Beberapa waktu ke belakang, mungkin kita amat sering mendengar berita-berita tentang kejahatan. Mulai dari kejahatan yang remeh-temeh, seperti maling ayam tetangga, sampai kejahatan luar biasa (yang oleh sebagian besar masyarakat global kini sudah dianggap biasa saja), seperti maling uang rakyat.
Melihat dunia yang makin carut-marut, sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya: “masih adakah manusia kaya raya yang juga kaya hati?”
Dulu, saya bercita-cita menjadi orang kaya supaya bisa menolong sesama yang miskin papa dan menciptakan dunia yang tak lagi nestapa. Namun, ternyata menjadi kaya raya dan baik hati sering kali tidak bisa jalan beriringan. Saat kondisi finansial saya mulai meroket, kadang saya menjadi alpa dengan niat awal saya menjadi kaya. Sering kali saya menjadi buta dalam melihat kemiskinan sesama, hingga akhirnya Tuhan menjatuhkan saya berkali-kali ke lubang yang sama: kemiskinan harta.
Beberapa kali saya mencoba bangkit untuk kembali membenahi niat baik menjadi kaya. Namun, jalan menjadi kaya raya dengan niat mulia ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya sering kali dihadapkan pada pilihan: kaya tapi merusak nilai-nilai yang ada atau tetap bermoral namun dengan harta seadanya?
Sore ini, saya sedang dalam perjalanan dari Padalarang menuju Kota Semarang. Di tengah jalan, beberapa kali saya melihat keindahan pematang sawah dari jendela kereta, lalu beberapa kali pula saya melihat rumah-rumah di pinggir rel terendam banjir. Sesekali saya tidak sengaja menguping pembicaraan penumpang lain yang berkata, “Di sini memang sudah biasa banjir seperti itu.”
Saat itulah saya bertanya dalam hati, “Bisa nggak ya saya jadi orang kaya, lalu beli tanah-tanah ini dan menjadikannya sebagai aset yang bisa menjamin kelangsungan hidup banyak orang sehingga di masa depan, kita nggak perlu lagi mendengar berita tentang kelaparan dan kejahatan akibat tidak mampu membeli beras?”
Sambil berkhayal menjadi orang kaya yang baik hati dan tidak sombong, saya membuka Instagram dan langsung tertuju pada story sekaligus thread teman saya (yang juga mantan atasan saya di kantor sebelumnya, sebut saja CEO yang menyamar menjadi tukang lari, hehe) yang berbunyi:
Melihat pertanyaan tersebut, saya berpikir, apakah ada teori yang bisa menjelaskan ini semua?
The Hubris Syndrome: Ketika Orang Kaya Menjadi Jahat
Dikutip dari laman Atlassian, saat manusia memiliki harta dan kekuasaan, ia cenderung mengalami hubris syndrome alias sindrom kesombongan yang menyebabkan pandangan tentang kemampuan dan diri mereka berubah sehingga mengakibatkan kepercayaan diri yang berlebihan, obsesi terhadap citra diri, dan penghinaan terhadap kritik. Lebih lanjut, psikiater Dr. Steven Berglas dalam sebuah artikel yang dipublikasikan Harvard Business Review berkata, “Many good people will, under bad circumstances, suffer from hubris.”
Teori ini mungkin sedikit menjawab kenapa ada banyak OKB yang belagu di sekitar kita. Bayangkan, kita yang dulunya sangat sulit untuk mendapat sesuap nasi, tiba-tiba diberi anugerah untuk bisa memilih apa saja makanan yang ingin kita lahap, ke mana saja kita ingin pergi, dan kendaraan mewah apa saja yang bisa kita naiki. Sebagai manusia yang berusaha jujur, saya mungkin akan mengalami masa-masa indah di mana saya bisa sejenak melupakan masa lalu saya yang miskin dan menikmati momen-momen berharga menjadi orang kaya.
Analogi lainnya, mirip seperti kita yang berada di tangga paling bawah bergerak menuju tangga teratas sehingga tidak mampu melihat dengan jelas apa yang dialami oleh rekan-rekan kita yang masih berada di bawah. Inilah yang mungkin menyebabkan orang-orang kaya tidak lagi melihat kemiskinan sebagai realitas, melainkan sebagai bagian dari masa lalu mereka yang kelam.
The Blind Spot: Ketika Pengetahuan Mengesampingkan Pengalaman Manusia
Mengutip laman Psychology Today, Henriques menjelaskan bahwa pada awalnya, manusia memiliki kompas moral yang utuh melalui agama dan filsafat. Namun, sejak Abad Pencerahan, sains dan kapitalisme hadir dengan memisahkan dunia menjadi dua kotak yang berbeda: angka-angka objektif dan pengalaman subjektif. Sains kemudian hanya fokus pada angka dan materi sambil membuang aspek pengalaman batin manusia ke dalam titik buta (the blind spot). Akibatnya, para elite global yang tumbuh dalam sistem ini cenderung memandang dunia hanya sebagai mesin raksasa yang diatur oleh statistik dan efisiensi sehingga mereka mengalami “amnesia pengalaman”. Mereka menjadi jahat tidak selalu karena kejahatan murni, tetapi karena buta terhadap kemanusiaan; mereka terlalu silau oleh angka dan materi hingga lupa bahwa di balik angka-angka itu ada manusia nyata yang bisa merasakan sakit.
Jika kita analogikan kemiskinan sebagai kegelapan, maka kekayaan dapat dianalogikan sebagai cahaya. Ini berarti bahwa ketika seseorang berada di puncak kekayaan (elite global), mereka dikelilingi oleh cahaya kemewahan, pujian dan penghormatan, serta privilese. Sayangnya, banyak orang lupa bahwa cahaya yang terlalu terang bisa menciptakan titik buta alias the blind spot. Mereka tidak lagi bisa melihat bayangan di bawah mereka karena terlalu silau akan eksistensi mereka sendiri.
Teori ini mungkin menjawab pertanyaan teman saya tadi, tentang kenapa banyak orang yang baik hatinya tapi tidak kaya. Ya, karena kita bisa melihat realitas secara jelas jika intensitas cahaya yang kita miliki tidak terlalu terang dan menyilaukan.
Mungkinkah Ada Elite Global yang Baik Hati?
Nothing is impossible. Tapi, jalannya tentu saja berat. Untuk menjadi kaya sekaligus mulia, kita perlu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Di satu sisi, kita harus mengejar materi sebagai “orang besar” yang bergerak menuju langit, namun di sisi lain, kita harus tetap memiliki mentalitas “orang kecil” yang bergerak menuju bumi.
Tantangannya, untuk melawan kejahatan, kita sering kali harus masuk ke medan tempur yang sama, menggunakan senjata yang sama, dan bermain dengan aturan yang sama. Pertanyaannya: apakah kita bisa melawan naga tanpa ikut menjadi naga?
Sampai sini, setidaknya menurut saya, mungkin kita memerlukan justifikasi bahwa orang-orang berhati mulia bukan orang yang gagal menjadi kaya, melainkan orang-orang yang memilih menukar "ambisi menjadi kaya" mereka dengan "humanisme yang setara". Untuk membangun "elite global baik hati", kita membutuhkan cahaya yang terbiaskan, individu yang cahayanya mampu melewati prisma empati sehingga ia tidak membakar atau menyilaukan, melainkan terurai menjadi warna-warni kebaikan di berbagai lapisan.
Mungkin.


Comments
Post a Comment