Skip to main content

Spiritual Awakening, Apakah Kamu Sedang Mengalaminya?

Bagi sebagian orang, istilah spiritual awakening mungkin terdengar asing. Tapi, bisa jadi mereka semua pernah atau bahkan sedang mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah “pencerahan” atau “kebangkitan spiritual”, sebagian lagi menyebutnya “kesadaran spiritual”. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya sebagai kesadaran spiritual karena bagi saya, setiap orang sudah mengalami perjalanan spiritual sejak lahir. Namun, tidak semua orang menyadarinya. 
Sebagian orang mungkin akan merasakan kedamaian tersendiri saat mengalaminya, tapi ada juga sebagian orang yang justru merasakan hal-hal lain di luar kendali, seperti merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, kemelut pikiran dan hati, sampai merasakan adanya gangguan mental yang sering kali dianggap sebagai penyakit.
Untuk lebih memahaminya, mari kita perjelas dulu batasan kesadaran spiritual ini!
Kebangkitan spiritual
Spiritual Awakening © Retha Ferguson via Pexels

Apa itu kesadaran spiritual?
Ketika seseorang melalui kesadaran spiritual, seluruh dunia di luar fisik atau bisa kita sebut sebagai metafisik akan terlihat sebagai sesuatu yang asing sekaligus membuat kita penasaran. Ada yang merasa lelah, hancur, bahkan gila karena hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Di saat yang sama, terkadang lingkungan juga seperti tidak mendukung. Bahkan, orang-orang di sekitar kita terkesan menjadi lingkungan yang penuh dengan toxic.
Tahap kesadaran spiritual ini bisa menjadi saat-saat yang paling menyakitkan bagi sebagian orang karena lingkungan sekitar mereka tidak memahami apa yang terjadi dan menanggapinya dengan cara yang kurang tepat.
Kesadaran spiritual merupakan pergeseran kesadaran yang termanifestasi dalam pelepasan getaran energi yang rendah untuk kemudian digantikan dengan energi baru yang lebih besar dan bermanfaat bagi kehidupan.
Tahap ini akan terasa seperti pencarian jati diri sehingga orang yang telah menyadarinya akan menemukan siapa dirinya sebagai makhluk spiritual, menciptakan jalan menuju tujuan hidupnya, dan membangun dunia menjadi sesuatu yang lebih baik.
Kebangkitan spiritual bukanlah hal yang hanya terjadi satu kali, tetapi lebih merupakan inisiasi menuju jalur baru kehidupan. Banyak orang mengalami kesadaran spiritual selama masa-masa  kelam dalam hidup mereka atau setelah terjadinya suatu peristiwa traumatis.
Namun, ini tidak berlaku untuk semua orang. Ada juga orang yang mengalami kesadaran spiritual dengan menemukan kebenaran tentang diri mereka sendiri atau mengembangkan minat pada semua hal spiritual.
Ciri-ciri seseorang mengalami kesadaran spiritual
Ada banyak hal yang menunjukkan kalau seseorang sedang mengalami kesadaran spiritual. Berikut ini beberapa ciri kalau kamu sedang mengalaminya:
#1: Mulai ingin membersihkan banyak hal
Barang-barang yang tidak terpakai atau tidak dibutuhkan, rumah yang berantakan, teman-teman dan lingkungan toxic akan menjadi sesuatu yang mengganggu ketika seseorang mengalami kesadaran spiritual. 
Itulah sebabnya, banyak orang yang tiba-tiba ingin membereskan rumah, menghibahkan barang-barang tak terpakai, bahkan membuang barang-barang yang berhubungan dengan masa lalu. Hal ini biasanya terjadi karena seseorang mulai menyadari getaran energi di sekitar dirinya.
#2: Haus akan pengetahuan
Ketika pintu kesadaran spiritual terbuka, maka seseorang cenderung ingin mengetahui banyak hal di luar dirinya sendiri. Mulai dari ajaran agama yang dianut oleh orang lain, budaya yang dimiliki oleh orang lain, sampai pengalaman orang lain yang mungkin tidak pernah dialaminya.
Misalnya, kamu yang sebelumnya tidak tertarik dengan sejarah akan mulai membaca buku-buku sejarah atau kamu yang sebelumnya tidak tertarik dengan hal-hal metafisik akan mulai membaca buku-buku bertema psikologi dan spiritual.
Rasa haus akan pengetahuan ini menandakan bahwa kamu sedang membuka hati dan pikiran untuk hal-hal baru. Namun, dalam pencarian ini, kamu akan mencapai titik ketika tidak ada lagi pengetahuan yang bisa diserap dan dipraktikkan sehingga kamu terjebak dalam kesombongan spiritual.
#3: Merasa terhubung dengan alam semesta
