Skip to main content

Dalam Penciptaan Hawa, Tuhan Tak Patriarkis

Baru-baru ini, teman baik saya mengirimkan thread Twitter soal Hawa yang mendorong saya untuk kemudian mengenal perempuan pertama di muka bumi ini secara lebih dekat. 
Sebagian dari kita mungkin sudah mendengar kisah bagaimana Adam diciptakan dan diperkenalkan kepada makhluk Tuhan lainnya semasa di surga. Bahkan, beberapa literatur menyebutkan bahwa Adam hidup sampai 930 tahun. Lalu, bagaimana dengan Hawa? Bagaimana ia diciptakan, diturunkan ke bumi, sampai akhirnya melahirkan manusia-manusia lainnya di muka bumi ini?
Benarkah Hawa Diciptakan dari Tulang Rusuk Adam
© Luis Quintero from Pexels

Benarkah Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam?
Menurut tradisi Yahudi, Adam dikecam sebelum dia dipertemukan dengan Hawa. Dalam buku abad pertengahan yang berjudul The Alphabet of Ben-Sira, disebutkan bahwa istri pertama Adam adalah Lilith yang marah dan kemudian bersekutu dengan setan sehingga Tuhan mengecamnya dan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Konsep inilah yang kemudian mengonstruksi anggapan bahwa Hawa (perempuan) harus menaati Adam (laki-laki).
Kisah tentang Lilith tidak terdapat dalam Alquran maupun Alkitab. Namun, sebagian besar pendapat tentang Lilith merujuk pada Kejadian 1:27 yang mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan dari tanah liat dalam waktu yang bersamaan. Sementara itu, Kejadian 2:22 merepresentasikan penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki yang diyakini sebagai penciptaan Hawa.
Mengutip Massachusetts Bible Society, mayoritas cendekiawan berpendapat bahwa kisah-kisah dalam bab-bab pertama Kejadian tidak merepresentasikan peristiwa-peristiwa sejarah yang nyata, tetapi lebih kepada penyampaian ide-ide teologis dan refleksi-refleksi tentang sifat-sifat kemanusiaan dan kondisi manusia. Artinya, penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam pun dapat diinterpretasikan lebih luas ketimbang memaknainya secara harfiah. 
Sementara itu, dalam ajaran Islam, terdapat ayat Alquran yang menyebutkan penciptaan manusia sebagai berikut:
Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dari ′diri yang satu′ (nafs wahidah), dan darinya Allah menciptakan pasangannya (zawjaha), dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan wanita banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa:1)
Dalam ayat tersebut, tidak ada satu pun kalimat atau kata yang merepresentasikan perbedaan substansial mengenai penciptaan perempuan dan laki-laki. Ini menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak membeda-bedakan kedudukan perempuan dan laki-laki. 
Lalu, dari mana asal-usul “Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam”?
Banyak ulama yang menginterpretasikan secara harfiah makna menciptakan kalian dari diri yang satu (nafs wahidah), dan darinya Allah menciptakan pasangannya (zawjaha) sehingga menganggap bahwa Hawa benar-benar diciptakan dari Adam.
Dalam Exploring Islam, Farhad Shafti menyebutkan bahwa penggunaan kalimat tersebut tidak selalu bermakna harfiah. Kalimat itu bisa juga merujuk pada ‘sifat tertentu’, seperti pada ayat yang berbunyi, “Manusia diciptakan dari sifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Anbiyaa:37)
Mitos penciptaan Hawa dari tulang rusuk juga kemudian semakin berkembang dalam kebudayaan Islam karena hadis berikut:
"Bersikap baiklah kepada perempuan karena seorang ia diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika kalian mencoba meluruskannya, itu akan patah. Sebaliknya, jika kalian membiarkannya apa adanya, itu akan tetap bengkok. Jadi, perlakukanlah wanita dengan baik." (HR. Bukhari 3331 & Muslim 1468)
