Skip to main content

Apakah Kekayaan Mengubah Manusia Menjadi Jahat?

Beberapa waktu ke belakang, mungkin kita amat sering mendengar berita-berita tentang kejahatan. Mulai dari kejahatan yang remeh-temeh, seperti maling ayam tetangga, sampai kejahatan luar biasa (yang oleh sebagian besar masyarakat global kini sudah dianggap biasa saja), seperti maling uang rakyat.

Melihat dunia yang makin carut-marut, sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya: “masih adakah manusia kaya raya yang juga kaya hati?”

Dulu, saya bercita-cita menjadi orang kaya supaya bisa menolong sesama yang miskin papa dan menciptakan dunia yang tak lagi nestapa. Namun, ternyata menjadi kaya raya dan baik hati sering kali tidak bisa jalan beriringan. Saat kondisi finansial saya mulai meroket, kadang saya menjadi alpa dengan niat awal saya menjadi kaya. Sering kali saya menjadi buta dalam melihat kemiskinan sesama, hingga akhirnya Tuhan menjatuhkan saya berkali-kali ke lubang yang sama: kemiskinan harta.

Beberapa kali saya mencoba bangkit untuk kembali membenahi niat baik menjadi kaya. Namun, jalan menjadi kaya raya dengan niat mulia ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya sering kali dihadapkan pada pilihan: kaya tapi merusak nilai-nilai yang ada atau tetap bermoral namun dengan harta seadanya?

Elite Global
Elite Global © Freepik

Sore ini, saya sedang dalam perjalanan dari Padalarang menuju Kota Semarang. Di tengah jalan, beberapa kali saya melihat keindahan pematang sawah dari jendela kereta, lalu beberapa kali pula saya melihat rumah-rumah di pinggir rel terendam banjir. Sesekali saya tidak sengaja menguping pembicaraan penumpang lain yang berkata, “Di sini memang sudah biasa banjir seperti itu.” 

Saat itulah saya bertanya dalam hati, “Bisa nggak ya saya jadi orang kaya, lalu beli tanah-tanah ini dan menjadikannya sebagai aset yang bisa menjamin kelangsungan hidup banyak orang sehingga di masa depan, kita nggak perlu lagi mendengar berita tentang kelaparan dan kejahatan akibat tidak mampu membeli beras?”

Sambil berkhayal menjadi orang kaya yang baik hati dan tidak sombong, saya membuka Instagram dan langsung tertuju pada story sekaligus thread teman saya (yang juga mantan atasan saya di kantor sebelumnya, sebut saja CEO yang menyamar menjadi tukang lari, hehe) yang berbunyi:

Melihat pertanyaan tersebut, saya berpikir, apakah ada teori yang bisa menjelaskan ini semua?

The Hubris Syndrome: Ketika Orang Kaya Menjadi Jahat

Dikutip dari laman Atlassian, saat manusia memiliki harta dan kekuasaan, ia cenderung mengalami hubris syndrome alias sindrom kesombongan yang menyebabkan pandangan tentang kemampuan dan diri mereka berubah sehingga mengakibatkan kepercayaan diri yang berlebihan, obsesi terhadap citra diri, dan penghinaan terhadap kritik. Lebih lanjut, psikiater Dr. Steven Berglas dalam sebuah artikel yang dipublikasikan Harvard Business Review berkata, “Many good people will, under bad circumstances, suffer from hubris.” 

Teori ini mungkin sedikit menjawab kenapa ada banyak OKB yang belagu di sekitar kita. Bayangkan, kita yang dulunya sangat sulit untuk mendapat sesuap nasi, tiba-tiba diberi anugerah untuk bisa memilih apa saja makanan yang ingin kita lahap, ke mana saja kita ingin pergi, dan kendaraan mewah apa saja yang bisa kita naiki. Sebagai manusia yang berusaha jujur, saya mungkin akan mengalami masa-masa indah di mana saya bisa sejenak melupakan masa lalu saya yang miskin dan menikmati momen-momen berharga menjadi orang kaya.

Analogi lainnya, mirip seperti kita yang berada di tangga paling bawah bergerak menuju tangga teratas sehingga tidak mampu melihat dengan jelas apa yang dialami oleh rekan-rekan kita yang masih berada di bawah. Inilah yang mungkin menyebabkan orang-orang kaya tidak lagi melihat kemiskinan sebagai realitas, melainkan sebagai bagian dari masa lalu mereka yang kelam.

The Blind Spot: Ketika Pengetahuan Mengesampingkan Pengalaman Manusia

Mengutip laman Psychology Today, Henriques menjelaskan bahwa pada awalnya, manusia memiliki kompas moral yang utuh melalui agama dan filsafat. Namun, sejak Abad Pencerahan, sains dan kapitalisme hadir dengan memisahkan dunia menjadi dua kotak yang berbeda: angka-angka objektif dan pengalaman subjektif. Sains kemudian hanya fokus pada angka dan materi sambil membuang aspek pengalaman batin manusia ke dalam titik buta (the blind spot). Akibatnya, para elite global yang tumbuh dalam sistem ini cenderung memandang dunia hanya sebagai mesin raksasa yang diatur oleh statistik dan efisiensi sehingga mereka mengalami “amnesia pengalaman”. Mereka menjadi jahat tidak selalu karena kejahatan murni, tetapi karena buta terhadap kemanusiaan; mereka terlalu silau oleh angka dan materi hingga lupa bahwa di balik angka-angka itu ada manusia nyata yang bisa merasakan sakit. 

