Skip to main content

Food Waste Bukan Sekadar Isu Lingkungan

Saat masih belasan tahun, saya pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe dekat kampus. Momen inilah yang membuat saya sadar betapa banyaknya orang yang datang dan pergi ke kafe; bukan untuk memesan dan menghabiskan makanan, melainkan untuk memesan dan menyisakan makanan mereka.
Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bukan tentang bagaimana orang [yang merasa] kaya tidak sayang membuang-buang uang mereka, melainkan kenapa banyak orang yang tidak bisa menghargai dan mensyukuri apa yang sudah mereka dapatkan. 
Saat itu, saya berpikir kalau mereka bukan hanya tidak mensyukuri pemberian Tuhan, tetapi juga tidak menghargai apa yang sudah diberikan oleh para koki, barista, dan pelayan di kafe kami. Bagi saya, sisa makanan (food waste) bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga isu kemanusiaan dan spiritual.
Limbah Makanan
Food Waste Bukan Sekadar Isu Lingkungan © Pexels
Tingkat kelaparan di tengah sisa makanan yang terbuang
Sebagian besar sampah organik yang dihasilkan manusia berasal dari sisa-sisa makanan. Mulai dari kulit buah dan sayuran, tulang-belulang, makanan kedaluwarsa, sampai sisa makanan yang tidak habis karena kekenyangan atau sekadar lapar mata.
Tahukah kamu berapa banyak sisa makanan yang kamu hasilkan dalam sehari?
Menurut waste4change.com, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyebutkan bahwa sekitar sepertiga atau 1,3 miliar ton makanan yang diproduksi di dunia setiap tahunnya terbuang sia-sia.
Di Indonesia, hampir 13 juta ton makanan terbuang setiap tahunnya. Padahal, jumlah tersebut bisa memberi makan sekitar 28 juta orang, yaitu jumlah yang sama dengan tingkat kelaparan di Indonesia.
Sisa makanan dan tradisi resepsi pernikahan
Sampah organik adalah salah satu penyumbang terbesar pemanasan global. Mirisnya, meskipun Amerika dianggap sebagai negara konsumtif, warganya hanya membuang hampir 277 kilogram makanan per kapita setiap tahunnya (2016). Indonesia justru membuang lebih dari itu, yaitu sekitar 300 kilogram per orang setiap tahunnya. Lalu, ada Arab Saudi sebagai negara dengan jumlah penyumbang sampah organik terbanyak, yaitu hampir 427 kilogram makanan per orang setiap tahun.
Kenapa Indonesia dan Arab Saudi membuang begitu banyak makanan? Salah satu alasannya terletak pada tradisi upacara atau resepsi pernikahan yang berlebihan. Faktanya, 90 persen makanan yang dipasok selama upacara atau resepsi pernikahan di kedua negara tersebut berakhir di tempat sampah.
Penyumbang terbesar pemanasan global
Bukan cuma sampah plastik, sampah organik juga menjadi penyumbang terbesar pemanasan global. Padahal, pengelolaan sampah organik yang benar bisa sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kita bisa mengolahnya menjadi kompos untuk menyuburkan tanah, makanan bergizi bagi hewan peliharaan, dan sumber energi terbarukan (biogas).
Sayangnya, banyak orang memilih untuk membuangnya ke tempat sampah dan membiarkan sampah organik berbaur dengan sampah lain sehingga menimbulkan reaksi anaerobik yang menghasilkan gas metana berbahaya bagi lapisan ozon.
Implikasi religius dan spiritual
All faith communities recognize that food is miraculous.
Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas, membuang-buang makanan bukan sekadar isu lingkungan. Ini juga merepresentasikan seberapa besar rasa syukur yang bisa kita ungkapkan kepada Maha Pencipta dan Semesta yang telah memberi kita kehidupan. 
Dalam konteks religius, beberapa agama mengaitkan membuang makanan dengan nilai-nilai keagamaan dan spiritual.
