Skip to main content

Sedikit Celoteh tentang May Day

© Pixabay

Sejak dulu, saya selalu penasaran kenapa Hari Buruh menjadi hari yang selalu ramai aksi? Ada apa dengan Hari Buruh? Nah, kembali ke tahun lalu, pemerintah Indonesia menyematkan slogan May Day is Fun Day untuk memperingati Hari Buruh. Jadi, seyogianya tidak ada lagi aksi unjuk rasa yang membuat May Day is not Fun Day.
Setahu saya, May Day dipilih sebagai Hari Pekerja Internasional oleh kelompok sosialis dan komunis internasional untuk memperingati Haymarket di Chicago. Mencontek Wikipedia, Hari Buruh lahir dari rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Pada 1 Mei 1988, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat menggelar aksi demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka, dari 20 jam sehari menjadi 8 jam sehari. Inilah manfaat yang diperoleh para pekerja hingga saat ini: jam kerja sebanyak 8 jam sehari.
Tapi, masih belum puaskah para pekerja dengan pengurangan jam kerja yang signifikan itu? Sepertinya begitu. Buktinya, Hari Buruh masih selalu dipenuhi aksi dan literasi satir yang menyoal kesejahteraan hak-hak kaum pekerja yang belum terpenuhi. Menjelang Hari Buruh tahun lalu, beberapa pihak mempermasalahkan slogan May Day is Fun Day yang dinilai membelokkan makna Hari Buruh yang sebenarnya. Tidak sedikit pihak yang menganggap bahwa slogan tersebut belumlah pas untuk disematkan karena kesejahteraan pekerja pun masih belum terpenuhi.
Ngomong-ngomong soal kesejahteraan, bagi saya, ini persoalan yang cukup pelik karena sejahtera itu sangat relatif. Bisa jadi, gaji Rp5 juta per bulan bagi saya sudah terbilang sejahtera karena saya masih bisa hidup dan cukup bersenang-senang dari situ. Tapi, bagi sebagian pihak, mungkin nilai segitu masih terlalu sedikit untuk bisa bikin hati aman, adil, makmur, dan sentosa.
Mungkin, mungkin lho ya, nilai kesejahteraan yang selama ini digadang-gadang sebagai permasalahan kaum buruh itu sudah bergeser ke arah kepuasan. Orang jadi sulit menentukan mana sejahtera mana puas sehingga saat Hari Buruh tiba, banyak orang berbondong-bondong menuntut kepuasan bukan kesejahteraan.
Supaya lebih sedikit ilmiah, mari kita tengok terminolologi kesejahteraan dalam kamus dalam maupun luar negeri. Dalam KBBI, “kesejahteraan” diartikan sebagai “hal atau keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ketenteraman”. Sementara itu, kamus daring Merriam-Webster mengartikan kesejahteraan sebagai hal yang memuat nilai-nilai kebahagiaan, kondisi yang baik, dan kemakmuran. Jangan minta saya cari definisi lain ya karena ini bukan jurnal atau tesis. Ini cuma sedikit celoteh di Hari Buruh.
Oke, lanjut!
Jadi, menurut saya, kesejahteraan itu tidak datang dari berapa banyak upah yang kita dapat atau jam kerja yang harus kita penuhi sehingga menyoal kesejahteraan buruh di masa sekarang ini bukan lagi menyoal tindak-tanduk perbudakan dan hak untuk mendapatkan upah yang layak. Lantas, soal apa?
Menurut saya lagi, solusi atas kesejahteraan itu datang dari diri sendiri. Meskipun, tentu saja, pemerintah maupun perusahaan berkewajiban untuk mengakomodasi masyarakat atau karyawannya agar bisa sampai pada titik kesejahteraan (bukan kepuasan lho, ya!).
Kita ambil contoh begini, saya bekerja di sebuah perusahaan yang menerapkan sistem kerja remote working dan work-life balance sehingga saya bisa bekerja sebanyak delapan jam sehari tanpa perlu datang ke kantor tiap hari dan mengurangi aktivitas saya sebagai makhluk sosial. Saya bisa bekerja sambil mengurus ibu saya yang sedang sakit, sambil jalan-jalan, atau sambil bersosialisasi dalam komunitas yang saya senangi.
Tidak sedikit teman yang berkata, “Enak ya kerjanya bisa remote. Ada lowongan nggak?” atau mungkin “Wah, asyik banget bisa kerja sambil jalan-jalan.”
Bekerja di perusahaan seperti ini memang menyenangkan. Selain bisa menunaikan ibadah sebagai anak soleh yang bisa mengurus orang tua dan menjadi anak gaul hits yang bisa traveling sambil mengerjakan tugas, ada hal lain yang tentu saja saya dapatkan dari sini: memanusiakan manusia.
Tapi, bagi saya, masalah asyik nggak asyik saat bekerja tidak terletak pada apakah perusahaan menerapkan sistem remote working atau tidak. Meskipun saya akui bahwa perusahaan tempat saya bekerja ini bisa dibilang perusahaan yang memanusiakan manusia, bukan berarti perusahaan yang tidak menerapkan sistem kerja remote working menjadi tidak manusiawi. Banyak kok perusahaan yang mengakomodasi karyawan mereka untuk tetap hidup sehat dengan memberikan fasilitas ruang olahraga atau kupon makan gratis. Banyak juga perusahaan yang memberikan fasilitas entertainment bagi karyawannya supaya tetap bisa happy selama bekerja.
Pertanyaannya sekarang adalah berapa banyak orang yang tidak bahagia karena menganggap dirinya belum setara dengan yang lain? Atau berapa banyak pekerja yang merasa tidak sejahtera karena menganggap gaji yang diperolehnya tidak sama dengan yang lain? Di situlah intinya.
Manusia sering kali menduga hal-hal yang tidak terlihat. Beberapa pekerja yang setiap hari datang ke kantor mungkin merasa tidak bahagia setelah melihat post saya saat bekerja sambil jalan-jalan di pantai. Beberapa pekerja lain dengan gaji minimum mungkin merasakan hal yang sama ketika melihat kamu posting foto belanja barang branded pascagajian.
Tapi, tidak sedikit orang yang bekerja sebagai buruh dengan upah di bawah UMR bisa tetap hidup bahagia sambil main catur kalau waktu sedang senggang. Ada juga ibu rumah tangga yang merasa bersyukur punya suami yang bekerja sebagai buruh harian tanpa mengeluh sehingga keluarga kecil mereka tetap bisa makan dan tertawa bersama.
Mungkin, mungkin lagi lho ya, pemerintah menyematkan slogan May Day is Fun Day pada Hari Buruh tahun lalu bukan untuk membuat kita lupa makna perjuangan kelompok pekerja, melainkan supaya kita tahu makna bersyukur. Karena terkadang, kita lupa bahwa kesetaraan dan keadilan tidak melulu tentang kesamaan. Terkadang pula kita lupa bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan datangnya dari dalam diri kita, bukan dari pemerintah atau perusahaan yang mempekerjakan kita, apalagi dari upah yang bisa habis dilalap diskon pascagajian.
Jadi, selamat bersyukur para pekerja di seluruh dunia!