Banyak orang yang benar-benar mengartikan narasi tersebut secara harfiah sehingga meyakini bahwa Hawa memang benar-benar diciptakan dari tulang rusuk Adam. Namun, dalam perkembangan kajian Islam, beberapa ulama kontemporer meyakini adanya perbedaan interpretasi dalam konteks ini.
Dalam jumrah.com, Wahbah Zuhaili menyebutkan bahwa narasi penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam adalah untuk merepresentasikan kekuasaan Allah dalam menciptakan sesuatu yang hidup dari makhluk hidup lainnya, bukan dengan cara kelahiran seperti yang kita alami sekarang. Bahkan, dalam perkembangan sains, diketahui bahwa terdapat kesamaan peta genetik dan jumlah kromosom pada Adam dan Hawa. Ia juga menyebutkan bahwa pesan penting dalam hadis di atas bukan tentang penciptaan Hawa, melainkan tentang perintah bagi kaum laki-laki untuk bersikap baik terhadap perempuan.
Dari segi bahasa, Zuhaili juga menjelaskan bahwa kata min dalam bahasa Arab yang biasanya bermakna ‘dari’ bisa juga bermakna ‘seperti’ sehingga kalimat perempuan diciptakan dari tulang rusuk lebih condong kepada perempuan diciptakan seperti tulang rusuk.
Lebih lanjut lagi, konsep teologis yang menganggap bahwa Hawa benar-benar diciptakan dari tulang rusuk Adam juga berdampak signifikan terhadap konstruksi psikologis, sosial budaya, ekonomi, dan politis sehingga banyak orang menganggap perempuan sebagai manusia kelas dua yang kedudukannya berada di bawah laki-laki dan harus selalu taat pada perintah laki-laki.
Representasi kesetaraan dalam penciptaan manusia
Sebagian literatur menyebutkan bahwa sebagai bagian dari hukuman karena Hawa telah memakan buah Pohon Pengetahuan, Tuhan memberinya rasa sakit ketika melahirkan. Beberapa pihak menganggap hukuman ini merupakan bagian dari wujud tanggung jawab Hawa atas dosanya.
Tidak sedikit masyarakat yang percaya bahwa Hawa adalah biang keladi dari peristiwa diturunkannya Adam ke muka bumi. Dalam konteks sastra lisan, Hawa dianggap sebagai perempuan yang menggoda Adam untuk memakan buah Pohon Pengetahuan atau buah khuldi. Pada abad pertengahan dan modern, banyak pihak meyakini kalau Hawa menggoda Adam untuk melakukan dosa pertama.
Dalam ajaran Islam, disebutkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri sehingga Alquran menyebutkan, baik Adam maupun Hawa sama-sama bertanggung jawab atas dosa memakan buah khuldi yang dilarang oleh Allah. Tapi, apakah karena kesalahan itulah maka keduanya benar-benar diusir dari surga?
Dalam QS. Al-Baqarah:30 yang berbunyi, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” yang artinya, sejak awal Adam dan Hawa memang diciptakan untuk tinggal di bumi. Peristiwa tersebut digambarkan terjadi sebelum penciptaan Adam dan Hawa.
Di sisi lain, sebuah studi komparatif antara Alquran dan Taurat mengatakan bahwa pemahaman surga dalam konteks tempat tinggal Adam dan Hawa berbeda dengan surga yang kita idam-idamkan selama ini karena surga yang digambarkan di akhirat memiliki nilai-nilai yang tidak dinyatakan dalam surga tempat kediaman Adam dan Hawa sebelum turun ke bumi, yaitu:
  • Surga akhirat penghuninya kekal di dalamnya. Jika merujuk pada nilai tersebut, maka tidak mungkin Adam dan Hawa diusir dari surga.
  • Setan tidak dapat masuk ke dalamnya. Sementara dalam konteks kejadian Adam dan Hawa, keduanya diturunkan karena tergoda bujukan setan.
  • Surga pascakiamat disediakan sebagai balasan bagi orang-orang yang telah berbuat baik. Namun, Adam dan Hawa mendiami surga sebelum adanya perhitungan amal.
