Skip to main content

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath.
Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri.
Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.
Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi.
© Pixabay via Pexels
Empath dan HSP
Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berbeda, menyadari bagaimana perasaan orang lain, hingga rasa sakit apa yang mereka alami dan apa yang mereka butuhkan secara emosional.
Menurut Judith Orloff, penulis buku The Empath’s Survival Guide, seorang empath tidak hanya bisa merasakan emosi orang lain, tapi juga sakit fisik yang orang lain alami. Bahkan, sering kali seorang empath bisa merasakan niat seseorang dan dari mana ia berasal. Dengan kata lain, seorang empath cenderung menangkap banyak pengalaman hidup orang-orang di sekitarnya.
Meski banyak orang memiliki sensitivitas tinggi yang disebut highly sensitive people (HSP), ada perbedaan antara empath dan HSP. Memiliki tingkat empati yang tinggi hanyalah satu dari sifat lain yang membuat seseorang bisa dikategorikan sebagai HSP. Hampir semua empath adalah HSP. Tapi, HSP belum tentu seorang empath.
Seorang empath cenderung menempatkan diri di posisi orang lain sama seperti diri kita sendiri sehingga benar-benar merasakan emosi dan rasa sakit (fisik) orang-orang yang ada di sekelilingnya. Misalnya, saat ibu saya merasa sedih, maka saya akan merasa sedih. Saat almarhum adik saya terkena serangan kanker usus, maka serta-merta saya menjadi sangat cemas dan tidak bisa tidur selama berbulan-bulan. Bahkan, di malam sakaratul mautnya pun saya merasakan sejenis rasa yang kelak saya sebut “sakaratul maut palsu”. 
Di satu pihak, seorang empath memiliki kelebihan yang membuatnya menjadi orang yang penuh cinta dan kasih sayang. Tapi, di lain pihak, seorang empath juga akan merasa sangat kelelahan karena harus merasakan berbagai macam emosi dan kondisi fisik orang-orang sekitarnya. Repot dong? Jelas!
Tapi, menurut Judith, hal ini bisa diatasi dengan menjalankan strategi perlindungan sensitivitas dan menentukan batas-batas yang sehat. (Ini akan kita bahas di tulisan tentang empath selanjutnya, ya!)
Jadi, apakah kamu termasuk empath? Berikut adalah ciri-ciri yang biasanya melekat dalam diri seorang empath.
#1: Menyerap emosi orang-orang di sekelilingnya
Seorang empath akan dengan mudah mengetahui emosi seseorang yang ada di sekelilingnya, baik yang ditemuinya maupun tidak. Bahkan, seorang empath bisa mengenali gejala emosional yang dimiliki seseorang meskipun orang tersebut tidak menceritakannya sama sekali.
Misalnya, saya pernah merasa tidak berguna dan marah pada diri sendiri. Padahal, saya tidak punya masalah apa pun di kehidupan saya. Beberapa menit setelah kemarahan mereda, saya menghubungi salah seorang teman dekat saya dan mengatakan perasaan saya. Ternyata, emosi dialah yang sedang saya serap saat itu.
#2: Emosi di ruang publik
Seorang empath cenderung sulit berada di ruang publik. Hal ini disebabkan oleh “daya serap” yang tinggi sehingga bisa saja menyerap beragam energi orang-orang tak dikenal sehingga menyebabkan panik, cemas, bahkan emosi yang meledak-ledak secara tiba-tiba. Bahkan, seorang empath juga bisa mengenali emosi atau sejarah emosional suatu tempat.
#3: Menyerap energi lingkungan
Tempat yang tenang, damai, dan menyenangkan bisa membuat seorang empath menjadi lebih produktif dan berkembang karena energi yang diserapnya. Sebaliknya, tempat yang kacau, berantakan, dan penuh dengan masalah akan menjadi penyebab seorang empath menjadi sangat emosional dan bahkan mengalami kelelahan mental.
#4: Mengetahui dari mana seseorang berasal
Bukan cenayang, namun seorang empath juga bisa merasakan dari mana seseorang berasal hanya dengan merasakan energi dan emosi orang tersebut. Dalam hal ini, saya sering sekali merasa yakin bahwa seseorang yang baru saja saya kenal berasal dari lingkungan keluarga yang berantakan alias broken home. Atau, pernah sekali saya merasakan energi purba seseorang yang berasal dari tanah adat di wilayah Jawa Barat.
