Skip to main content

Lebih Bahagia dengan Zero Waste

© Siska Nirmala

Namanya Siska Nirmala. Saya mengenalnya sejak kami masih berusia senja, yaitu ketika saya berumur 4 dan dia berumur 5. Saat itu, kami dipertemukan bukan oleh pertautan darah, melainkan oleh pertautan perkawinan antarsanak sudara yang cukup jauh. Singkatnya, kalau ada orang bertanya tentang hubungan kami, saya sering kali menjawab “saudara jauh”.
Dari pertemuan pertama itu, kami tidak pernah lagi bertemu, sampai akhirnya takdir kembali mempertemukan kami di SMA yang sama. Meski satu sekolah, kami tidak lantas menjadi dekat. Perbedaan gaya hidup dan penampilan menjadikan kami tidak begitu dekat. Dia anak pecinta alam, saya anak teater. Dia senang bertualang di alam bebas, saya senang berjejaring di alam mimpi. Satu persamaan yang kami punya hanyalah predikat “tomboi’ yang melekat di kedua kaki kami yang tampaknya sulit melakukan emok (cara kaum perempuan Sunda duduk di lantai).
Seiring berjalannya waktu, Semesta tampaknya enggan membuat koneksi kami terputus hingga akhirnya pada 2012, di waktu yang berdekatan dan jarak yang berjauhan, kami sama-sama bekerja di dunia tulis menulis dan sama-sama memutuskan untuk memulai gaya hidup minim sampah atau yang sekarang ramai disebut-sebut sebagai zero waste.
Dalam hal tulis menulis, sepertinya kami punya semangat dan keseriusan yang sama-sama pantang patah arang. Sayangnya, dalam hal zero waste, saya yang lebih senang berjejaring di alam mimpi ini tidak sehebat Siska. Ketika saya menemukan kendala susah buang sampah karena tidak punya plastik, saya masih menoleransi plastik untuk hinggap rapi di lemari saya. Sementara itu, Siska terus berjuang melawan nafsu-pakai-plastik-nya hingga akhirnya bisa melebarkan sayap #ZeroWasteAdventure sampai ke belahan dunia yang lain (belahan dunia yang mana saja, bisa tanya langsung sama Siska ya!).
Ngomong-ngomong, sebenarnya wawancara ini saya canangkan untuk di-publish pada 5 Juni 2019, tepat di Hari Lingkungan Sedunia. Tapi, karena itu waktunya lebaran dan saya wajib ikut andil dalam mempersiapkan opor ayam dan hiburan lebaran lainnya, akhirnya draf wawancara Siska pun terbengkalai seperti sampah-sampah plastik yang kita temui di lingkungan sekitar kita. Maaf ya, Piet! (mumpung masih aura-aura lebaran)
Yuk, langsung saja kita simak hasil wawancara saya dan Siska tentang zero waste berikut ini.
Apa sih yang membuat kamu termotivasi untuk melakukan gerakan minim sampah?
Kegelisahan pribadi sama masalah sampah. Kegelisahan itu terasa sangat mengganggu waktu aku mendaki Gunung Rinjani (2010) dan Semeru (2011) karena di sana banyak sekali sampah. Dari perjalanan dua gunung ini, aku merasa harus melakukan sesuatu. Sampai akhirnya tiba di titik bahwa sesuatu itu adalah mengubah kebiasaan diri sendiri untuk mengurangi produksi sampah dengan mengubah gaya hidup jadi zero waste.
Bagaimana kamu mendeskripsikan kondisi lingkungan saat ini?
Bumi sudah sekarat dan itu fakta yang tak terbantahkan. Nggak cuma masalah sampah, tapi permasalahan serius terjadi di semua bidang lingkungan; polusi udara, ketersediaan air bersih, kerusakan hutan, climate change, dll.
Bagaimana perjalanan yang kamu lalui untuk bisa mengenalkan gerakan ini pada khalayak?
Awalnya nggak pernah kepikiran untuk concern kampanye gaya hidup zero waste ke orang lain. Dari awal, tujuan aku untuk mengubah gaya hidup jadi zero waste simply untuk diri sendiri; meningkatkan kualitas hidup pribadi. Bahkan, Ekspedisi Nol Sampah ke lima gunung di Indonesia (2013-2015) juga aku lakukan untuk menjawab kegelisahan pribadi yang memang awalnya muncul karena naik gunung.
Tapi, seiring berjalannya waktu, ternyata apa yang aku lakukan bisa sangat berpengaruh untuk orang lain. Aku juga menemukan bahwa kegiatan bertualang adalah metode yang efektif untuk memperkenalkan gaya hidup zero waste ke generasi muda yang level awareness-nya belum tersentuh dengan kondisi permasalahan sampah.
Oleh karena itu, akhirnya aku putuskan untuk membukukan life changing experience ini dalam buku “Zero Waste Adventure”. Terbit secara indie pada Mei 2017, kemudian diterbitkan ulang oleh penerbit pada Mei 2019. Buku ini adalah salah satu cara kampanye yang aku lakukan selain sebelumnya aktif berbagi unggahan di media sosial.
