 
Oleh karena itu, jangan jadikan meditasi sebagai senjata. Tapi, jadikan meditasi sebagai ritual keseharian sehingga lambat laun, perisai itu terbangun dengan sendirinya tanpa harus dibangun dalam waktu semalam atau beberapa detik sebelum kita merasa kewalahan.
#2: Hapus semua hubungan toxic
Memiliki pasangan dan banyak teman adalah hal yang sempurna. Tapi, jika mereka menjadi penghalang bagi kamu untuk maju dan mencintai diri sendiri, saatnya menghapus mereka dari daftar orang-orang terpenting dalam hidupmu.
Kalau seorang teman sering datang dan mengeluh, serta membuat hidupmu berantakan, tidak ada cara lain selain membuat jarak yang tepat. Bukan berarti memusuhi, tapi menjaga jarak. Kamu hanya perlu menjaga emosi diri sendiri supaya tidak terlibat terlalu dalam dengan emosi yang dimilikinya. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah mengenali perasaan dan energimu sendiri.
#3: Terima anugerah semesta
Menjadi normal atau pura-pura normal adalah hal yang menyebalkan. Apalagi, ketika kamu mengetahui apa yang orang lain tidak ketahui. Jadi, terimalah kemampuan empath kamu sebagai anugerah untuk membuat hidup kamu dan orang lain menjadi lebih baik.
Saat ada orang mendatangimu, jangan anggap itu sebagai beban. Jika memang kamu bisa menghadapinya, hadapilah. Jika tidak, jangan ragu untuk menolak dengan alasan yang tentu saja bisa dimengerti.
Dulu, saya adalah orang yang sulit menolak permintaan orang lain. Tapi, berpura-pura baik-baik saja saat merasa capek jauh lebih melelahkan daripada menolak dan mengatakan apa yang saya rasakan. Jadi, terima dan jujurlah!
#4: Jangan berharap untuk dipahami
Mungkin kita bisa dengan mudah memahami orang lain. Tapi, orang lain belum tentu bisa melakukan hal yang sama.
Mengutip laman blog seorang empath bernama Colette Davenport, disebutkan bahwa empath membentuk sekitar 15-20 persen populasi dunia. Tapi, tidak semua empath menganggap kemampuan menyerap energi semesta yang dimilikinya sebagai sebuah anugerah. Banyak juga empath yang mencoba untuk membuat lingkungan sekitarnya mengerti kondisi personalnya.
Masalahnya, orang-orang di sekeliling kita belum tentu punya sensitivitas seperti kita. Jadi, daripada capek-capek membuat orang lain memahami apa yang kita rasakan, lebih baik kita pahami diri kita sendiri sehingga kita mengetahui cara terbaik untuk memperlakukan diri sendiri saat merasa kelelahan.
Sebagai contoh, saya selalu merasa lebih rileks ketika berdiam diri di kamar atau berjalan sendirian tanpa tujuan. Awalnya, orang-orang terdekat saya marah atau sedih ketika melihat saya begitu. Tapi, saya bilang pada mereka bahwa inilah cara saya “menyelamatkan” energi saya. Sekarang, mereka pun mengerti dan memberikan ruang yang cukup bagi saya untuk bisa menyendiri.
#5: Bersyukur
Bersyukur adalah jurus ampuh membiarkan kelelahan berubah menjadi kedamaian. Saat merasa lelah karena energi yang keluar masuk seenaknya, tuliskan hal-hal baik yang terjadi pada hari ini. Dengan begitu, kamu akan melihat bagaimana semesta berbicara dan menganugerahi hal-hal yang tidak orang lain dapatkan.

Comments

Bacaan Populer

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath. Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri. Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi. Empath dan HSP Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berbeda, menyadari bagaimana perasaan orang …

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan. 
#1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dilahirkan dengan tingkat intelektu…

Spiritual Awakening, Apakah Kamu Sedang Mengalaminya?

Bagi sebagian orang, istilah spiritual awakening mungkin terdengar asing. Tapi, bisa jadi mereka semua pernah atau bahkan sedang mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah “pencerahan” atau “kebangkitan spiritual”, sebagian lagi menyebutnya “kesadaran spiritual”. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya sebagai kesadaran spiritual karena bagi saya, setiap orang sudah mengalami perjalanan spiritual sejak lahir. Namun, tidak semua orang menyadarinya.  Sebagian orang mungkin akan merasakan kedamaian tersendiri saat mengalaminya, tapi ada juga sebagian orang yang justru merasakan hal-hal lain di luar kendali, seperti merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, kemelut pikiran dan hati, sampai merasakan adanya gangguan mental yang sering kali dianggap sebagai penyakit. Untuk lebih memahaminya, mari kita perjelas dulu batasan kesadaran spiritual ini!
Apa itu kesadaran spiritual? Ketika seseorang melalui kesadaran spiritual, seluruh dunia di luar fisik atau bisa kita sebut sebag…

Mitos Kecantikan dan Budaya Patriarki dalam Lagu “Aisyah Istri Rasulullah”

Sore ini, untuk ke sekian kalinya, telinga saya digandrungi oleh lagu islami berjudul “Aisyah Istri Rasulullah”. Sekilas, nadanya cukup mudah diingat dan terdengar romantis sehingga saya berniat untuk ikut meng-cover lagu tersebut. Seperti biasa, saya akan terlebih dahulu menghafal liriknya sebelum bernyanyi. Sayang seribu sayang, niat saya untuk berpartisipasi memviralkan lagu tersebut terhenti saat menemukan liriknya yang berbunyi kulit putih bersih merahnya pipimu. Kenapa? Dalam buku berjudul The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women, disebutkan bahwa penyebutan kulit putih merupakan salah satu mitos kecantikan yang diproduksi kapitalisme dalam industri kecantikan untuk mengontrol otoritas perempuan atas tubuhnya. Dalam konteks ini, budaya patriarki tidak berupaya mendominasi tubuh perempuan secara fisik, tetapi menghegemoninya secara psikis sehingga banyak perempuan yang terjebak pada mitos putih-itu-cantik. Mitos kecantikan sendiri merupakan bagian dari alat femin…

Karena KB adalah Hak Segala Bangsa

Dulu, sebagian keluarga saya selalu menentang program Keluarga Berencana (KB) karena menganggap hal itu sebagai cara manusia menentang takdir. Sementara itu, sebagian keluarga saya yang lain menganggap bahwa KB adalah hal yang harus dilakukan untuk mengurangi beban mental dan finansial keluarga. Tapi, bukankah nasib dan takdir itu berbeda? Ya, kadang-kadang, ada yang takdirnya memang harus punya banyak anak, tapi hidupnya enak. Tapi, ada juga yang anaknya cuma satu, tapi takdirnya sudah buntu. Pada akhirnya, manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Absolutely. Di tulisan ini, saya tidak akan membahas soal perlu atau tidaknya KB. Saya hanya akan bercerita soal populasi dunia yang semakin lama semakin bertambah. World Economic Forum menyatakan bahwa populasi dunia bertambah sebanyak 83 juta jiwa setiap tahunnya. Saat ini, sudah ada sekitar 7,6 miliar orang di dunia. Tapi, tren populasi di dunia tidaklah sama. Beberapa negara berkembang dengan cepat sehingga populasi semakin bany…