Ketika mengalami kesadaran atau kebangkitan spiritual, seseorang cenderung merasa lebih terhubung dengan alam semesta. Banyak dari orang yang merasakan pencerahan akan mulai menyukai tanaman atau binatang tertentu dan merasa itu semua membawanya pada kedamaian.
Itulah sebabnya, kamu akan mulai menyukai pantai dan gunung, serta merasa harus mengunjungi tempat wisata alam untuk membuat tubuhmu merasa berenergi.
#4: Intuisi mulai menguat
Ada saatnya, seseorang yang mengalami kesadaran spiritual akan mulai memiliki intuisi yang sangat kuat, baik terhadap hal yang spesifik maupun umum. Dalam perjalanan spiritual pertama, saya merasakan intuisi menguat ketika mengetahui hal-hal yang akan terjadi lewat mimpi.
Bagi sebagian orang, mungkin kondisinya bisa berbeda. Ada yang intuisinya menguat lewat pengetahuan tertentu atau bahkan perasaan tertentu. Pada tahap awal, intuisi ini biasanya menguat ketika berhadapan dengan orang-orang atau lingkungan terdekat.
Pada akhirnya, intuisi ini bisa dirasakan setiap kali kita bertemu dengan orang-orang baru atau mulai merasakan energi negatif dari hubungan beracun yang selama ini kita jalani. Awalnya, mungkin kita akan merasa kehilangan, tapi percayalah pada intuisimu!
#5: Lebih sensitif terhadap energi negatif
Hal ini masih berhubungan erat dengan intuisi. Saat intuisi menguat, sensitivitas kita pun meningkat. Kamu akan lebih sensitif terhadap energi negatif yang ada di sekitarmu, seperti rekan kerja yang tidak menyukaimu, pekerjaan yang tidak manusiawi, sampai makanan apa yang tidak baik bagi tubuhmu.
Tantangannya adalah kamu akan mengalami rasa sakit secara fisik saat merasakan hal-hal negatif. Misalnya, kamu akan merasa sakit kepala setelah selesai berbicara dengan orang yang iri terhadap kehidupan orang lain atau kamu merasakan sensasi panas ketika berbicara dengan seseorang yang terlalu sibuk memikirkan harta.
#6: Merasa kesepian
Setelah mengenali energi negatif di sekitarmu, tentu kamu akan mengusir mereka dengan caramu sendiri. Saat itulah mungkin kamu akan merasa sendiri dan kesepian, merasa tidak ada seorang pun yang memahamimu, dan banyak orang yang menjauhimu.
Tapi, itu hanya terjadi sementara karena pada hakikatnya, momen inilah yang akan membuatmu lebih memahami siapa dirimu yang sebenarnya dan apa tujuan terbesar dalam hidupmu yang ingin kamu capai.
Ketika momen itu tiba, kamu akan mulai menarik orang-orang yang satu frekuensi denganmu dan memulai “hidup” baru dengan orang-orang yang lebih positif untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.
Tantangan dalam mengarungi kesadaran spiritual
Saat mengalaminya, kamu mungkin akan merasakan sesuatu yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Misalnya, kamu bisa tiba-tiba merasa ingin marah atau menangis, padahal tidak punya masalah apa pun. Inilah yang biasanya terjadi ketika chakra jantung mulai terbuka.
Selain merasakan perubahan emosional yang tiba-tiba, kesadaran spiritual juga bisa menyebabkan seseorang alergi terhadap makanan tertentu. Itulah sebabnya banyak orang yang sedang mengalami kesadaran spiritual memilih untuk mengonsumsi lebih banyak makanan sehat atau beralih menjadi vegan.
Terakhir, kamu mungkin akan mendengar atau melihat hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kamu alami. Misalnya, kamu mendengar suara-suara atau bisikan yang tidak bisa didengar orang lain. Kamu juga mungkin akan mengalami telinga berdengung setiap kali ada energi negatif di sekitarmu. Dalam beberapa kasus, ada juga yang melihat visualisasi berisi pesan-pesan spiritual tertentu.
Nah, setelah membaca penjelasan di atas, apakah kamu sedang mengalami kesadaran spiritual? Share pengalamanmu di kolom komentar ya!

Comments

  1. apa saya lagi mengalami masa-masa ini ya... jadi sensi banget sama suasana di sekitar. nggak tahu juga sih, kalaupun iya semoga aja bisa cepet selesai karena rasanya beneran nggak nyaman....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, terima kasih sudah berkunjung ke laman #PerempuanSufi. Kemungkinan seperti itu bisa terjadi, apalagi di tengah kondisi yang menuntut kita untuk berdiam di rumah dalam waktu yang lama.

      Semoga kondisi yang kamu alami bisa membawa kebaikan ya. Semangat!

