Skip to main content

Senyum yang Bukan Semata-mata Ibadah

“Senyum itu ibadah.”
Kutipan tersebut sepertinya telah lama kita dengar dan menjadi pedoman bagi kita supaya selalu tersenyum. Tapi, seperti yang juga mungkin sering kita temukan, pepatah Nabi Muhammad tidak melulu soal ibadah dalam konotasi yang sempit dan vertikal, yang hanya merepresentasikan kekuatan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Lebih dari itu, senyum yang tulus merepresentasikan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya, bahkan dengan diri sendiri.

Image source: Pexel
Mengubah mood
“We don’t laugh because we’re happy, we’re happy because we laugh.” - William James
Kutipan William James tersebut setara dengan apa yang Nabi Muhammad dengungkan soal senyum. Tidak selamanya kita tersenyum karena kita bahagia. Tapi, kita bisa membuat diri kita bahagia dengan tersenyum.
Mengutip laman Elite Daily, senyum terbukti dapat mengubah suasana hati secara alami. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tersenyum bisa membuat kamu merasa lebih bahagia, meskipun segudang masalah tengah kamu hadapi. Sayangnya, kamu tidak bisa menipu kebahagiaanmu dengan senyum palsu karena aktivitas ringan yang satu ini berhubungan dengan sistem otot dan otak pada tubuhmu.
Menurut Psychology Today, saat kamu tersenyum, 5 sampai 53 otot wajah akan bergerak memberikan umpan balik positif pada otak sehingga menghasilkan suasana hati yang lebih bahagia daripada sebelumnya. Inilah yang disebut dengan lingkaran positif. Saat kamu bahagia, kamu akan tersenyum. Begitu juga sebaliknya, ketika tersenyum, kamu akan lebih bahagia.
Tapi, bukan berarti semua kebahagiaan diciptakan dengan cara yang sama. Setiap kali kamu tersenyum, kamu tidak akan secara otomatis merasakan kebahagiaan. Tapi dengan perasaan tulus yang kamu lepaskan saat tersenyum, maka hormon-hormon kebahagiaan pun akan bermunculan sehingga membuat perasaan lebih senang dibandingkan ketika kamu mengonsumsi sebatang cokelat.
Aktivitas menular
Sama seperti menguap, tersenyum juga bersifat menular. Berdasarkan studi 2016 yang diterbitkan dalam jurnal Trends in Cognitive Sciences, disebutkan bahwa senyuman dan kerutan merupakan tindakan menular. Hal ini disebabkan oleh manusia sebagai makhluk sosial cenderung mencerminkan suasana di sekitar mereka.
Berdasarkan analisis fungsional-sosial, senyum juga disebutkan sebagai cara seseorang menyelesaikan tantangan dan peluang yang dibutuhkan oleh kehidupan sosial. Senyum dapat memberikan afirmasi terhadap suatu kondisi, membentuk dan memelihara ikatan sosial, serta mengelola hubungan hierarkis. Temuan penelitian ini sekaligus menunjukkan bahwa fungsi tersenyum sebagai hadiah, afiliasi, dan dominasi diakui oleh seluruh budaya di dunia.
Bukti ini menunjukkan bahwa senyuman dapat diselidiki secara produktif terkait bagaimana senyuman dapat membantu seseorang dalam memenuhi tantangan dan peluang yang melekat dalam kehidupan sosial manusia.
Oleh karena itu, dalam lingkungan sehat, kamu akan ikut tersenyum ketika melihat teman-temanmu tersenyum. Hal ini juga disebabkan oleh adanya dorongan bawah sadar untuk meniru ekspresi wajah seseorang ketika tersenyum. Inilah yang dinamakan dengan rantai kebahagiaan yang menyebar di lingkungan terdekat.
