Skip to main content

Tak Selamanya Drama Korea Bikin Kamu Jadi Drama Queen

Saya bukan tipe orang yang fanatik terhadap kebudayaan dan selebriti Korea (kecuali Kim Nam Gil). Tapi, saya juga bukan orang yang anti terhadap budaya populer yang satu ini. Meskipun beberapa pihak menganggap drama Korea sebagai ancaman karena seringkali membuat penontonnya bersikap dramatis dan tidak realistis, tapi bagi saya, drama Korea lebih baik daripada sinetron. Setidaknya, saya tidak pernah marah-marah hanya karena melihat tokoh antagonisnya bersikap antara terlalu baik dan terlalu bodoh seperti halnya ketika ibu saya menonton sinetron yang episodenya susah berhenti.
Beberapa film dan drama Korea sudah saya tonton. Hasilnya, saya tetap menjalani kehidupan saya sebagaimana mestinya dan tidak berharap lelaki tampan mapan seperti halnya aktor Korea yang sering digembor-gemborkan di media. Mungkin karena saya bersyukur punya pasangan yang tidak melakukan operasi plastik. Mungkin lho, ya. Kalau di hadapan saya tiba-tiba ada Kim Nam Gil datang nyatakan cinta juga pasti saya terima. Itu manusiawi kan, ya?
Nah, berdasarkan penelitian mandiri yang dilakukan Tirto.id, kepada 529 responden pada periode 17 Februari–8 Maret 2018, ditemukan bahwa 49.72% masyarakat Indonesia memilih untuk menonton drama Korea dibandingkan tayangan lainnya. Dari jumlah tersebut, alasan yang dikemukakan oleh para penyuka drama Korea adalah 80.61% karena alur ceritanya menarik dan tidak bertele-tele, 13.31% karena durasi dan episodenya yang tidak terlalu banyak, dan sisanya menyebutkan penampilan fisik dan kemampuan para pemain Korea sebagai alasannya.
Well, saya tidak akan berbicara soal apakah drama Korea baik atau buruk karena sepertinya, hal itu bergantung pada pemahaman kita dalam mencerna tayangan tersebut, serta menganalisis karakter maupun alur cerita di dalamnya. Kali ini, saya hanya akan bercerita tentang pengalaman menonton drama Korea yang justru membuat motivasi untuk meningkatkan spiritualisme dalam diri saya semakin baik.
Saya baru saja selesai menonton drama Korea berjudul Deserving of the Name. Drama Korea ini bercerita tentang seorang tabib akupunktur dari masa Dinasti Joseon yang melakukan perjalanan waktu ke masa sekarang. Tabib tersebut bernama Heo Im yang diperankan oleh Kim Nam Gil. Di dunia yang baru, ia ditakdirkan untuk selalu bertemu dengan seorang dokter bernama Choi Yeon Kyung yang diperankan oleh Kim A Joong. Keduanya memiliki metode yang berbeda dalam mengobati pasien. Yang satu bersifat tradisional, sedangkan yang satu bersifat modern.