*Tulisan ini dibuat pada Hari Buruh 2018 dan baru dipublikasikan sekarang karena penulis lupa publish tahun lalu

Comments

Bacaan Populer

Karena KB adalah Hak Segala Bangsa

Dulu, sebagian keluarga saya selalu menentang program Keluarga Berencana (KB) karena menganggap hal itu sebagai cara manusia menentang takdir. Sementara itu, sebagian keluarga saya yang lain menganggap bahwa KB adalah hal yang harus dilakukan untuk mengurangi beban mental dan finansial keluarga. Tapi, bukankah nasib dan takdir itu berbeda? Ya, kadang-kadang, ada yang takdirnya memang harus punya banyak anak, tapi hidupnya enak. Tapi, ada juga yang anaknya cuma satu, tapi takdirnya sudah buntu. Pada akhirnya, manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Absolutely. Di tulisan ini, saya tidak akan membahas soal perlu atau tidaknya KB. Saya hanya akan bercerita soal populasi dunia yang semakin lama semakin bertambah. World Economic Forum menyatakan bahwa populasi dunia bertambah sebanyak 83 juta jiwa setiap tahunnya. Saat ini, sudah ada sekitar 7,6 miliar orang di dunia. Tapi, tren populasi di dunia tidaklah sama. Beberapa negara berkembang dengan cepat sehingga populasi semakin bany…

Wasilah dari Sarjana Rahim

Saya memiliki seorang adik laki-laki yang sangat manja dan penuh dengan gairah hidup. Penampilannya begitu ceria dan senantiasa tersenyum dalam kondisi apa pun. Sekilas, mungkin orang hanya melihat parasnya saja yang cukup tampan. Tapi, lebih dari itu, ia punya hati yang tidak kalah tampan. Ibu kami menamainya Hafizh Haq Amarullah, yang artinya pemelihara kebenaran para pemimpin Allah. Dia lahir pada saat usianya di dalam kandungan masih tujuh bulan. Kelahirannya tiba-tiba terjadi sehabis ibu terjatuh di kamar mandi. Untungnya, ia lahir dengan selamat dan tanpa cedera. Ia tumbuh sebagai anak laki-laki periang yang hingga akhir hayatnya sulit mengucapkan popoean (jemuran dalam bahasa Sunda) dan lebih sering menyebutnya popoyan. Kami tumbuh dalam lingkungan yang sangat baik karena ibu dan ayah mendidik kami dengan penuh cinta sehingga ikatan batin antara saya dengannya terjalin begitu kuat. Dia sedih, saya pun ikut merasakannya. Dia sakit, begitu juga saya. Dari kecil hingga usianya 13 ta…

Yang Mahal dari Agensi Digital

Saya bukan orang yang memahami digital sepenuhnya. Bahkan, bisa dibilang, saya adalah orang gagap teknologi yang berjodoh dengan dunia digital. Sejak 2012, saya berkecimpung di dunia media digital. Lalu, pada 2016, saya pindah haluan ke agensi digital. Sama seperti orang awam lainnya, saya cukup terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa uang yang harus dikeluarkan untuk menjalankan sebuah bisnis dengan konsep dan strategi digital tidaklah kecil (malah bisa dibilang mahal sih, ya!). Dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan calon klien yang menilai bahwa biaya yang harus mereka keluarkan jika menggunakan jasa agensi digital berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan jika mereka menjalankan strategi digital sendiri (ya iyalah, bikin bakso sendiri juga pasti lebih murah daripada beli bakso di warung Pak Kumis). Itu analogi awamnya. Kalau jawaban teknis dan praktisnya, silakan tanya pada ahlinya. (Lah, terus saya mau nulis apa?) Kali ini, saya tidak akan membahas apa …