Jika kamu belum yakin, saya pernah mencobanya. Saat itu, seorang teman dekat saya yang temperamental sedang marah besar karena sesuatu. Siapa pun yang mendekat akan dicaci maki habis-habisan. Awalnya, saya sempat bete karena dia juga memperlihatkan muka cemberut di hadapan saya. Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, kenapa saya nggak menularkan sesuatu yang baik supaya suasana kembali nyaman? Akhirnya, saya putuskan untuk duduk di sampingnya, memperdengarkan lagu kesukaannya sambil tersenyum kepadanya. It works! Dia tersenyum dan merajuk. Semuanya selesai dengan mudah hanya karena tersenyum. Berani coba?
Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Senyum memang bukan obat terbaik. Tapi, penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan yang dihasilkan dari tersenyum memiliki manfaat medis yang mengesankan, termasuk dalam perbaikan sistem kekebalan tubuh.
Dikutip dari Psychology Today, sebuah penelitian terkait rhinovirus menemukan bahwa partisipan yang memiliki tingkat kebahagiaan tinggi cenderung tidak mengalami demam dibandingkan mereka yang tingkat kebahagiaannya rendah. Penelitian dilakukan dengan menampilkan video-video lucu untuk mendorong para partisipan agar tersenyum dan tertawa. Studi tersebut kemudian dilakukan kembali dengan partisipan yang mengidap flu. Hasilnya, emosi paling positif cenderung tidak mengembangkan virus influenza.
Penelitian serupa dilakukan terhadap mahasiswa kedokteran gigi dengan mengumpulkan air liur mereka sehingga efektivitas sistem kekebalan tubuh mereka dapat dinilai. Saat sistem kekebalan dilawan dengan pil mengandung protein kelinci, respon yang dihasilkan dari materi asing tersebut bergantung pada suasana hati mereka. Hasilnya, respon sistem kekebalan tubuh partisipan dengan suasana hati yang positif lebih baik dibandingkan dengan partisipan yang memiliki suasana hati negatif.
Masih belum yakin? Saya sendiri pernah membuktikannya. Beberapa bulan lalu, saya terkena penyakit usus dan lambung yang menyebabkan saya tidak bisa beraktivitas dengan baik karena harus bolak-balik ke toilet sebanyak lima sampai enam kali dalam sehari. Sebulan kemudian, saya merasa bahwa saya harus memperbaiki mood supaya bisa sembuh. Saya mulai memikirkan hal-hal baik, mengendalikan emosi ketika bersedih atau marah, dan menonton lebih banyak film yang bernuansa positif. Ya, sekali-sekali nonton film komedi Korea ternyata bisa membangkitkan mood saya dan membuat saya tersenyum lebih sering. Hasilnya, penyakit saya berangsur-angsur pulih dan hanya dalam waktu empat hari tubuh saya kembali sehat.
Membuat kamu lebih populer
Dalam Laughter Online University, disebutkan bahwa seorang bayi dilahirkan dengan kemampuan untuk tersenyum. Bahkan, bayi yang tidak memiliki kemampuan untuk melihat pun tetap tersenyum. Inilah yang membuat kita harus belajar banyak dari seorang bayi.
Senyum membuat seseorang tampak lebih menarik, ramah, dan percaya diri. Bahkan, senyum juga diklaim sebagai ekspresi wajah yang paling mudah dikenali. Orang dapat mengenali senyum dari jarak hingga 300 kaki atau setara dengan 90 meter. Itulah sebabnya, orang yang murah senyum cenderung lebih populer dibandingkan dengan orang yang menarik secara fisik tapi tidak memiliki ekspresi senyum yang tulus.
Penelitian yang dilakukan Orbit Complete menemukan bahwa 69% orang mengakui perempuan lebih menarik saat mereka tersenyum daripada ketika mereka memakai riasan. Senyum juga sering dikaitkan dengan banyak manfaat, seperti hubungan sosial yang lebih baik dan panjang umur.
Jadi, semudah apa kita membuat hari-hari lebih sehat dan bahagia? Semudah “senyum adalah ibadah”.
“Smile in the mirror. Do that every morning and you'll start to see a big difference in your life.” - Yoko Ono

Comments

Bacaan Populer

Spiritual Awakening, Apakah Kamu Sedang Mengalaminya?