Melihat antusiasme yang besar dalam membangun budaya petualangan yang baru (budaya petualangan tanpa menghasilkan sampah), pada 2019 ini, aku memulai kelas Zero Waste Adventure yang di dalamnya aku menyusun sendiri silabus materi untuk memperkenalkan gaya hidup zero waste, sampai teknis manajemen pendakian dan perhitungan kalori makanan untuk mewujudkan petualangan tanpa menghasilkan sampah.
Meskipun sangat teknis membahas kegiatan bertualang, pesan utamanya tetap nilai-nilai gaya hidup zero waste, yang harapannya peserta kelas akan tersentuh awareness-nya untuk kemudian memulai mengubah gaya hidupnya sesuai cara dan ritmenya masing-masing.
Apa tantangan yang harus kamu hadapi dalam melakukan gerakan ini?
Kalau daily life, tantangan terbesar adalah masalah waktu. Di antara ketatnya kerjaan sebagai pekerja full time, aku harus bisa ngatur dan meluangkan waktu untuk mengerjakan hal-hal lain yang mendukung gaya hidup zero waste. Belanja ke pasar, memasak, cuci piring, belum mengompos sampah organik, membersihkan rumah, membuat sabun cuci. Hal-hal sederhana, tapi lumayan banyak.
Masih masalah waktu, tantangan lainnya adalah meluangkan waktu libur kerja untuk melakukan kegiatanku yang lain, seperti sharing session, acara diskusi, sampai kelas Zero Waste Adventure yang membutuhkan waktu khusus.
Padatnya semua kegiatan ini mendorong aku untuk juga menerapkan slow life movement. Caranya, dengan mengatur supaya hanya memiliki sedikit agenda kegiatan setiap harinya, jadi masih banyak waktu luang untuk mengerjakan kegiatan rumah tangga.
Apakah kamu masih menggunakan produk yang menggunakan bahan dasar plastik? Jika iya, bagaimana meminimalisasinya? Jika tidak, apa pengganti produk-produk berbahan plastik seperti sampo, sabun, dll.?
Masih. Dengan sistem ekonomi kita saat ini, masih ada hal-hal yang tidak bisa kita hindari berkemasan plastik. Atau kata lainnya, belum ada supporting system yang utuh untuk mendukung gaya hidup zero waste. Misalnya, untuk beberapa kebutuhan dapur, aku masih pakai produk yang berkemasan plastik, seperti garam, gula, dan merica. Produk-produk tersebut yang tanpa kemasan masih sulit dicari.
Tapi, di rumah aku hanya pakai tiga benda ini untuk bumbu masak (selain rempah-rempah dan bawang-bawangan). Tidak ada bumbu kemasan sachet lainnya. Meminimalisasi bumbu masak yang kita gunakan adalah salah satu cara menghindari produksi sampah yang berlebihan. Selain itu, garam, gula, dan merica juga tidak langsung habis dalam satu hari. Beli kemasan yang besar, yang cukup untuk berminggu-minggu.
Produk lainnya di rumah yang berbahan plastik, aku masih pakai alat mandi konvensional. Tapi, hanya tiga item: sabun, sampo, dan pasta gigi. Alasan masih memakai/menyediakan ini di rumah karena suamiku belum bisa lepas dari alat mandi konvensional. Selain itu, rumahku juga sering kedatangan keluarga lainnya, yang tentunya akan menggunakan kamar mandi. Daripada mereka membawa/menggunakan alat mandi sachet masing-masing, lebih baik disediakan alat mandi konvensional yang bisa digunakan bersama. Untuk meminimalisasi sampah alat mandi, aku beli kemasan yang ukurannya besar dan setelah habis dipakai, bungkusnya jangan lupa dibersihkan dan dikeringkan.
Pengecualian untuk alat mandi, aku pribadi sudah tidak pakai pasta gigi. Untuk sikat gigi aku pakai perasan jeruk nipis + garam.
Contoh kebutuhan dapur lainnya yang masih berkemasan plastik, aku masih pakai minyak goreng. Tapi, untuk meminimalisasi sampahnya, aku beli minyak goreng kemasan jeriken (5 liter). Jeriken bisa digunakan ulang ketika sudah habis atau diberikan ke tukang loak. Sementara itu, penggunaan minyaknya sangat dijaga/tidak berlebihan untuk menghindari sampah minyak jelantah. Caranya, tidak pernah memasak deep fried, selalu pan fried (hanya satu-dua sendok makan untuk menggoreng/menumis). Dengan teknik ini, minyak goreng juga awet karena ukuran jeriken 5 liter baru habis dalam waktu sekitar 9 bulan.
Apa harapan kamu terhadap generasi muda terkait kondisi lingkungan saat ini?
