Skip to main content

Masih Minggu Malam, Tapi Senin Sudah Terasa Melelahkan?

“If Monday had a face, I would punch it.”
Pernah berpikir seperti itu? Saya juga pernah. Saat Minggu malam datang, terkadang saya tidak bisa tidur dan membayangkan harus bertemu dengan Senin yang melelahkan. Malah, kelelahan di hari Senin yang belum terjadi itu justru bikin saya capek dan kurang bersemangat menyambut hari esok.
Dulu, sama seperti kebanyakan orang, saya mengamini bahwa Senin hari di mana kita memulai sesuatu yang melelahkan (sambil membayangkan capeknya lima hari ke depan) dan mengakhiri sesuatu yang menyenangkan (Sabtu dan Minggu yang selalu terasa singkat).
Tapi, sekarang tidak lagi. Saya menjadikan semua hari yang saya jalani sebagai hari yang penuh kejutan, remeh-temeh yang kadang menjengkelkan, tapi anugerah yang selalu membahagiakan. Kenapa? Karena saya telah mengubah hal-hal berikut ini.
Mindset yang tersesat

Dalam artikel yang dipublikasikan di Inc.com, Nicolas Cole menyebutkan bahwa “hidup untuk akhir pekan” bukanlah strategi jangka panjang. Kamu tidak bisa berpikir bahwa lima hari dalam seminggu adalah hari yang akan dihabiskan untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, sedangkan dua hari lainnya adalah hari di mana kamu bisa bermalas-malasan atau melakukan aktivitas yang kamu inginkan. Pemikiran tersebut tidak hanya merugikan perusahaan tempat kamu bekerja, tapi juga merugikan diri sendiri karena dalam lima hari tersebut kamu akan merasa terbebani. Cobalah untuk mengubah mindset kamu tentang hari Senin yang melelahkan menjadi hari Senin yang penuh tantangan!
Pekerjaan yang tidak tepat
“To be successful, the first thing to do is to fall in love with your work.” - Sister Mary Lauretta
Kalau kamu masih merasa bahwa Senin adalah hari yang melelahkan, ada indikasi yang menunjukkan bahwa kamu punya masalah dengan tempat kerjamu. Beberapa tahun lalu, saya pernah bekerja di sebuah perusahaan konstruksi bangunan. Pekerjaan ini saya ambil bukan karena saya ahli di bidangnya, melainkan karena saya butuh uang. Pada saat itu, saya berpikir bahwa pekerjaan yang tidak sesuai passion pun bisa dijalani asalkan bisa mendatangkan banyak uang.
Tapi, saya salah besar. Baru sebulan saya bekerja di sana, saya sudah mulai merasa lelah. Setiap malam saya uring-uringan dan saya jadi gampang emosi, terutama saat berhadapan dengan bos yang pada saat itu saya anggap menyebalkan. Di malam hari, saya bisa tidur nyenyak karena capek seharian bekerja, tapi keesokan harinya masih saja merasa capek. Hal ini jelas menunjukkan bahwa bukan jam tidur saya yang kurang, melainkan pekerjaan saya yang tidak tepat.
Dua bulan kemudian, saya memutuskan untuk resign dan mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan passion saya. Gayung bersambut, teman saya menawari saya pekerjaan sebagai penulis di perusahaannya. Selang seminggu, saya dipanggil kerja oleh perusahaan tersebut dan merasakan perubahan signifikan yang membuat saya yakin bahwa “Senin yang melelahkan” bisa diusir dengan pekerjaan yang menyenangkan. Jadi, segera temukan pekerjaan yang benar-benar kamu sukai supaya Senin tak lagi jadi momok yang menakutkan.
Kurang liburan
Pernah nggak kamu pergi liburan, begadang semalaman, tapi keesokan harinya kamu merasa masih berenergi?
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Global Commission on Aging dan Transamerica Centre for Retirement Studies, disebutkan bahwa bepergian secara teratur membuat tubuh lebih sehat. Studi ini menemukan bahwa perempuan yang berlibur setidaknya dua kali dalam setahun menunjukkan risiko yang jauh lebih rendah menderita serangan jantung daripada mereka yang hanya melakukan perjalanan setiap enam tahun atau lebih. Sementara itu, laki-laki yang kurang berlibur menunjukkan 20% risiko kematian dan 30% risiko penyakit jantung lebih tinggi daripada mereka yang berlibur.
Jadi, tunggu apa lagi? Kalau mindset sudah diubah dan pekerjaan sudah sesuai passion tapi Senin masih melelahkan, segeralah ambil cuti untuk liburan.
Energi negatif yang menular
Pernah membaca quote tentang hari Senin yang menyebalkan, lalu kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang sama persis dengan apa yang kamu alami di hari Senin? Inilah yang saya namakan “virus Senin”.
Seperti halnya virus, energi negatif juga bersifat menular. Satu energi negatif yang muncul dari seseorang bisa dengan mudah menular pada yang lain. Pernahkah kamu bangun tidur dengan perasaan malas atau kesal, lalu berangkat ke kantor dengan pikiran mumet hingga akhirnya bertemu dengan tukang ojek yang tidak ramah, kehilangan uang, bertemu klien yang menjengkelkan, dan berbagai hal menyebalkan lainnya di perjalanan menuju kantor?
Kasus “sudah jatuh tertimpa tangga” seperti itu bukan semata-mata terjadi karena kamu sedang sial, melainkan karena energi yang kamu tanamkan di dalam diri kamu kurang baik sehingga berpengaruh terhadap lingkungan sekitarmu. Jadi, mulailah harimu dengan tersenyum supaya energi yang kamu terima dan sebarkan sepanjang hari menjadi sesuatu positif dan jangan biarkan quote tentang Senin yang menyebalkan mengubah energi positifmu.
Kurang bersyukur
Kurang bersyukur dengan pekerjaan, teman, dan kehidupan yang kamu dapatkan bisa jadi satu faktor yang membuat kamu selalu lelah. Akibatnya, kamu menganggap bahwa apa yang kamu hadapi dalam kehidupan sosial di hari Senin sebagai sesuatu yang memuakkan.
Padahal, bersyukur merupakan pintu keberuntungan buat kamu. Saat bersyukur, kamu tidak hanya mengucapkan “terima kasih” kepada Tuhan atau orang yang memberimu kebahagiaan, melainkan juga menunjukkan penghargaan yang membuat kamu mendapatkan kebaikan-kebaikan lain di masa mendatang.
Dalam artikel yang diterbitkan Forbes, disebutkan bahwa rasa syukur bisa meningkatkan kesehatan fisik dan psikologis. Berdasarkan sebuah studi yang diterbitkan Personality and Individual Differences, ditemukan bahwa orang-orang yang bersyukur mengalami rasa sakit yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak bersyukur. Bahkan, seorang peneliti bernama Robert A. Emmons menemukan bahwa bersyukur dan mengurangi emosi negatif secara efektif dapat meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi depresi. Orang yang bersyukur juga cenderung tidur lebih nyenyak sehingga kamu akan merasa segar pada saat bangun.
Yuk, sambut hari Senin dengan doa dan rasa syukur!