Bagi sebagian orang, istilah spiritual awakening mungkin terdengar asing. Tapi, bisa jadi mereka semua pernah atau bahkan sedang mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah “pencerahan” atau “kebangkitan spiritual”, sebagian lagi menyebutnya “kesadaran spiritual”. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya sebagai kesadaran spiritual karena bagi saya, setiap orang sudah mengalami perjalanan spiritual sejak lahir. Namun, tidak semua orang menyadarinya.  Sebagian orang mungkin akan merasakan kedamaian tersendiri saat mengalaminya, tapi ada juga sebagian orang yang justru merasakan hal-hal lain di luar kendali, seperti merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, kemelut pikiran dan hati, sampai merasakan adanya gangguan mental yang sering kali dianggap sebagai penyakit. Untuk lebih memahaminya, mari kita perjelas dulu batasan kesadaran spiritual ini! Spiritual Awakening © Retha Ferguson via Pexels Apa itu kesadaran spiritual? Ketika seseorang melalui kesadaran s

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath. Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri. Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi. © Pixabay via Pexels Empath dan HSP Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berb

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan.  © Pexels #1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dilahirk

Dalam Penciptaan Hawa, Tuhan Tak Patriarkis

Baru-baru ini, teman baik saya mengirimkan thread Twitter soal Hawa yang mendorong saya untuk kemudian mengenal perempuan pertama di muka bumi ini secara lebih dekat.  Sebagian dari kita mungkin sudah mendengar kisah bagaimana Adam diciptakan dan diperkenalkan kepada makhluk Tuhan lainnya semasa di surga. Bahkan, beberapa literatur menyebutkan bahwa Adam hidup sampai 930 tahun. Lalu, bagaimana dengan Hawa? Bagaimana ia diciptakan, diturunkan ke bumi, sampai akhirnya melahirkan manusia-manusia lainnya di muka bumi ini? © Luis Quintero from Pexels Benarkah Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam? Menurut tradisi Yahudi , Adam dikecam sebelum dia dipertemukan dengan Hawa. Dalam buku abad pertengahan yang berjudul The Alphabet of Ben-Sira, disebutkan bahwa istri pertama Adam adalah Lilith yang marah dan kemudian bersekutu dengan setan sehingga Tuhan mengecamnya dan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Konsep inilah yang kemudian mengonstruksi anggapan bahwa Hawa (perempuan)

Mitos Kecantikan dan Budaya Patriarki dalam Lagu “Aisyah Istri Rasulullah”

© Janko Ferlic from Pexels Sore ini, untuk ke sekian kalinya, telinga saya digandrungi oleh lagu islami berjudul “Aisyah Istri Rasulullah”. Sekilas, nadanya cukup mudah diingat dan terdengar romantis sehingga saya berniat untuk ikut meng- cover lagu tersebut. Seperti biasa, saya akan terlebih dahulu menghafal liriknya sebelum bernyanyi. Sayang seribu sayang, niat saya untuk berpartisipasi memviralkan lagu tersebut terhenti saat menemukan liriknya yang berbunyi kulit putih bersih merahnya pipimu. Kenapa? Dalam buku berjudul The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women , disebutkan bahwa penyebutan kulit putih merupakan salah satu mitos kecantikan yang diproduksi kapitalisme dalam industri kecantikan untuk mengontrol otoritas perempuan atas tubuhnya. Dalam konteks ini, budaya patriarki tidak berupaya mendominasi tubuh perempuan secara fisik, tetapi menghegemoninya secara psikis sehingga banyak perempuan yang terjebak pada mitos putih-itu-cantik . Mitos kecant