#5: Menjadi tempat curhat
Punya sensitivitas yang tinggi dan wawasan yang luas tentang energi dan emosi orang-orang sekitar menjadikan seorang empath sering kali didatangi untuk menjadi “pelayan” curhat. Hal ini disebabkan oleh kemampuan empath untuk menjadi seorang pendengar yang baik sekaligus sebagai solution maker.
#6: Sensitif terhadap tragedi dan kekerasan
Menonton acara atau berita tentang suatu peristiwa kekerasan, bahkan mendengar kisahnya saja, menjadikan seorang empath bisa kehabisan energi. Bukan hanya karena membayangkan apa yang sedang terjadi, tetapi karena merasakan hal tersebut di dalam dirinya.
#7: Menyayangi binatang
Seorang empath cenderung melakukan pendekatan yang sangat humanis kepada siapa pun, termasuk kepada binatang. Seorang empath bahkan terlihat seolah-olah bisa berbicara dengan binatang-binatang tersebut dan merasakan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
#8: Merasa sakit fisik
Bukan hanya emosi yang bisa diserap oleh seorang empath, melainkan juga gejala fisik. Oleh karena itu, seorang empath bisa saja terserang berbagai macam penyakit hanya karena sedang merasakan apa yang orang lain alami. Saya sendiri sering merasa migrain akut ketika teman terdekat saya merasa sakit. Lebih parahnya lagi, saya pernah menderita radang usus ketika orang terdekat saya mengalami putus asa. Tapi, karena kemampuan inilah maka kebanyakan empath bisa menjadi seorang healer.
#9: Merasa kesulitan dalam menjalin hubungan dengan pasangan
Banyak empath memilih untuk menjadi lajang karena alasan ini. Tapi, ada juga empath yang berusaha beradaptasi dengan pasangan sehingga bisa menemukan jalan tengah. Saya sendiri pernah “gagal” menjalin hubungan karena sering terlalu tahu apa yang ada di pikiran dan perasaan mantan pasangan saya. Inilah yang kemudian jadi biang keladi dari semua pertengkaran. Bayangkan saja, ketika pasangan merasa malas atau jengkel, bahkan ketika dia berniat punya selingkuhan, kamu bisa merasakan semua hal kecil yang dirasakannya hampir setiap detik!
#10: Bisa mendeteksi kebohongan
Beberapa kali, seorang teman mengajak saya untuk bekerja sama dengannya dalam suatu project. Entah kenapa, hati saya merasa bahwa dia akan menipu dan memanfaatkan kemampuan saya. Tapi, teman saya tersebut merajuk dan meminta agar saya mau membantunya menjalankan project tersebut. Akhirnya, saya ikuti keinginannya.
Dalam waktu seminggu, semua kebohongan terungkap. Alih-alih menjalankan project bersama, dia hanya menjadikan saya sapi perah dan mengambil keuntungan finansial dari situ. 
Begitulah cara empath mendeteksi kebohongan. Meski tidak tahu apa yang benar-benar terjadi atau apa yang diinginkan seseorang, setidaknya empath tahu sejak awal bahwa ada kebohongan di dalamnya.
#11: Bisa menjadi pemimpin yang baik
Karena kemampuannya dalam mendengarkan dan memahami orang lain dengan baik, seorang empath bisa menjadi pemimpin yang baik dan senantiasa berusaha agar semua anggota tim merasa nyaman saat bekerja. Oleh karena itu, empath cenderung merasa tidak habis pikir dengan pemimpin yang suka bertindak sewenang-wenang dan lebih memperhatikan urusannya sendiri ketimbang timnya.
#12: Menyenangkan dan menenangkan
Tidak hanya menghibur, seorang empath juga sering kali dicari banyak orang karena kemampuannya untuk bisa membuat orang lain merasa tenang, baik itu dengan menjadi pendengar maupun memberikan nasihat-nasihat dan kalimat-kalimat motivational.
#13: Sulit menolak untuk membantu
Saat melihat orang lain dalam kondisi terdesak, seorang empath selalu berupaya yang terbaik untuk memberi orang tersebut pertolongan. Penuh cinta dan kasih sayang adalah inti dari karakteristik seorang empath sehingga bagaimana pun sulitnya kondisi pribadi empath, ia akan cenderung mendahulukan kepentingan publik daripada dirinya sendiri.
Nah, dari 13 ciri-ciri di atas, apakah kamu termasuk empath?