  • Surga di akhirat bersifat bebas sehingga tidak ada larangan bagi penghuninya untuk melakukan apa pun. Dalam konteks ini, Adam dan Hawa mendapati satu larangan untuk tidak mendekati buah khuldi (pohon pengetahuan).
Terlepas dari benar atau tidaknya kebenaran tentang surga tersebut, kita tetap bisa melihat bahwa Tuhan tidak mendiskriminasi Adam dan Hawa sebagai entitas dominan dan subordinat. Keduanya diciptakan secara bersamaan dengan kedudukan yang setara.
Jika merujuk pada ayat dan hadis yang sudah disebutkan di atas (dan kita bersepakat bahwa narasi tersebut tidak harus diinterpretasikan secara harfiah), terdapat representasi kesetaraan yang digunakan dalam metafora perempuan diciptakan dari (seperti) tulang rusuk. 
Seorang ahli tafsir Alkitab abad ke-18 mengatakan, “Hawa tidak dibuat dari kepala Adam untuk memerintahnya atau dari kaki Adam untuk diinjak-injak olehnya, melainkan dari tulang rusuk yang ada di sisinya agar kedudukannya setara, di bawah lengannya untuk dilindungi, dan dekat hatinya untuk dicintai.
Di lain pihak, Katekismus menyebutkan, “Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk satu sama lain, bukan berarti Allah membiarkan mereka setengah jadi dan tidak lengkap: Allah menciptakan mereka untuk menjadi persekutuan orang-orang, yang masing-masing dapat membantu orang lain, karena mereka sesama manusia dan saling melengkapi, seperti halnya maskulin dan feminin.”(Catechism of the Catholic Church:372)
Sejalan dengan itu, seorang ahli paleontologi dan ahli esai Harvard bernama Stephen Jay Gould mengatakan bahwa penciptaan Adam dan Hawa membuat kita menyadari bahwa semua manusia, meskipun terdapat perbedaan dalam penampilan fisik, tetap berasal dari entitas yang sama. Ada jenis persaudaraan biologis yang jauh lebih mendalam daripada yang pernah kita sadari.
Arti nama Adam dan Hawa
Beberapa pihak meyakini bahwa nama Adam berasal dari kata adom yang berarti ‘merah’ yang kemudian dikaitkan dengan kata dominion yang berarti ‘kekuasaan’. Sementara itu, EW Lane dalam leksikon Arab-Inggrisnya menyebutkan bahwa Hawa berasal dari bahasa Arab yang bermakna ‘kecokelatan’ atau ‘sawo matang’.
Namun, dalam perkembangannya, banyak ahli tafsir dan cendekiawan yang meyakini bahwa Adam berasal dari bahasa Ibrani klasik yang berarti ‘bumi’, ‘manusia’, dan ‘tanah’. Kata ini berkaitan dengan adamah yang berarti ‘tanah’ dan dam yang berarti ‘darah’, serta tidak ada hubungannya dengan kata dominion yang berasal dari bahasa Latin yang kemudian menjadi istilah Indo-Eropa.
Sementara itu, nama Hawa bersumber dari banyak bahasa, yaitu bahasa Ibrani chavvah/havvah yang berarti ‘bernapas’ atau chayyah/hayyah yang berarti ‘hidup’, dalam bahasa Yunani eve yang berarti ‘hidup’, dan bahasa Arab hawwaa yang berarti ‘kehidupan’. Artinya, bumi (Adam) dan kehidupan (Hawa) adalah dua entitas yang saling melengkapi. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah di antara keduanya. 
Kedudukan tersebut kemudian diperjelas dengan pendapat Carol Lynos Meyers yang mengatakan bahwa kisah Hawa yang beredar di kalangan masyarakat pada abad pertengahan memengaruhi gagasan masyarakat Barat terkait gender dan identitas perempuan.
Meski banyak mitos yang beredar tentang persepsi negatif Hawa, Gereja Katolik mengakui Adam dan Hawa sebagai santo dan santa. Hal ini direpresentasikan dengan adanya pesta liturgi tradisional untuk keduanya yang dirayakan pada 24 Desember sejak Abad Pertengahan. Sementara dalam Islam, Hawa dipandang sebagai ummul basyar (ibu semua umat manusia) sehingga merepresentasikan bahwa perempuan memiliki kedudukan yang setara dan bukan sebagai subordinat di mata dunia.

