Skip to main content

Diet Kantong Plastik dan Harapan Soal Kemurnian Lautan

Tanggal 8 Juni ditetapkan sebagai Hari Lautan Sedunia. Peringatan ini dilakukan untuk mengingatkan semua orang tentang peran penting lautan dalam kehidupan sehari-hari karena lautan adalah paru-paru bumi yang menyediakan sebagian besar oksigen untuk kita hirup sekaligus sumber makanan dan obat-obatan yang penting dari biosfer. Oleh karena itu, memurnikan lautan sama halnya dengan memurnikan kembali kehidupan.
Ngomong-ngomong soal kemurnian lautan, tahun ini United Nations mengajak kita semua untuk memperingati Hari Lautan Sedunia dengan berfokus pada pencegahan polusi plastik dan mendorong solusi untuk lautan yang sehat.
Kenapa plastik?
Polusi plastik menyebabkan kerusakan luar biasa terhadap sumber daya laut dunia. 80% dari total polusi berasal dari orang-orang yang ada di darat, sedangkan delapan juta ton plastik per tahun berakhir di lautan sehingga membahayakan satwa liar, perikanan, dan menurunkan kualitas pariwisata dunia. Plastik menyebabkan sebanyak delapan miliar USD kerusakan ekosistem laut setiap tahunnya. Polusi plastik juga menelan biaya hidup sebanyak satu juta burung laut dan 100.000 mamalia laut per tahunnya. Kalau ikan makan plastik, kamu masih mau makan ikan?
Sebenarnya, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi polusi plastik. Salah satunya adalah dengan tidak menggunakan plastik pada waktu-waktu tertentu sebagai bagian dari komitmen kita untuk mengurangi konsumsi plastik. Di Manila, banyak pusat perbelanjaan, warung, atau kios yang menggunakan kertas daur ulang sebagai pengganti plastik. Bahkan, beberapa tempat makan di sana juga ada yang memberlakukan hari tanpa sedotan sebagai upaya mengurangi penggunaan plastik. Jadi, kalau kamu beli makanan atau minuman pada hari Jumat di beberapa tempat makan di Manila, kamu nggak akan mendapatkan botol minum, sedotan, atau apa pun yang terbuat dari bahan plastik.
Diet Kantong Plastik di Manila, Filipina.
Nah, kalau di Indonesia belum ada kebijakan atau program seperti ini, mungkin kita bisa memulainya dari diri sendiri, seperti halnya diet kantong plastik yang dilakukan oleh Adisa Soedarso ini.
Adisa Soedarso, Pecinta Lingkungan dan Pelaku Gerakan Diet Kantong Plastik.
Sejak kapan Disa mulai diet kantong plastik? Motivasinya apa?
Saya mulai melakukan diet kantong plastik sejak 2011. Awalnya, karena sering melihat kondisi lingkungan yang kotor dan penuh dengan sampah kantong plastik. Saya juga banyak membaca di beberapa media cetak bahwa sampah plastik sangat berbahaya untuk ekosistem kita, baik di darat maupun di laut.
Untuk isu lingkungan sendiri, saya sudah tertarik sejak kecil, mungkin SD ya. Saya pernah dibilang pemulung sama teman karena mungutin sampah. Hahaha. Tapi, niatku baik biar lingkungan nggak kotor dengan sampah. Nah, pas 2013, saya sering ikut kegiatan relawan yang isunya adalah lingkungan, khususnya isu sampah. Dari sana, saya mulai belajar banyak mengenai persampahan. Kegiatannya macam-macam dan dilakukan di berbagai kesempatan, seperti di Museum Asia Afrika, CFD, dan beberapa taman di Kota Bandung. Mungkin gayung bersambut, ya. Suka isu lingkungan dan akhirnya bisa terjun di dunia ini.
Lanjut di 2014, saya ditawari untuk bergabung dengan organisasi lingkungan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, sebagai Koordinator Daerah Bandung. Ya sudah, alhamdulillah bisa berkontribusi langsung. Dari sana, saya melatih diri untuk tidak pakai kantong plastik. Meskipun susah, tapi karena niat yang kuat dan punya komitmen, sampai sekarang saya tetap konsisten melakukan diet kantong plastik. Motivasinya adalah saya nggak suka lingkungan kotor dan tercemar cuma gara-gara kantong plastik. Banyak lho dampak penggunaan kantong plastik yang berlebihan! Hewan-hewan laut banyak yang mati dan laut menjadi kotor.
Diet kantong plastik yang Disa lakukan seperti apa, sih? Sama sekali nggak pakai plastik atau gimana?
Diet kantong plastik yang saya lakukan ya benar-benar tidak pakai kantong plastik. Dimulainya pelan-pelan, nggak serta-merta langsung nggak pakai kantong plastik. Tapi, mencoba untuk menguranginya. Dari yang misal sehari belanja pakai tiga [plastik], menguranginya jadi dua, menguranginya jadi satu, sampai nggak pakai kantong plastik sama sekali. Namanya diet kan berarti mengurangi, ya. Jadi, intinya adalah adanya angka pengurangan sampai benar-benar konsisten tidak pakai kantong plastik.
Apa ada tantangan yang harus dihadapi saat memulai diet kantong plastik? Kalau iya, apa aja?
Tantangannya banyak sekali, ya. Karena kantong plastik sekarang sudah menjadi kebiasaan orang-orang, jadi kalau belanja terus menolak kantong plastik itu dianggap nggak sopan. Ada juga yang malah diliatin sama penjual dan pembeli lainnya, kayaknya kok ribet banget sih masuk-masukin ke kantong sendiri.
Nggak sedikit yang bilang kalau bawa tas belanja sendiri itu repot banget. Saya cuma senyum-senyum aja kalau ada yang bilang begitu. Mereka belum merasakan bangganya bawa tas belanja sendiri dan menolak kantong plastik. Ya, macam-macam deh responsnya.  Tapi, saya sih tetap konsisten ya untuk bawa tas belanja sendiri supaya nggak pakai kantong plastik.