Film ini bergenre fusion sageuk, yaitu drama yang menggabungkan antara sejarah dengan fiksi kontemporer. Mengutip CNN Indonesia, fusion sageuk lebih berfokus pada emosi dan perjuangan karakter utama yang membuatnya lebih seperti drama romantis kontemporer. Apa pun genrenya, inilah beberapa hal yang saya dapat dari menonton drama Korea tersebut.
Eksistensi gegar budaya
Gegar budaya (culture shock) adalah konsep yang diperkenalkan oleh Oberg (1960) sebagai representasi kondisi depresi, frustrasi, dan disorientasi yang dialami oleh orang-orang yang hidup dalam lingkungan budaya baru yang berbeda. Dalam film Deserving of the Name, konsep gegar budaya muncul pada kedua tokoh utamanya, yakni Heo Im (tabib di masa Dinasti Joseon) yang mengalami perjalanan waktu sehingga tiba di masa sekarang dan Choi Yeon Kyung yang mengalami perjalanan waktu ke masa Dinasti Joseon.
Di dalam film ini, diceritakan bagaimana kedua tokoh tersebut sama-sama mengalami gegar budaya saat melewati perjalanan waktu. Heo Im yang terbiasa hidup di dunia primordial,  mengalami gegar budaya ketika harus berhadapan dengan dunia modern. Begitu juga dengan Choi Yeon Kyung yang harus mengalami hal yang sama ketika berhadapan dengan era Joseon.
Dalam kehidupan sekarang, kita juga sebenarnya sering mengalami gegar budaya. Sebagai contoh, banyak orang yang mendadak punya gengsi setinggi dewa setelah menjadi kaya dan terkenal sehingga lupa dengan kehidupan sederhana yang dimilikinya ketika masih jadi rakyat jelata. Atau, contoh lain yang mungkin sangat dekat dengan kita adalah ketika mengalami masa peralihan dari dunia tanpa media sosial menjadi dunia yang ingar bingar setelah kemunculan media sosial.
Berapa banyak pasangan yang bertengkar hanya karena media sosial mengganggu hubungan komunikasi personal mereka? Berapa banyak anak yang terpapar media sosial sehingga menjadi lupa akan kewajibannya sebagai seorang anak? Berapa banyak ibu-ibu sosialita yang gemar bersosialisasi di media sosial sehingga lupa akan tugasnya sebagai orang tua? Dan pertanyaan lain yang mungkin bisa kamu ajukan pada diri sendiri.
Solusi polemik kebudayaan dan peradaban
Secara semiotis, Heo Im adalah peran yang merepresentasikan kebudayaan Korea, sedangkan Choi Yeon Kyung adalah peran yang merepresentasikan peradaban. Dalam KBBI, kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Sementara itu, peradaban diartikan sebagai kemajuan dari kebudayaan itu sendiri.
Bagi sebagian orang yang hidup dalam pemikiran modern, kebudayaan adalah sesuatu yang hanya layak dijadikan sejarah. Sementara bagi sebagian orang primordial, peradaban dan modernisasi adalah sesuatu yang merendahkan nilai-nilai kearifan lokal. Kedua pandangan tersebut seringkali menimbulkan polemik yang berujung pada dikotomi kebudayaan dan peradaban. Solusi polemik inilah yang ditawarkan oleh drama Korea Deserving of the Name.
Dalam film tersebut, Heo Im dan Choi Yeon Kyung yang pada awalnya saling bertentangan justru bisa bekerja sama dengan baik ketika menghadapi pasien yang harus mereka selamatkan. Adegan ini menggambarkan bagaimana seorang pasien dapat bertahan hidup setelah mendapatkan pertolongan pertama dengan metode akupunktur yang dilakukan Heo Im dan memperoleh pertolongan lanjutan dengan metode operasi yang dilakukan Choi Yeon Kyung.
Bagi saya, adegan tersebut bukan semata-mata memperlihatkan keahlian tabib akupunktur dan dokter modern. Lebih dari itu, adegan tersebut memperlihatkan bagaimana seyogianya kita menyikapi kebudayaan dan peradaban. Tanpa kebudayaan, peradaban tidak akan pernah ada. Sebaliknya, tanpa peradaban, kebudayaan tidak pernah mengalami kemajuan.
Keyakinan pada takdir dan kekuatan semesta
Pernahkah kamu meyakini sesuatu yang pada awalnya tidak mungkin? Inilah yang saya sebut sebagai keyakinan pada takdir dan semesta. Dalam kondisi sulit, seseorang bisa bertahan hidup sehingga setelahnya, ia akan merasa telah mendapatkan keajaiban dari semesta.
Dalam film ini, berbagai kejadian merepresentasikan keyakinan tersebut. Choi Yeon Kyung diceritakan sebagai dokter modern yang memiliki rasa percaya diri tinggi sehingga ia yakin bisa menyelamatkan pasiennya. Sampai suatu hari, ia dihadapkan pada kematian pasien yang paling disayanginya. Hal itu membuatnya terpukul dan memutuskan untuk berhenti menjadi dokter bedah. Namun, Heo Im meyakinkan Choi Yeon Kyung bahwa kesembuhan dan keselamatan pasien tidak akan terjadi hanya karena kemampuan seorang dokter atau tabib, melainkan karena pasien tersebut memiliki keyakinan pada takdir bahwa ia bisa bertahan. Begitu juga dengan keluarga pasien maupun dokter yang harus memiliki keyakinan yang sama untuk bisa menggerakkan kekuatan semesta dalam diri mereka agar bisa menyelamatkan orang yang mereka sayangi.
Kemurnian spiritual
Selain nilai-nilai kebudayaan dan peradaban, film ini juga menyajikan representasi perjalanan manusia dalam mendapatkan nilai-nilai spiritual. Heo Im memiliki kenangan buruk dengan strata sosial karena ia lahir dari golongan rendah sehingga memiliki kesulitan finansial yang berakibat pada kematian ibunya. Hal ini menjadikannya terkadang memiliki ambisi yang kuat untuk bisa mendapatkan uang dan kekuasaan sehingga ia lupa bahwa tugasnya sebagai tabib adalah untuk menolong dan menyelamatkan orang-orang di sekitarnya. Sampai pada suatu ketika, ia mendapatkan hukumannya sendiri dan menyadari bahwa uang dan kekuasaan tidak akan pernah mengisi kekosongan jiwa yang dialaminya.
Film ini juga menggiring saya untuk sampai pada tahap kemurnian spiritual, yakni ketika manusia tidak lagi mementingkan harta duniawi dan lebih memilih untuk hidup sederhana dengan kondisi sosial yang membahagiakan. Pada akhirnya, manusia hanyalah entitas yang hanya perlu yakin pada takdir dan kekuatan semesta. Inilah yang saat ini sering kita sebut sebagai “ikhlas”; saat kita berusaha melakukan yang terbaik dan menunggu jawaban dari semesta.
Jadi, nggak semua drama Korea bikin kamu jadi drama queen, kan? Banyak hal dan pelajaran yang bisa kita ambil dari tayangan-tayangan yang kita tonton karena nilai-nilai baik tidak hanya datang dari hal yang baik.
Yuk, bagikan cerita baik di sekitarmu dan berbahagialah bersama semesta!
“Inspiration comes from within yourself. One has to be positive. When you're positive, good things happen.” - Deep Roy