Comments

Bacaan Populer

Karena KB adalah Hak Segala Bangsa

Dulu, sebagian keluarga saya selalu menentang program Keluarga Berencana (KB) karena menganggap hal itu sebagai cara manusia menentang takdir. Sementara itu, sebagian keluarga saya yang lain menganggap bahwa KB adalah hal yang harus dilakukan untuk mengurangi beban mental dan finansial keluarga. Tapi, bukankah nasib dan takdir itu berbeda? Ya, kadang-kadang, ada yang takdirnya memang harus punya banyak anak, tapi hidupnya enak. Tapi, ada juga yang anaknya cuma satu, tapi takdirnya sudah buntu. Pada akhirnya, manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Absolutely. Di tulisan ini, saya tidak akan membahas soal perlu atau tidaknya KB. Saya hanya akan bercerita soal populasi dunia yang semakin lama semakin bertambah. World Economic Forum menyatakan bahwa populasi dunia bertambah sebanyak 83 juta jiwa setiap tahunnya. Saat ini, sudah ada sekitar 7,6 miliar orang di dunia. Tapi, tren populasi di dunia tidaklah sama. Beberapa negara berkembang dengan cepat sehingga populasi semakin bany…

Wasilah dari Sarjana Rahim

Saya memiliki seorang adik laki-laki yang sangat manja dan penuh dengan gairah hidup. Penampilannya begitu ceria dan senantiasa tersenyum dalam kondisi apa pun. Sekilas, mungkin orang hanya melihat parasnya saja yang cukup tampan. Tapi, lebih dari itu, ia punya hati yang tidak kalah tampan. Ibu kami menamainya Hafizh Haq Amarullah, yang artinya pemelihara kebenaran para pemimpin Allah. Dia lahir pada saat usianya di dalam kandungan masih tujuh bulan. Kelahirannya tiba-tiba terjadi sehabis ibu terjatuh di kamar mandi. Untungnya, ia lahir dengan selamat dan tanpa cedera. Ia tumbuh sebagai anak laki-laki periang yang hingga akhir hayatnya sulit mengucapkan popoean (jemuran dalam bahasa Sunda) dan lebih sering menyebutnya popoyan. Kami tumbuh dalam lingkungan yang sangat baik karena ibu dan ayah mendidik kami dengan penuh cinta sehingga ikatan batin antara saya dengannya terjalin begitu kuat. Dia sedih, saya pun ikut merasakannya. Dia sakit, begitu juga saya. Dari kecil hingga usianya 13 ta…

Yang Mahal dari Agensi Digital

Saya bukan orang yang memahami digital sepenuhnya. Bahkan, bisa dibilang, saya adalah orang gagap teknologi yang berjodoh dengan dunia digital. Sejak 2012, saya berkecimpung di dunia media digital. Lalu, pada 2016, saya pindah haluan ke agensi digital. Sama seperti orang awam lainnya, saya cukup terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa uang yang harus dikeluarkan untuk menjalankan sebuah bisnis dengan konsep dan strategi digital tidaklah kecil (malah bisa dibilang mahal sih, ya!). Dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan calon klien yang menilai bahwa biaya yang harus mereka keluarkan jika menggunakan jasa agensi digital berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan jika mereka menjalankan strategi digital sendiri (ya iyalah, bikin bakso sendiri juga pasti lebih murah daripada beli bakso di warung Pak Kumis). Itu analogi awamnya. Kalau jawaban teknis dan praktisnya, silakan tanya pada ahlinya. (Lah, terus saya mau nulis apa?) Kali ini, saya tidak akan membahas apa …