Skip to main content

Yang Mahal dari Agensi Digital

Saya bukan orang yang memahami digital sepenuhnya. Bahkan, bisa dibilang, saya adalah orang gagap teknologi yang berjodoh dengan dunia digital. Sejak 2012, saya berkecimpung di dunia media digital. Lalu, pada 2016, saya pindah haluan ke agensi digital. Sama seperti orang awam lainnya, saya cukup terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa uang yang harus dikeluarkan untuk menjalankan sebuah bisnis dengan konsep dan strategi digital tidaklah kecil (malah bisa dibilang mahal sih, ya!).
Dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan calon klien yang menilai bahwa biaya yang harus mereka keluarkan jika menggunakan jasa agensi digital berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan jika mereka menjalankan strategi digital sendiri (ya iyalah, bikin bakso sendiri juga pasti lebih murah daripada beli bakso di warung Pak Kumis). Itu analogi awamnya. Kalau jawaban teknis dan praktisnya, silakan tanya pada ahlinya. (Lah, terus saya mau nulis apa?)
Kali ini, saya tidak akan membahas apa yang bikin agensi digital mahal dari sisi teknis, melainkan dari sisi humanisme. Ya, mungkin memang hobi saya berbicara soal humanisme, jadi bahas agensi digital juga dari sisi yang satu ini. Kalau berbicara soal kenapa ongkos bayar ads, promo konten, dan strategi ini-itu, mungkin teman saya Pandu atau perusahaan tempat saya kerja bisa membantu. (Minta feed backlink, ya! Haha)


© Kaboompics.com
Kreativitas tanpa batas
Teknologi yang semakin lama semakin berkembang tidak hanya mengharuskan pebisnis untuk bisa beradaptasi, tapi juga perlu berpikir kreatif sehingga tidak ketinggalan zaman dan bisa membuat inovasi yang pada akhirnya jadi tren di kalangan pengguna media digital lainnya. Sayangnya, kita tidak bisa mengukur kreativitas seseorang dengan parameter apa pun.
Marjorie Taylor, seorang psikolog dan profesor emerita di University of Oregon, mengatakan bahwa kreativitas bukanlah hal yang bisa diukur dengan hanya mengajukan satu pertanyaan terbuka. Ketika kita berbicara soal kreativitas, kita perlu memahami bahwa kita sedang berbicara soal spektrum kemampuan yang luas pada domain yang berbeda. Hal itulah yang menyebabkan kita sulit mengukurnya.
Berbagai penelitian dilakukan oleh para ahli psikoanalisis, psikologis, bahkan neurobiologis untuk mengukur tingkat kreativitas. Sebuah tinjauan pustaka yang diterbitkan pada Desember 2017, memberikan gambaran tentang bagaimana para psikolog telah melakukan berbagai pendekatan untuk mengukur kreativitas. Dari 152 makalah yang diterbitkan hingga 2016, tidak ada kerangka acuan yang bisa mengarahkan kita pada parameter kreativitas. Namun, satu hal yang disepakati bersama oleh para peneliti bahwa kreativitas melibatkan produksi sesuatu yang baru dan cocok untuk tujuan atau penggunaan tertentu. Dengan kata lain, kreativitas adalah kemampuan untuk menjadi berbeda dalam cara yang bermanfaat.
Dalam dunia agensi digital, kita dituntut untuk berpikir kreatif setiap waktu. Tidak jarang, seorang desainer grafis dianggap tidak otentik hanya karena menggunakan jenis font atau warna yang sama pada dua konten. Begitu juga dengan penulis konten yang wajib patuh pada aturan antiplagiarisme jika ingin tulisannya dinilai berkualitas. Belum lagi digital strategist  yang harus bisa secara kreatif membuat strategi untuk mengupayakan bisnis klien lancar jaya. Pada ranah yang hampir dikatakan jauh dari praktik kreatif, seorang account executive yang identik dengan “jualan” pun nyatanya harus punya cara yang kreatif untuk mendekati calon klien secara personal.
Waktu yang tak mungkin terulang
Faktor kedua yang bikin agensi digital mahal adalah waktu. Secara teoretis, kita mungkin bisa menentukan pukul 09.00 sampai 17.00 sebagai jam kerja kita. Tapi, tidak jarang, klien tiba-tiba meminta revisi saat jam tidur sudah melambaikan tangannya. Itulah sebabnya, banyak anak agensi yang sering tidak punya waktu untuk dirinya sendiri, bahkan untuk sekadar istirahat di sela-sela jam makan siang.
Lebih dari itu, meskipun klien tidak menunjukkan dominasinya sebagai “pembeli” kreativitas, tidak sedikit karyawan di digital agensi yang menyita waktu dan perhatian mereka hanya untuk memikirkan strategi terbaik, konten terbaik, desain terbaik, dan terbaik-terbaik lainnya. Saya sendiri sering kali tidak sadar telah tesihir oleh aroma “tubuh” klien yang menempel di pikiran saya saat berjalan, makan, nonton TV, hang out, bahkan saat pacaran. Mau makan, minumnya teh botol anu, tiba-tiba ingat kalau konten anu bisa dibuat untuk klien anu. Mau tidur, tiba-tiba dapat inspirasi untuk menulis konten anu untuk klien anu. Dan, banyak lagi anu-anuan lain yang bikin saya nganu. Tak ada waktu selain nganu.
Waktu tak mungkin terulang, tapi jangan sampai terbuang. Oleh sebab itu, waktu para pejuang agensi seyogianya tidak lantas hanya bisa dibayar dengan rate per hour. Penghargaan terhadap banyak waktu yang tersisa dan tak mungkin terulang mungkin bisa jadi pencerahan bagi para klien yang menganggap ongkos bayar agensi digital kelewat mahal.
Sabar yang harus terus digerus
Berapa banyak meme yang menyebar sebagai representasi kesabaran para karyawan agensi digital dalam menghadapi klien yang kadang banyak maunya, tapi ujungnya gitu-gitu aja? Boleh dicek keyword “meme anak ahensi”, pasti kamu juga ngerti. Eaaa…
Dari sekian banyak meme yang tersebar, mayoritas menggambarkan bagaimana keletihan yang harus mereka hadapi saat menghadapi satu kata dari klien: revisi. Belum lagi, tabiat klien yang macam-macam terkadang menguji habis kesabaran para karyawan yang hidup di dunia agensi. Untungnya, sabar nggak ada batasnya. Jadi, sampai sekarang, klien masih bisa banyak tingkah dan banyak mau. Meski begitu, masih banyak juga kok klien yang tahu kalau agensi digital bukan cuma jual jasa-tubuh, melainkan jasa-otak, pikiran, dan hati.
Jadi, bagaimana kita bisa menolak agensi digital yang harganya mahal jika apa yang ingin kita beli adalah sesuatu yang tanpa batas?