Jika kita analogikan kemiskinan sebagai kegelapan, maka kekayaan dapat dianalogikan sebagai cahaya. Ini berarti bahwa ketika seseorang berada di puncak kekayaan (elite global), mereka dikelilingi oleh cahaya kemewahan, pujian dan penghormatan, serta privilese. Sayangnya, banyak orang lupa bahwa cahaya yang terlalu terang bisa menciptakan titik buta alias the blind spot. Mereka tidak lagi bisa melihat bayangan di bawah mereka karena terlalu silau akan eksistensi mereka sendiri.

Teori ini mungkin menjawab pertanyaan teman saya tadi, tentang kenapa banyak orang yang baik hatinya tapi tidak kaya. Ya, karena kita bisa melihat realitas secara jelas jika intensitas cahaya yang kita miliki tidak terlalu terang dan menyilaukan.

Mungkinkah Ada Elite Global yang Baik Hati?

Nothing is impossible. Tapi, jalannya tentu saja berat. Untuk menjadi kaya sekaligus mulia, kita perlu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Di satu sisi, kita harus mengejar materi sebagai “orang besar” yang bergerak menuju langit, namun di sisi lain, kita harus tetap memiliki mentalitas “orang kecil” yang bergerak menuju bumi.

Tantangannya, untuk melawan kejahatan, kita sering kali harus masuk ke medan tempur yang sama, menggunakan senjata yang sama, dan bermain dengan aturan yang sama. Pertanyaannya: apakah kita bisa melawan naga tanpa ikut menjadi naga?

Sampai sini, setidaknya menurut saya, mungkin kita memerlukan justifikasi bahwa orang-orang berhati mulia bukan orang yang gagal menjadi kaya, melainkan orang-orang yang memilih menukar "ambisi menjadi kaya" mereka dengan "humanisme yang setara". Untuk membangun "elite global baik hati", kita membutuhkan cahaya yang terbiaskan, individu yang cahayanya mampu melewati prisma empati sehingga ia tidak membakar atau menyilaukan, melainkan terurai menjadi warna-warni kebaikan di berbagai lapisan.

Mungkin.

Comments

Bacaan Populer

Spiritual Awakening, Apakah Kamu Sedang Mengalaminya?

Bagi sebagian orang, istilah spiritual awakening mungkin terdengar asing. Tapi, bisa jadi mereka semua pernah atau bahkan sedang mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah “pencerahan” atau “kebangkitan spiritual”, sebagian lagi menyebutnya “kesadaran spiritual”. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya sebagai kesadaran spiritual karena bagi saya, setiap orang sudah mengalami perjalanan spiritual sejak lahir. Namun, tidak semua orang menyadarinya.  Sebagian orang mungkin akan merasakan kedamaian tersendiri saat mengalaminya, tapi ada juga sebagian orang yang justru merasakan hal-hal lain di luar kendali, seperti merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, kemelut pikiran dan hati, sampai merasakan adanya gangguan mental yang sering kali dianggap sebagai penyakit. Untuk lebih memahaminya, mari kita perjelas dulu batasan kesadaran spiritual ini! Spiritual Awakening © Retha Ferguson via Pexels Apa itu kesadaran spiritual? Ketika seseorang melalui kesadar...

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath. Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri. Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi. © Pixabay via Pexels Empath dan HSP Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berb...

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan.  © Pexels #1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dila...

Past Life Bukan Omong Kosong, Ini 11 Tanda Kamu Pernah Mengalaminya

Ketika kita memahami reinkarnasi sebagai pendewasaan atau evolusi energi jiwa, sebagian dari kita secara intuitif mengalami hal-hal yang berbeda dalam hidup yang mencerminkan usia energi yang dikenal sebagai jiwa.  Semakin kita dewasa, semakin kita berbakat dalam bidang kehidupan tertentu, maka semakin sering pula kita mengalami pengalaman kebangkitan spiritual. Berikut ini adalah beberapa tanda kalau kamu pernah bereinkarnasi. Past Life © Mike via Pexels #1: Mimpi berulang Mimpi adalah cerminan dari pikiran alam bawah sadar, sedangkan mimpi berulang-ulang kadang-kadang menandakan trauma, ketakutan, atau masalah yang sedang diproses oleh otak sebagai “urusan yang belum selesai”.  Mimpi berulang berpotensi menjadi refleksi dari pengalaman kehidupan masa lalu. Banyak orang mengklaim telah mengalami peristiwa tertentu, melihat orang tertentu, atau sering pergi ke tempat-tempat tertentu dalam mimpi mereka yang terasa sangat familiar.  Misalnya, saya sering kali...

Dalam Penciptaan Hawa, Tuhan Tak Patriarkis

Baru-baru ini, teman baik saya mengirimkan thread Twitter soal Hawa yang mendorong saya untuk kemudian mengenal perempuan pertama di muka bumi ini secara lebih dekat.  Sebagian dari kita mungkin sudah mendengar kisah bagaimana Adam diciptakan dan diperkenalkan kepada makhluk Tuhan lainnya semasa di surga. Bahkan, beberapa literatur menyebutkan bahwa Adam hidup sampai 930 tahun. Lalu, bagaimana dengan Hawa? Bagaimana ia diciptakan, diturunkan ke bumi, sampai akhirnya melahirkan manusia-manusia lainnya di muka bumi ini? © Luis Quintero from Pexels Benarkah Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam? Menurut tradisi Yahudi , Adam dikecam sebelum dia dipertemukan dengan Hawa. Dalam buku abad pertengahan yang berjudul The Alphabet of Ben-Sira, disebutkan bahwa istri pertama Adam adalah Lilith yang marah dan kemudian bersekutu dengan setan sehingga Tuhan mengecamnya dan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Konsep inilah yang kemudian mengonstruksi anggapan bahwa Hawa (perempu...