Comments

  1. Memang benar bahwa hawa dibentuk dari Adam bukan dari tulang rusuknya.
    Adam itu sudah sempurna maka darinya diciptakan hawa,jadi keduanya makhluk yg sempurna.

    “Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dari ′diri yang satu′ (nafs wahidah), dan darinya Allah menciptakan pasangannya (zawjaha), dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan wanita banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa:1)

    Maksudnya dari ayat yg terakhir adalah:Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

    Engkau adalah Aku ,dimana engkau disitu Aku.Aku adalah saksi atas perbuatanmu.

    salaamun alaikum ,
    ustadz sayyid habib yahya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamu'alaikum wr.wb. Al Quran memang diturunkan utk membenarkan kitab sebelimnya. Membenarkan bisa berarti nenganggap venar atau neluruskan. Keren istilah yg Allah pilih.
      Menurut oemahaman saya , sehubungan perkembangan ilmu dan teknologi jakan now pt "kloning"/kultur jaringan seharusnya semakin membuka pikiran dan hati manusia bahwa begitulah Allah create wanita melalui "kultur jaringan" namun tentu saja lebih canggih dibanding nuatan manusia. Kalau manusia baru bisa kultur jaringan hasilkan spesimen yg sama, Kalau Allah sdh menghasilkan yg melengkapi/pasangannya/lawan jenisnya. KEREN. Subhanallah.
      Jadi spt kultur jaringan, wanita hanya "wadah" bukan bibit utama. Mungkin di kitab bisa salah terjemah, mungkin diamvilkan dari organ dibawah tulang rusuk yg namanya "Hati/Jantung" jaman dulu belum terkenal istilah nama organ tubuh itu. Jadi Hawa dibuat melalui kultue jaringan "jantung/hati". Tak heran wanita selalu terbawa perasaan.
      Hukum yg diterapkan pun demikian laki2 yg tanggungjawab atas semua. Termasuk urusan anak. Karena pria.memang bibit utama.
      Seharusnya kita.makin sadar kita sdh makin dekat akhir jaman. Tanda-tanda kekuasaan Allah dan kisah2 dlm firmannya semakin terbukti kebenarannya.
      Bersegeralah beriman pada Allah sbg Tuhan pencipta pars Mahluknya. Jauh sebelum Uzair/Musa/Maria-Maryam/Isa-Jesus. Mereka semua adalah ciptaan Allah yang Maha Esa. Tuhan itu satu tidak butuh pertolongan, tidak butuh isteri, anak.
      Tuhan bukan Bapa. Karena Bapa itu tak bisa awasi isteri dan anak2nya ketika ia bekerja. Ia tak bisa melindungi keluarga ketika pergi jauh mencari nafkah.. Tuhan itu selalu dekat dan selalu mengawasi dan tak pernah lelah mengurus hambanya.
      Mohon sadarkan teman-teman, jangan rendah Tuhan dengan menyebutnya sbg Bapa. Tuhan tidak selemah Bapa.
      Sekedar sharing . Semoga semakin membuka pikiran kita. Yg memang diperintah Tuhan utk memikirkan ciptaannya. Wassalam.
      Tini Srihartati

      Delete
  2. Saya akan menjelaskan sedikit atas salah paham yg terjadi atas penciptaan manusia dan keturunannya.

    “Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dari ′diri yang satu′ (nafs wahidah), dan darinya Allah menciptakan pasangannya (zawjaha), dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan wanita banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa:1)

    Jika Adam adalah seorang lelaki maka keturunannya mengalami inses!

    maka akan terjadi: Hubungan sumbang diketahui berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan). Fenomena ini juga umum dikenal dalam dunia hewan dan tumbuhan karena meningkatnya koefisien kerabat-dalam pada anak-anaknya. Akumulasi gen-gen pembawa 'sifat lemah' dari kedua tetua pada satu individu (anak) terekspresikan karena genotipe-nya berada dalam kondisi homozigot.

    Adam adalah sosok manusia yg tidak diketahui jenisnya lelaki/wanita.
    Berhubungan ayat di atas ada berkemungkinan ditafsirkan bahwa Adam memiliki isteri yg namanya hawa yg diciptakan dari dirinya,maka penafsiran ini sangat tidak tepat.
    padahal hawa itu mengartikan kehidupan (yg bernafas/bernyawa) bukan temen hidup tetapi menunjukkan diri adam sendiri yg hidup dan bernyawa bukan pasangannya.Adam dan hawa adalah satu dan entitas bukan 2 entitas sebagaimana ditafsirkan).