Dalam tulisan ini, saya hanya akan membahas implikasi religius dan spiritual dalam isu food waste terkait empat agama besar yang ada di dunia. Kalau kamu mau menambahkan, silakan tulis di kolom komentar ya!
#1: Nilai-nilai religius dalam Alquran
Di dalam Islam, makanan dianggap sebagai bagian dari harta sehingga membuang-buangnya sama saja dengan menyia-nyiakan harta. Hal ini terdapat dalam ayat Alquran dan hadis berikut:
Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra: 26-27)
Sesungguhnya Allah membenci kalian karena tiga hal: kata-katanya (berita dusta), menyia-nyiakan harta, dan banyak meminta.” (HR. Bukhari)
#2: Nilai-nilai kemanusiaan dalam Injil
Sementara itu, terdapat seruan dalam Injil untuk mengelola sisa makanan dan bertanggung jawab terhadap orang-orang yang miskin dan kelaparan di sekitar kita yang berbunyi:
"Dan setelah mereka kenyang, Ia berkata kepada murid-murid-Nya: Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." (Yohanes 6:12)
Dalam Audiensi Umum 2013, Paus Francis menyampaikan beberapa komentar yang jelas tentang bagaimana konsumerisme telah membuat manusia terbiasa dengan pemborosan makanan sehingga tidak mampu memberikan keadilan sosial bagi masyarakat lainnya. Menurutnya, membuang makanan sama saja dengan mencuri dari orang miskin dan kelaparan.
Consumerism has accustomed us to waste. But throwing food away is like stealing it from the poor and hungry.” – Pope Francis
#3: Nilai-nilai spiritual dalam ajaran Buddha dan Hindu
Dalam ajaran Buddha, ada yang dinamakan mindful eating atau intuitive eating, yaitu bagaimana memperlakukan makanan dengan baik. Ajaran ini tidak melarang memakan apa pun, tetapi lebih berfokus pada bagaimana menikmati makanan bukan secara emosional, melainkan spiritual.
Inti ajaran ini adalah bagaimana manusia bisa memaknai setiap makanan tanpa mengonsumsinya secara tergesa-gesa, tidak diselingi dengan kegiatan lain (seperti bermain gadget), merasa cukup dengan apa yang dimakan, dan membina kedekatan spiritual dengan sumber makanan.
Mengutip zerowasteadventures.com, makan perlahan-lahan membuat kita mengunyah dengan lebih baik. Anjuran mengunyah 30 kali sebelum ditelan akan membuat kita menikmati setiap gigitannya, merasakan tekstur makanan yang dikonsumsi, dan memberikan efek kenyang yang lebih lama.
Lebih dari itu, mindful eating juga membuat kita lebih menghargai makanan (mulai dari siapa yang menanamnya, berapa jauh perjalanan yang harus ditempuh agar makanan tersebut sampai ke hadapan kita, hingga membuat kita merasa cukup.
Dalam thecounter.org, disebutkan bahwa salah satu teks keagamaan utama dalam kepercayaan Hindu menyatakan kalau "semua makhluk hidup" adalah "perluasan" dewa Krishna. Menyia-nyiakan semua yang ada di bumi, termasuk makanan, merupakan tindakan yang hina secara spiritual. 
Hal ini sejalan dengan mindful eating dalam ajaran Buddha. Bahkan, Gopal Patel dari kelompok The Bhumi Project, mengatakan kalau pendekatan tersebut sejalan dengan ajaran Islam, Kristen, dan Yahudi.
Bagaimana sebaiknya memperlakukan makanan?
  • Buat perencanaan untuk membuat atau membeli makanan yang dibutuhkan (bukan diinginkan).
  • Lihat panduan pengelolaan makanan dari EPA yang berjudul Food: Too Good to Waste untuk membuat perencanaan makanan agar tidak banyak membuangnya.
  • Hindari mengambil makanan terlalu banyak (lebih baik nambah daripada membuangnya).
  • Beli produk lokal di pasar tradisional untuk mengurangi emisi karbon akibat transportasi pengiriman.
  • Pisahkan sampah organik dari sampah lainnya.
  • Karena sampah organik akan membusuk, sebaiknya simpan di kompartemen tertutup.
  • Menjadi relawan kampanye lingkungan di sekitar tempat tinggalmu.
Yuk, habiskan makananmu dan kelola sampahmu!