Harapannya, anak muda tidak lagi menutup mata pada kondisi lingkungan yang sudah semakin memburuk saat ini. Kerusakan lingkungan terjadi karena pola hidup konsumtif kita selama ini dan itu perlu segera diubah. Aku selalu percaya, perubahan bisa dilakukan dengan lompat generasi. Artinya, kondisi lingkungan yang lebih baik bisa dibangun kalau anak-anak mudanya bergerak membangun budaya baru, budaya kehidupan yang sustainable dan ramah lingkungan.
Ada tips untuk memulai dan melakukan gerakan minim sampah secara konsisten?
Pertama, mulai dari yang menurut kamu paling mudah. Kalau menolak sedotan menurut kamu paling gampang, lakukan itu terus-menerus setiap hari atau kalau menurut kamu membawa botol minum dan tidak membeli air kemasan itu paling gampang, lakukan itu terus menerus sampai jadi kebiasaan yang di luar kepala.
Naik level, jangan mundur. Kalau sudah berhasil menghindari satu sumber sampah, naik level ke sumber sampah lainnya, dan jangan pernah mundur lagi. Kalau sudah berhasil tidak membeli air kemasan selama berbulan-bulan, jangan pernah mundur lagi dengan membeli satu-dua air kemasan. Atau kalau sudah berhasil konsisten berbelanja dengan membawa kantong kain sendiri/menolak kresek (kantong plastik), naik level di bulan selanjutnya dengan menghindari segala snack berkemasan.
Terakhir, banyak sharing dan diskusi dengan teman yang sefrekuensi atau minimal berbagi cerita upaya yang kamu lakukan di media sosial. Ini bisa jadi salah satu cara untuk mempertahankan semangat kamu untuk konsisten mengurangi sampah. Banyak berdiskusi dengan orang yang berada di level awareness yang sama bisa semakin memperkuat motivasi kamu dan juga mempertahankan semangat untuk tidak lagi mundur.
Bagaimana lingkungan bisa menjadi motivasi bagi kamu untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bahagia?
Menerapkan gaya hidup zero waste membuat aku merasa terobati (healed). Kegelisahan soal sampah yang aku rasakan sebelumnya jadi hilang setiap kali aku menghindari produksi sampah. Semakin banyak sampah yang aku hindari, semakin aku merasa lebih baik. Aku merasakan sendiri, bagaimana gaya hidup ini memperbaiki kualitas hidup.
Selain itu, gaya hidup ini juga mendorong aku untuk masuk dan mengenal banyak gaya hidup sehat lainnya. Ini juga membuat aku lebih banyak bertemu (fisik maupun dunia maya) dengan orang-orang yang positif di bidangnya, orang-orang yang punya value hidup luar biasa. Ini juga yang membuat aku merasa mendapat lebih banyak kekuatan untuk terus konsisten dengan gaya hidup ini. Positivity bring young much more happiness.
Apa makna kebahagiaan buat kamu? Atau bagaimana kamu mendefinisikan bahagia?
Aku merasa lebih bahagia dengan tidak mengonsumsi makanan berlebihan. Aku merasa lebih bahagia karena tidak konsumtif membeli barang (I buy nothing since 2015). Aku merasa lebih bahagia karena produksi sampah di rumah sangat minim. Aku merasa lebih bahagia karena gaya hidup zero waste menyederhanakan kehidupan aku di segala aspek (makanan, pakaian, barang-barang, dan pola pikir). Bahagia itu sederhana, atau lebih tepatnya, kesederhanaan itu kebahagiaan yang sesungguhnya.
Apa pesan kamu untuk masyarakat dan stakeholder terkait kondisi lingkungan saat ini?
Kita kadang bicara dalam bahasa langit yang tidak dimengerti ketika bicara tentang kondisi lingkungan. Enough talk, take action. Masalah lingkungan bukan sekadar isu seksi yang cukup dibicarakan dalam forum-forum diskusi atau seminar. Masalah lingkungan butuh diselesaikan dengan solusi-solusi lokal yang dimulai dari diri sendiri. Bahkan, permasalahan lingkungan yang berat seperti tambang misalnya, dipicu dari kebiasaan sederhana kita dalam menggunakan energi listrik secara berlebihan setiap hari. Atau masalah sampah yang buruk, dipicu dari kebiasaan kecil kita mengonsumsi produk serba berkemasan plastik setiap hari.
Lakukan perubahan-perubahan kecil setiap hari karena sebelum berjuang mengubah dunia, pastikan kita sudah selesai dengan diri sendiri menjadi lebih baik.
Nah, itu dia hasil wawancara saya dan Siska. Meski singkat, karena biasanya kami ngalor-ngidul kalau ketemu, mudah-mudahan bisa jadi pemantik untuk kita bisa lebih berbahagia dengan menjalankan hidup sederhana, salah satunya gaya hidup minim sampah.
Meski Hari Lingkungan Sedunia sudah lewat, tapi tidak akan pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan lingkungan. Yuk, saatnya naik level!
Thanks, Siska!