Comments

  1. Saya empath. *acungjari Plus indigo :D Kebayang manajemen emosinya gimana, ahahaha. Saya ambivert, introvert tapi bisa ekstrovert. Saya bisa berada dalam keramaian, ngemsi sebuah acara, di atas panggung, jadi pusat perhatian--meski sebenarnya saya lebih menikmati kerja di balik layar, Tapi habis itu saya akan bikin me time yang saya sendirian dalam jeda waktu lama. Lucunya lagi, sebagai empath, saya pernah menekuni pekerjaan sebagai wartawan selama sepuluh tahun. Tiap hari liat badnews. Lyfe oh lyfe. Hihihihi.

    Salam kenal,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, pengalaman kita sama ternyata. Empath ft. Indigo. Next #PerempuanSufi juga bakal bahas isu indigo, Kak.

      Nanti bakal ada meet up sesama empath dan indigo juga di #KelasSufi, semoga bisa bertemu ya.

      Terima kasih sudah berkunjung ke #PerempuanSufi. Salam kenal :-D

      Delete
  2. Informatif sekali. Dulu suka iseng ikutan kuis online dan hasilnya ya hsp dan empath. Tapi sekarang udah gak mikirin itu lagi karena ternyata bikin batin capek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, terima kasih sudah berkunjung ke #PerempuanSufi. Setuju banget, kalo dipikirin malah bikin capek. Tapi, kalo dijalanin beserta rasa syukur akan terasa lebih mudah.

      Salam kenal, semangat empath! :-D

      Delete

Post a Comment

Bacaan Populer

Wasilah dari Sarjana Rahim

Saya memiliki seorang adik laki-laki yang sangat manja dan penuh dengan gairah hidup. Penampilannya begitu ceria dan senantiasa tersenyum dalam kondisi apa pun. Sekilas, mungkin orang hanya melihat parasnya saja yang cukup tampan. Tapi, lebih dari itu, ia punya hati yang tidak kalah tampan. Ibu kami menamainya Hafizh Haq Amarullah, yang artinya pemelihara kebenaran para pemimpin Allah. Dia lahir pada saat usianya di dalam kandungan masih tujuh bulan. Kelahirannya tiba-tiba terjadi sehabis ibu terjatuh di kamar mandi. Untungnya, ia lahir dengan selamat dan tanpa cedera. Ia tumbuh sebagai anak laki-laki periang yang hingga akhir hayatnya sulit mengucapkan popoean (jemuran dalam bahasa Sunda) dan lebih sering menyebutnya popoyan. Kami tumbuh dalam lingkungan yang sangat baik karena ibu dan ayah mendidik kami dengan penuh cinta sehingga ikatan batin antara saya dengannya terjalin begitu kuat. Dia sedih, saya pun ikut merasakannya. Dia sakit, begitu juga saya. Dari kecil hingga usianya 13 ta…

Yang Mahal dari Agensi Digital

Saya bukan orang yang memahami digital sepenuhnya. Bahkan, bisa dibilang, saya adalah orang gagap teknologi yang berjodoh dengan dunia digital. Sejak 2012, saya berkecimpung di dunia media digital. Lalu, pada 2016, saya pindah haluan ke agensi digital. Sama seperti orang awam lainnya, saya cukup terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa uang yang harus dikeluarkan untuk menjalankan sebuah bisnis dengan konsep dan strategi digital tidaklah kecil (malah bisa dibilang mahal sih, ya!). Dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan calon klien yang menilai bahwa biaya yang harus mereka keluarkan jika menggunakan jasa agensi digital berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan jika mereka menjalankan strategi digital sendiri (ya iyalah, bikin bakso sendiri juga pasti lebih murah daripada beli bakso di warung Pak Kumis). Itu analogi awamnya. Kalau jawaban teknis dan praktisnya, silakan tanya pada ahlinya. (Lah, terus saya mau nulis apa?) Kali ini, saya tidak akan membahas apa …

Kemelut Soal Tagar #KamiTidakTakut dan Kutukan buat Terorisme

Sejak kecil, saya punya kemampuan mendapatkan energi berlebih dari Semesta; baik energi positif maupun negatif. “Kelebihan” ini membuat teman-teman kadang menjuluki saya sebagai cenayang atau orang malang yang energinya kalang kabut gegara bisa mencecap energi lain di tengah malam. Seperti halnya malam sebelum tragedi peledakan bom di Surabaya, hati saya berkemelut. Saya menangis sejadinya dan merasakan bahwa sesuatu yang besar di negeri ini akan terjadi. Lalu, BOOM! Apakah peristiwa ini membuat saya berhenti gelisah? Tidak. Saya semakin gelisah, apalagi setelah keesokan harinya melihat timeline media sosial saya dipenuhi dengan tagar #KamiTidakTakut dan kutukan terhadap terorisme dan pelakunya. Tidak sedikit orang yang menilai para pelaku teror sebagai “bukan manusia”. Lalu, semanusia apakah kita?

#KamiTidakTakut, benarkah? Pertama, saya akan membahas tagar #KamiTidakTakut yang begitu viral. Apakah kita benar-benar tidak takut atau justru tagar itu merupakan salah satu mekanisme pertaha…