Comments

  1. Sebagai seorang anak ahensi, diriku berterimakasih 'tuk tulisan yang humanis ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi. Terima kasih sudah berkunjung, Mas Jumardan :-)

      Delete

Post a Comment

Bacaan Populer

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath. Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri. Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi. © Pixabay via Pexels Empath dan HSP Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berb

Spiritual Awakening, Apakah Kamu Sedang Mengalaminya?

Bagi sebagian orang, istilah spiritual awakening mungkin terdengar asing. Tapi, bisa jadi mereka semua pernah atau bahkan sedang mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah “pencerahan” atau “kebangkitan spiritual”, sebagian lagi menyebutnya “kesadaran spiritual”. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya sebagai kesadaran spiritual karena bagi saya, setiap orang sudah mengalami perjalanan spiritual sejak lahir. Namun, tidak semua orang menyadarinya.  Sebagian orang mungkin akan merasakan kedamaian tersendiri saat mengalaminya, tapi ada juga sebagian orang yang justru merasakan hal-hal lain di luar kendali, seperti merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, kemelut pikiran dan hati, sampai merasakan adanya gangguan mental yang sering kali dianggap sebagai penyakit. Untuk lebih memahaminya, mari kita perjelas dulu batasan kesadaran spiritual ini! Spiritual Awakening © Retha Ferguson via Pexels Apa itu kesadaran spiritual? Ketika seseorang melalui kesadaran s

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan.  © Pexels #1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dilahirk

Dalam Penciptaan Hawa, Tuhan Tak Patriarkis

Baru-baru ini, teman baik saya mengirimkan thread Twitter soal Hawa yang mendorong saya untuk kemudian mengenal perempuan pertama di muka bumi ini secara lebih dekat.  Sebagian dari kita mungkin sudah mendengar kisah bagaimana Adam diciptakan dan diperkenalkan kepada makhluk Tuhan lainnya semasa di surga. Bahkan, beberapa literatur menyebutkan bahwa Adam hidup sampai 930 tahun. Lalu, bagaimana dengan Hawa? Bagaimana ia diciptakan, diturunkan ke bumi, sampai akhirnya melahirkan manusia-manusia lainnya di muka bumi ini? © Luis Quintero from Pexels Benarkah Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam? Menurut tradisi Yahudi , Adam dikecam sebelum dia dipertemukan dengan Hawa. Dalam buku abad pertengahan yang berjudul The Alphabet of Ben-Sira, disebutkan bahwa istri pertama Adam adalah Lilith yang marah dan kemudian bersekutu dengan setan sehingga Tuhan mengecamnya dan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Konsep inilah yang kemudian mengonstruksi anggapan bahwa Hawa (perempuan)

Mitos Kecantikan dan Budaya Patriarki dalam Lagu “Aisyah Istri Rasulullah”

© Janko Ferlic from Pexels Sore ini, untuk ke sekian kalinya, telinga saya digandrungi oleh lagu islami berjudul “Aisyah Istri Rasulullah”. Sekilas, nadanya cukup mudah diingat dan terdengar romantis sehingga saya berniat untuk ikut meng- cover lagu tersebut. Seperti biasa, saya akan terlebih dahulu menghafal liriknya sebelum bernyanyi. Sayang seribu sayang, niat saya untuk berpartisipasi memviralkan lagu tersebut terhenti saat menemukan liriknya yang berbunyi kulit putih bersih merahnya pipimu. Kenapa? Dalam buku berjudul The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women , disebutkan bahwa penyebutan kulit putih merupakan salah satu mitos kecantikan yang diproduksi kapitalisme dalam industri kecantikan untuk mengontrol otoritas perempuan atas tubuhnya. Dalam konteks ini, budaya patriarki tidak berupaya mendominasi tubuh perempuan secara fisik, tetapi menghegemoninya secara psikis sehingga banyak perempuan yang terjebak pada mitos putih-itu-cantik . Mitos kecant