    Pengertian ayat di atas adalah sebagai berikut: Bahwa dari anak -anak Adamlah dijadikan para lelaki dan para perempuan dan dari mereka ini penerusan keturunannya.
    Jadi adam(a) bukanlah sosok lelaki tetap sosok wanita.
    lihatlah maryam yg tidak bersuami tetapi memiliki anak( isa binti maryam).

    Ada ayat yg berbunyi:
    Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali Imran : 59)

    kejadian ini terjadi 2 kali yaitu pada Adam(a) dan Maryam(a)
    kedua sosok ini adalah wanita!
    ini selalu dirahasiakan.

    Dr. ustadz sayyid habib yahya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam, terima kasih sudah berbagi pandangan dan pengetahuan soal konteks gender dalam interpretasi ini. Konteks penyatuan yang Bapak sebutkan memang masuk akal, terlebih jika dihubungkan dengan etimologi "adamah" yang beramakna 'bumi' dan bumi selalu diasosiasikan dengan perempuan. Semoga, apa pun ilmu dan pemahaman yang kita punya bisa senantiasa meningkatkan spiritualitas kita untuk sampai ke tahap makrifat.

      Salam 🙏

      Delete
  3. LILITH, the Divine Thing.
    Yesaya 34:14 (NRSV), "There too Lilith shall repose, and find a place to rest".
    https://www.youtube.com/watch?v=tSdVWYBdtnk

    ReplyDelete

Post a Comment

Bacaan Populer

Spiritual Awakening, Apakah Kamu Sedang Mengalaminya?

Bagi sebagian orang, istilah spiritual awakening mungkin terdengar asing. Tapi, bisa jadi mereka semua pernah atau bahkan sedang mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah “pencerahan” atau “kebangkitan spiritual”, sebagian lagi menyebutnya “kesadaran spiritual”. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya sebagai kesadaran spiritual karena bagi saya, setiap orang sudah mengalami perjalanan spiritual sejak lahir. Namun, tidak semua orang menyadarinya.  Sebagian orang mungkin akan merasakan kedamaian tersendiri saat mengalaminya, tapi ada juga sebagian orang yang justru merasakan hal-hal lain di luar kendali, seperti merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, kemelut pikiran dan hati, sampai merasakan adanya gangguan mental yang sering kali dianggap sebagai penyakit. Untuk lebih memahaminya, mari kita perjelas dulu batasan kesadaran spiritual ini! Spiritual Awakening © Retha Ferguson via Pexels Apa itu kesadaran spiritual? Ketika seseorang melalui kesadaran s

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath. Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri. Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi. © Pixabay via Pexels Empath dan HSP Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berb

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan.  © Pexels #1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dilahirk

Kenapa Chat yang Tidak Dibalas Bikin Baper?

Saya bukan tipe orang yang gampang baper kalau lihat pasangan chat dengan mantan kekasihnya karena bagi saya, romantisme tidak berakhir hanya karena percakapan dua insan yang pernah merajut kasih saling bersilaturahmi. Itu saya, mungkin lain lagi dengan kamu. Tapi, ada satu hal yang bisa membikin saya baper dan berujung pada kemarahan, kekecewaan, atau kekhawatiran : kalau chat saya cuma di- read atau pembicaraan tidak ditutup dengan baik . Ada yang punya pengalaman serupa? Pasti banyak, dong! © Pixabay.com Bagi sebagian orang, pernyataan yang tidak dibalas dalam sebuah percakapan teks (SMS atau DM atau apa pun) mungkin hal biasa yang tidak usah dibesar-besarkan untuk jadi masalah serius. Tapi, bagi saya, ini serius. Menyangkut harga diri, etika, perasaan, dan banyak lagi. Pernah suatu hari, saya meminta tolong pada teman saya melalui chat yang cuma di- read. Bagaimana perasaan saya? Marah, karena dia tidak membalas chat saya. Berpikiran negatif, merasa kalau dia tidak mau m