Comments

Bacaan Populer

Mitos Kecantikan dan Budaya Patriarki dalam Lagu “Aisyah Istri Rasulullah”

Sore ini, untuk ke sekian kalinya, telinga saya digandrungi oleh lagu islami berjudul “Aisyah Istri Rasulullah”. Sekilas, nadanya cukup mudah diingat dan terdengar romantis sehingga saya berniat untuk ikut meng-cover lagu tersebut. Seperti biasa, saya akan terlebih dahulu menghafal liriknya sebelum bernyanyi. Sayang seribu sayang, niat saya untuk berpartisipasi memviralkan lagu tersebut terhenti saat menemukan liriknya yang berbunyi kulit putih bersih merahnya pipimu. Kenapa? Dalam buku berjudul The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women, disebutkan bahwa penyebutan kulit putih merupakan salah satu mitos kecantikan yang diproduksi kapitalisme dalam industri kecantikan untuk mengontrol otoritas perempuan atas tubuhnya. Dalam konteks ini, budaya patriarki tidak berupaya mendominasi tubuh perempuan secara fisik, tetapi menghegemoninya secara psikis sehingga banyak perempuan yang terjebak pada mitos putih-itu-cantik. Mitos kecantikan sendiri merupakan bagian dari alat femin…

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath. Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri. Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi. Empath dan HSP Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berbeda, menyadari bagaimana perasaan orang …

Karena KB adalah Hak Segala Bangsa

Dulu, sebagian keluarga saya selalu menentang program Keluarga Berencana (KB) karena menganggap hal itu sebagai cara manusia menentang takdir. Sementara itu, sebagian keluarga saya yang lain menganggap bahwa KB adalah hal yang harus dilakukan untuk mengurangi beban mental dan finansial keluarga. Tapi, bukankah nasib dan takdir itu berbeda? Ya, kadang-kadang, ada yang takdirnya memang harus punya banyak anak, tapi hidupnya enak. Tapi, ada juga yang anaknya cuma satu, tapi takdirnya sudah buntu. Pada akhirnya, manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Absolutely. Di tulisan ini, saya tidak akan membahas soal perlu atau tidaknya KB. Saya hanya akan bercerita soal populasi dunia yang semakin lama semakin bertambah. World Economic Forum menyatakan bahwa populasi dunia bertambah sebanyak 83 juta jiwa setiap tahunnya. Saat ini, sudah ada sekitar 7,6 miliar orang di dunia. Tapi, tren populasi di dunia tidaklah sama. Beberapa negara berkembang dengan cepat sehingga populasi semakin bany…

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan. 
#1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dilahirkan dengan tingkat intelektu…

Wasilah dari Sarjana Rahim

Saya memiliki seorang adik laki-laki yang sangat manja dan penuh dengan gairah hidup. Penampilannya begitu ceria dan senantiasa tersenyum dalam kondisi apa pun. Sekilas, mungkin orang hanya melihat parasnya saja yang cukup tampan. Tapi, lebih dari itu, ia punya hati yang tidak kalah tampan. Ibu kami menamainya Hafizh Haq Amarullah, yang artinya pemelihara kebenaran para pemimpin Allah. Dia lahir pada saat usianya di dalam kandungan masih tujuh bulan. Kelahirannya tiba-tiba terjadi sehabis ibu terjatuh di kamar mandi. Untungnya, ia lahir dengan selamat dan tanpa cedera. Ia tumbuh sebagai anak laki-laki periang yang hingga akhir hayatnya sulit mengucapkan popoean (jemuran dalam bahasa Sunda) dan lebih sering menyebutnya popoyan. Kami tumbuh dalam lingkungan yang sangat baik karena ibu dan ayah mendidik kami dengan penuh cinta sehingga ikatan batin antara saya dengannya terjalin begitu kuat. Dia sedih, saya pun ikut merasakannya. Dia sakit, begitu juga saya. Dari kecil hingga usianya 13 ta…