Comments

Bacaan Populer

Spiritual Awakening, Apakah Kamu Sedang Mengalaminya?

Bagi sebagian orang, istilah spiritual awakening mungkin terdengar asing. Tapi, bisa jadi mereka semua pernah atau bahkan sedang mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah “pencerahan” atau “kebangkitan spiritual”, sebagian lagi menyebutnya “kesadaran spiritual”. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya sebagai kesadaran spiritual karena bagi saya, setiap orang sudah mengalami perjalanan spiritual sejak lahir. Namun, tidak semua orang menyadarinya.  Sebagian orang mungkin akan merasakan kedamaian tersendiri saat mengalaminya, tapi ada juga sebagian orang yang justru merasakan hal-hal lain di luar kendali, seperti merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, kemelut pikiran dan hati, sampai merasakan adanya gangguan mental yang sering kali dianggap sebagai penyakit. Untuk lebih memahaminya, mari kita perjelas dulu batasan kesadaran spiritual ini! Spiritual Awakening © Retha Ferguson via Pexels Apa itu kesadaran spiritual? Ketika seseorang melalui kesadaran s

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath. Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri. Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi. © Pixabay via Pexels Empath dan HSP Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berb

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan.  © Pexels #1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dilahirk

Dalam Penciptaan Hawa, Tuhan Tak Patriarkis

Baru-baru ini, teman baik saya mengirimkan thread Twitter soal Hawa yang mendorong saya untuk kemudian mengenal perempuan pertama di muka bumi ini secara lebih dekat.  Sebagian dari kita mungkin sudah mendengar kisah bagaimana Adam diciptakan dan diperkenalkan kepada makhluk Tuhan lainnya semasa di surga. Bahkan, beberapa literatur menyebutkan bahwa Adam hidup sampai 930 tahun. Lalu, bagaimana dengan Hawa? Bagaimana ia diciptakan, diturunkan ke bumi, sampai akhirnya melahirkan manusia-manusia lainnya di muka bumi ini? © Luis Quintero from Pexels Benarkah Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam? Menurut tradisi Yahudi , Adam dikecam sebelum dia dipertemukan dengan Hawa. Dalam buku abad pertengahan yang berjudul The Alphabet of Ben-Sira, disebutkan bahwa istri pertama Adam adalah Lilith yang marah dan kemudian bersekutu dengan setan sehingga Tuhan mengecamnya dan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Konsep inilah yang kemudian mengonstruksi anggapan bahwa Hawa (perempuan)

Mitos Kecantikan dan Budaya Patriarki dalam Lagu “Aisyah Istri Rasulullah”

© Janko Ferlic from Pexels Sore ini, untuk ke sekian kalinya, telinga saya digandrungi oleh lagu islami berjudul “Aisyah Istri Rasulullah”. Sekilas, nadanya cukup mudah diingat dan terdengar romantis sehingga saya berniat untuk ikut meng- cover lagu tersebut. Seperti biasa, saya akan terlebih dahulu menghafal liriknya sebelum bernyanyi. Sayang seribu sayang, niat saya untuk berpartisipasi memviralkan lagu tersebut terhenti saat menemukan liriknya yang berbunyi kulit putih bersih merahnya pipimu. Kenapa? Dalam buku berjudul The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women , disebutkan bahwa penyebutan kulit putih merupakan salah satu mitos kecantikan yang diproduksi kapitalisme dalam industri kecantikan untuk mengontrol otoritas perempuan atas tubuhnya. Dalam konteks ini, budaya patriarki tidak berupaya mendominasi tubuh perempuan secara fisik, tetapi menghegemoninya secara psikis sehingga banyak perempuan yang terjebak pada mitos putih-itu-cantik . Mitos kecant