      Delete
  2. Sangat menarik sekali blognya. Saya sering merasa alam sedang mengajari bahkan berkomunikasi dengan saya,
    Setiap kali alam mengajak saya berbincang, saya merasa tinggi. tapi kenyataannya saya hanya manusia yang merasa bisa padahal tidak tau apa apa. Dan itu sangat membuat saya sedih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, terima kasih sudah berkunjung ke laman #PerempuanSufi. Nggak perlu sedih Sahabat, apa yang kamu alami adalah hal yang wajar karena setiap manusia akan melewati berbagai macam tahapan dalam perjalanan spiritual. Yang terpenting adalah jangan berhenti untuk belajar dan mengedukasi diri supaya tetap rendah hati meski sudah berilmu.

      Di atas langit ada langit. Seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk, begitulah Semesta mengajari kita makna kehidupan yang sebenarnya.

      Tetap semangat, ya!

      Delete

Post a Comment

Bacaan Populer

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath. Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri. Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi. Empath dan HSP Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berbeda, menyadari bagaimana perasaan orang …

Mitos Kecantikan dan Budaya Patriarki dalam Lagu “Aisyah Istri Rasulullah”

Sore ini, untuk ke sekian kalinya, telinga saya digandrungi oleh lagu islami berjudul “Aisyah Istri Rasulullah”. Sekilas, nadanya cukup mudah diingat dan terdengar romantis sehingga saya berniat untuk ikut meng-cover lagu tersebut. Seperti biasa, saya akan terlebih dahulu menghafal liriknya sebelum bernyanyi. Sayang seribu sayang, niat saya untuk berpartisipasi memviralkan lagu tersebut terhenti saat menemukan liriknya yang berbunyi kulit putih bersih merahnya pipimu. Kenapa? Dalam buku berjudul The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women, disebutkan bahwa penyebutan kulit putih merupakan salah satu mitos kecantikan yang diproduksi kapitalisme dalam industri kecantikan untuk mengontrol otoritas perempuan atas tubuhnya. Dalam konteks ini, budaya patriarki tidak berupaya mendominasi tubuh perempuan secara fisik, tetapi menghegemoninya secara psikis sehingga banyak perempuan yang terjebak pada mitos putih-itu-cantik. Mitos kecantikan sendiri merupakan bagian dari alat femin…

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan. 
#1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dilahirkan dengan tingkat intelektu…

Karena KB adalah Hak Segala Bangsa

Dulu, sebagian keluarga saya selalu menentang program Keluarga Berencana (KB) karena menganggap hal itu sebagai cara manusia menentang takdir. Sementara itu, sebagian keluarga saya yang lain menganggap bahwa KB adalah hal yang harus dilakukan untuk mengurangi beban mental dan finansial keluarga. Tapi, bukankah nasib dan takdir itu berbeda? Ya, kadang-kadang, ada yang takdirnya memang harus punya banyak anak, tapi hidupnya enak. Tapi, ada juga yang anaknya cuma satu, tapi takdirnya sudah buntu. Pada akhirnya, manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Absolutely. Di tulisan ini, saya tidak akan membahas soal perlu atau tidaknya KB. Saya hanya akan bercerita soal populasi dunia yang semakin lama semakin bertambah. World Economic Forum menyatakan bahwa populasi dunia bertambah sebanyak 83 juta jiwa setiap tahunnya. Saat ini, sudah ada sekitar 7,6 miliar orang di dunia. Tapi, tren populasi di dunia tidaklah sama. Beberapa negara berkembang dengan cepat sehingga populasi semakin bany…

Wasilah dari Sarjana Rahim

Saya memiliki seorang adik laki-laki yang sangat manja dan penuh dengan gairah hidup. Penampilannya begitu ceria dan senantiasa tersenyum dalam kondisi apa pun. Sekilas, mungkin orang hanya melihat parasnya saja yang cukup tampan. Tapi, lebih dari itu, ia punya hati yang tidak kalah tampan. Ibu kami menamainya Hafizh Haq Amarullah, yang artinya pemelihara kebenaran para pemimpin Allah. Dia lahir pada saat usianya di dalam kandungan masih tujuh bulan. Kelahirannya tiba-tiba terjadi sehabis ibu terjatuh di kamar mandi. Untungnya, ia lahir dengan selamat dan tanpa cedera. Ia tumbuh sebagai anak laki-laki periang yang hingga akhir hayatnya sulit mengucapkan popoean (jemuran dalam bahasa Sunda) dan lebih sering menyebutnya popoyan. Kami tumbuh dalam lingkungan yang sangat baik karena ibu dan ayah mendidik kami dengan penuh cinta sehingga ikatan batin antara saya dengannya terjalin begitu kuat. Dia sedih, saya pun ikut merasakannya. Dia sakit, begitu juga saya. Dari kecil hingga usianya 13 ta…