Keuntungan apa saja yang Disa dapatkan dari diet kantong plastik ini?
Keuntungannya tentu banyak ya, terutama untuk lingkungan. Saya merasa bisa berkontribusi untuk lingkungan meskipun belum terlalu besar. Masih berupa langkah-langkah kecil. Tapi, saya upayakan melakukannya secara maksimal dan konsisten. Dari sana akan terlihat komitmen untuk terus menjaga lingkungan, minimal dengan mengurangi penggunaan kantong plastik.
Selain itu, saya juga bisa mengajak orang-orang terdekat untuk melakukan hal yang sama. Mereka merasa senang bisa mengurangi kantong plastik karena tidak sedikit yang sudah kesal dengan masalah sampah kantong plastik. Yang paling penting sih bisa ketemu sama orang-orang hebat dengan minat, visi, dan misi yang sama.
Menurut Disa, siapa yang paling mudah dan paling sulit untuk diajak melakukan diet kantong plastik ini?
Yang paling mudah menurut saya adalah diri sendiri. Hahaha. Karena, ya itu berdasarkan kesadaranku sendiri, kesadaran individual lah. Kalau dia sudah ada niat untuk punya kontribusi di isu lingkungan, pasti akan melakukannya sendiri. Memberi contoh ke orang lain kan pasti melalui diri sendiri. Yang paling susah justru orang-orang terdekat. Mereka ngeliatnya repot banget mesti bawa tas belanja yang kadang nggak cuma satu, tapi beberapa jenis. Kalau mereka lagi jalan sama saya dan belanja, mereka pengen pakai kantong plastik, sedangkan saya wajib pakai tas belanja sendiri. Ujung-ujungnya, pasti banyak nanya kenapa mesti pakai tas belanja sendiri, kenapa nggak pakai kantong plastik.
Pencapaian apa yang pernah Disa peroleh terkait isu lingkungan, terutama yang berkaitan dengan polusi plastik?
Waktu masih bekerja di Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, saya bersama tim berhasil mengumpulkan 70 ribu tanda tangan daru petisi #pay4plastic dan #DietKantongPlastik untuk mendorong ritel memberlakukan harga pada kantong plastik. Akhirnya, petisi tersebut direspon secara positif oleh Ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Ibu Siti Nurbaya, yang akhirnya jadi kebijakan Kantong Plastik Tidak Gratis. Saya bersama teman-teman relawan juga melakukan kampanye-kampanye di berbagai tempat untuk mendorong masyarakat mengurangi penggunaan kantong plastik. Dari kebijakan tersebut, kami berhasil mengurangi  penggunaan kantong plastik hingga 55%.
Harapan Disa terkait penggunaan plastik di Indonesia seperti apa?
Harapannya, besar sekali, agar adanya peraturan khusus pengurangan penggunaan kantong plastik dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI karena aturan ini sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak agar konsumsi kantong plastik dapat dikendalikan. Selain itu, sudah banyak sekali kantong plastik yang terbuang sampai ke laut hingga dimakan oleh hewan-hewan dan berujung pada kematian ekosistem di laut. Saya tidak mau hal tersebut terjadi. Saya juga berharap agar masyarakat punya kesadaran besar pada isu ini, minimal dengan membawa tas belanja sendiri dari rumah sehingga konsumsi kantong plastik dapat berkurang. Sampah kantong plastik juga akan menyusut, kalau semua masyarakat melakukan hal ini secara konsisten. Saya percaya, lingkungan kita akan terjaga dan bisa kita wariskan untuk anak dan cucu kita.
Pesan atau tips dari Disa untuk teman-teman yang mungkin berniat untuk melakukan diet kantong plastik apa aja?
Ayo mulai mengurangi kantong plastik dari diri sendiri! Jangan pedulikan omongan orang yang bilang, "ribet lah", "sok-sokan lah". Justru, kita harus memberikan teladan bahwa apa yang kita lakukan untuk mengurangi kantong plastik akan sangat berguna bagi masa depan lingkungan kita. Mulailah untuk membawa tas belanja sendiri. Nggak perlu yang bagus-bagus atau yang mahal-mahal, pakai yang ada di rumah. Saya yakin semua orang pasti punya tote bag. Nah, itu bisa banget dipakai. Kalau sudah mulai, lakukan secara konsisten. Buat komitmen untuk selalu bawa tas belanja sendiri dan menolak kantong plastik. Sebarkan di jejaring media sosial kita supaya aksi yang kita lakukan bisa menjadi inspirasi orang lain dan supaya mereka melakukan hal yang sama. Sederhana dan mudah, bukan?
Gimana, ada yang tertarik untuk melakukan diet kantong plastik seperti yang Disa lakukan? Selain mengurangi konsumsi plastik, kamu juga bisa ikut membantu memurnikan lautan dari polusi plastik dengan cara mengumpulkan sampah plastik di daerah pantai. Metode pembersihan area pantai dari sampah plastik ini disebut sebagai metode pembersihan paling efektif.
Menurut hasil analisis yang dipublikasikan The Guardian pada 2016 lalu, kolektor plastik di daerah pantai mampu menghilangkan 31% mikroplastik. Sementara itu, melakukan pembersihan sampah plastik di lokasi pantai, dan bukan di kedalaman laut, merupakan cara paling efisien untuk membersihkan lautan dan menghindari kerusakan ekosistem global. Yuk, rayakan Hari Lautan Sedunia dengan mengurangi konsumsi plastik!