Comments

Bacaan Populer

Karena KB adalah Hak Segala Bangsa

Dulu, sebagian keluarga saya selalu menentang program Keluarga Berencana (KB) karena menganggap hal itu sebagai cara manusia menentang takdir. Sementara itu, sebagian keluarga saya yang lain menganggap bahwa KB adalah hal yang harus dilakukan untuk mengurangi beban mental dan finansial keluarga. Tapi, bukankah nasib dan takdir itu berbeda? Ya, kadang-kadang, ada yang takdirnya memang harus punya banyak anak, tapi hidupnya enak. Tapi, ada juga yang anaknya cuma satu, tapi takdirnya sudah buntu. Pada akhirnya, manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Absolutely. Di tulisan ini, saya tidak akan membahas soal perlu atau tidaknya KB. Saya hanya akan bercerita soal populasi dunia yang semakin lama semakin bertambah. World Economic Forum menyatakan bahwa populasi dunia bertambah sebanyak 83 juta jiwa setiap tahunnya. Saat ini, sudah ada sekitar 7,6 miliar orang di dunia. Tapi, tren populasi di dunia tidaklah sama. Beberapa negara berkembang dengan cepat sehingga populasi semakin bany…

Wasilah dari Sarjana Rahim

Saya memiliki seorang adik laki-laki yang sangat manja dan penuh dengan gairah hidup. Penampilannya begitu ceria dan senantiasa tersenyum dalam kondisi apa pun. Sekilas, mungkin orang hanya melihat parasnya saja yang cukup tampan. Tapi, lebih dari itu, ia punya hati yang tidak kalah tampan. Ibu kami menamainya Hafizh Haq Amarullah, yang artinya pemelihara kebenaran para pemimpin Allah. Dia lahir pada saat usianya di dalam kandungan masih tujuh bulan. Kelahirannya tiba-tiba terjadi sehabis ibu terjatuh di kamar mandi. Untungnya, ia lahir dengan selamat dan tanpa cedera. Ia tumbuh sebagai anak laki-laki periang yang hingga akhir hayatnya sulit mengucapkan popoean (jemuran dalam bahasa Sunda) dan lebih sering menyebutnya popoyan. Kami tumbuh dalam lingkungan yang sangat baik karena ibu dan ayah mendidik kami dengan penuh cinta sehingga ikatan batin antara saya dengannya terjalin begitu kuat. Dia sedih, saya pun ikut merasakannya. Dia sakit, begitu juga saya. Dari kecil hingga usianya 13 ta…

Yang Mahal dari Agensi Digital

Saya bukan orang yang memahami digital sepenuhnya. Bahkan, bisa dibilang, saya adalah orang gagap teknologi yang berjodoh dengan dunia digital. Sejak 2012, saya berkecimpung di dunia media digital. Lalu, pada 2016, saya pindah haluan ke agensi digital. Sama seperti orang awam lainnya, saya cukup terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa uang yang harus dikeluarkan untuk menjalankan sebuah bisnis dengan konsep dan strategi digital tidaklah kecil (malah bisa dibilang mahal sih, ya!). Dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan calon klien yang menilai bahwa biaya yang harus mereka keluarkan jika menggunakan jasa agensi digital berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan jika mereka menjalankan strategi digital sendiri (ya iyalah, bikin bakso sendiri juga pasti lebih murah daripada beli bakso di warung Pak Kumis). Itu analogi awamnya. Kalau jawaban teknis dan praktisnya, silakan tanya pada ahlinya. (Lah, terus saya mau nulis apa?) Kali ini, saya tidak akan membahas apa …