Comments

Bacaan Populer

Karena KB adalah Hak Segala Bangsa

Dulu, sebagian keluarga saya selalu menentang program Keluarga Berencana (KB) karena menganggap hal itu sebagai cara manusia menentang takdir. Sementara itu, sebagian keluarga saya yang lain menganggap bahwa KB adalah hal yang harus dilakukan untuk mengurangi beban mental dan finansial keluarga. Tapi, bukankah nasib dan takdir itu berbeda? Ya, kadang-kadang, ada yang takdirnya memang harus punya banyak anak, tapi hidupnya enak. Tapi, ada juga yang anaknya cuma satu, tapi takdirnya sudah buntu. Pada akhirnya, manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Absolutely. Di tulisan ini, saya tidak akan membahas soal perlu atau tidaknya KB. Saya hanya akan bercerita soal populasi dunia yang semakin lama semakin bertambah. World Economic Forum menyatakan bahwa populasi dunia bertambah sebanyak 83 juta jiwa setiap tahunnya. Saat ini, sudah ada sekitar 7,6 miliar orang di dunia. Tapi, tren populasi di dunia tidaklah sama. Beberapa negara berkembang dengan cepat sehingga populasi semakin bany…

Wasilah dari Sarjana Rahim

Saya memiliki seorang adik laki-laki yang sangat manja dan penuh dengan gairah hidup. Penampilannya begitu ceria dan senantiasa tersenyum dalam kondisi apa pun. Sekilas, mungkin orang hanya melihat parasnya saja yang cukup tampan. Tapi, lebih dari itu, ia punya hati yang tidak kalah tampan. Ibu kami menamainya Hafizh Haq Amarullah, yang artinya pemelihara kebenaran para pemimpin Allah. Dia lahir pada saat usianya di dalam kandungan masih tujuh bulan. Kelahirannya tiba-tiba terjadi sehabis ibu terjatuh di kamar mandi. Untungnya, ia lahir dengan selamat dan tanpa cedera. Ia tumbuh sebagai anak laki-laki periang yang hingga akhir hayatnya sulit mengucapkan popoean (jemuran dalam bahasa Sunda) dan lebih sering menyebutnya popoyan. Kami tumbuh dalam lingkungan yang sangat baik karena ibu dan ayah mendidik kami dengan penuh cinta sehingga ikatan batin antara saya dengannya terjalin begitu kuat. Dia sedih, saya pun ikut merasakannya. Dia sakit, begitu juga saya. Dari kecil hingga usianya 13 ta…

Yang Mahal dari Agensi Digital

Saya bukan orang yang memahami digital sepenuhnya. Bahkan, bisa dibilang, saya adalah orang gagap teknologi yang berjodoh dengan dunia digital. Sejak 2012, saya berkecimpung di dunia media digital. Lalu, pada 2016, saya pindah haluan ke agensi digital. Sama seperti orang awam lainnya, saya cukup terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa uang yang harus dikeluarkan untuk menjalankan sebuah bisnis dengan konsep dan strategi digital tidaklah kecil (malah bisa dibilang mahal sih, ya!). Dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan calon klien yang menilai bahwa biaya yang harus mereka keluarkan jika menggunakan jasa agensi digital berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan jika mereka menjalankan strategi digital sendiri (ya iyalah, bikin bakso sendiri juga pasti lebih murah daripada beli bakso di warung Pak Kumis). Itu analogi awamnya. Kalau jawaban teknis dan praktisnya, silakan tanya pada ahlinya. (Lah, terus saya mau nulis apa?) Kali ini, saya tidak akan membahas apa …