Skip to main content

Janda dan Stigma

Menjadi janda di usia muda tidak lantas membebaskan saya dari stigma. Ada banyak hal yang membuat saya kerap merasa jengah karena ketika mendengar kata “janda”, ada banyak telinga dan mata yang tiba-tiba berubah menjadi agresif.
Ada yang tiba-tiba berusaha empatik dengan menanyakan alasan kenapa saya menjanda atau cuma sekadar bilang, “Maaf ya, saya nggak tahu.”; ada yang tiba-tiba berubah jadi serigala dan menawarkan macam-macam “bantuan” yang sebenarnya nggak dibutuhkan, “Kalau butuh teman, hubungi saya aja.”; ada yang pura-pura nggak kenapa-kenapa, tapi di belakang berseliweran kasih info sana-sini; atau ada juga yang berusaha santai-tapi-salah dengan melemparkan lelucon yang sebenarnya tidak layak disampaikan. Mulai dari mengomentari fisik, “Pantesan seksi banget, ya.” sampai mengomentari psikis, “Wah, janda biasanya lebih dewasa nih!” yang pada akhirnya berujung pada stigma “janda itu penggoda”, “janda itu kesepian”, dan macam-macam stigma negatif lain yang memang sudah tumbuh dan berkembang di dunia patriarki ini. 
Memangnya ada apa sih dengan janda? Itu pertanyaan yang sering kali muncul di benak saya, jauh sebelum saya menjadi janda.
Stigma Janda © Pixabay

Perempuan dan perceraian
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tingkat perceraian di seluruh dunia terus meningkat. Salah satu faktornya adalah karena banyaknya perempuan yang lebih mandiri secara finansial sehingga mereka cenderung lebih vokal dan rela mengorbankan keluarga demi independensi. Tapi, itu bukan satu-satunya faktor pemicu perceraian. Kekerasan dalam rumah tangga bahkan memiliki dampak yang lebih besar terhadap kenaikan tingkat perceraian.
Beberapa alasan kenapa perempuan memilih untuk bercerai antara lain adalah kekerasan, pembunuhan karakter, alkoholisme, dan adaptasi interpersonal yang kurang. Itulah sebabnya, perceraian berdampak besar terhadap kehidupan sosial perempuan setelahnya.
Studi empiris juga berulang kali menunjukkan bahwa perceraian berdampak terhadap sejumlah masalah sosial, seperti kurangnya dukungan sosial terhadap janda, menurunnya kesehatan fisik dan psikologis, sampai krisis ekonomi.
Mengutip BBC, perceraian membuat sebagian orang mempertanyakan kembali “siapa diri kita”. Kehilangan pasangan dalam hubungan pernikahan sama halnya dengan kehilangan sebagian diri kita sehingga konsep “diri” yang sebelumnya penuh menjadi hilang.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh womenshealthmag.com kepada orang dewasa di Amerika, menemukan fakta bahwa sekitar 131.159 perempuan mengalami kehidupan yang sulit setelah bercerai. Mereka mengaku tidak hidup sejahtera dan tingkat stres pun meningkat ketimbang laki-laki. Bahkan, sepertiga dari jumlah tersebut menyatakan rutin mengonsumsi obat penenang setiap harinya. Mengutip guesehat.com, inilah yang terjadi pada perempuan ketika mengalami perceraian:
#1: Stres
Sebuah artikel yang diterbitkan Journal of Health and Social Behaviour 2006 mengatakan bahwa perempuan cenderung mengalami tekanan psikologis lebih tinggi daripada laki-laki. Tekanan ini biasanya berdampak pada pemikiran untuk tidak memercayai laki-laki, terutama pandangannya tentang laki-laki sempurna, dan kekhawatiran akan penolakan.
#2: Cemas dan takut
Tanpa masalah perceraian pun, perempuan memiliki rasa cemas yang berlebih. Saat bercerai, mayoritas perempuan biasanya akan mencemaskan masa depan yang belum pasti. Hal ini juga yang membuat kebanyakan janda takut untuk jatuh cinta lagi, memulai hubungan baru, berkomitmen, bahkan untuk bersosialisasi dengan lawan jenis.
#3: Marah atau rasa bersalah
Perasaan ini biasanya dialami oleh perempuan dengan proses perceraian yang rumit, terutama menyangkut anak dan kesehatan psikologisnya. Selain itu, perempuan juga bisa dihantui rasa bersalah karena telah menceraikan mantan suaminya, terlebih jika perceraian disebabkan oleh kesalahan pihak perempuan.
Bagi banyak perempuan, terutama di negara-negara berkembang, kehilangan pasca perceraian itu diperbesar oleh perjuangan jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan dasar, hak asasi manusia, dan martabat mereka. Menurut situs resmi PBB, Situasi pandemi saat ini bahkan memperburuk situasi para janda yang kekurangan dukungan sosial-ekonomi serta keluarga mereka.
Dari 258 juta janda di seluruh dunia, terdapat hampir satu persepuluhnya hidup dalam kemiskinan ekstrem. Tetapi, jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi dan berkembang lebih banyak akibat pandemi.
Janda dalam budaya populer
Menjadi janda di tengah masyarakat patriarkis bukanlah perkara mudah. Banyak stereotip dan hambatan yang mesti dilalui. Berapa banyak lagu bertema janda yang berkonotasi negatif atau berapa banyak film bertema janda yang hanya menyuguhkan nuansa seksis yang semakin melanggengkan stereotip janda sebagai penggoda, pelakor, dan pihak yang dianggap merugikan bagi kaum perempuan dan “menyenangkan” bagi kaum laki-laki.
Tidak cukup sampai di situ, strategi marketing pun tak mau ketinggalan tren sehingga perlu mengaitkan produk yang mereka jual dengan menyematkan kata “janda” untuk penglaris. “Bakso Janda”, “Sop Janda”, “Bubur Janda”, dan segudang produk lain yang menyuguhkan janda sebagai sebuah kenikmatan yang lazim.
Semuanya aja janda, memang ada apa sih dengan janda?
Mengutip laman Tirto.id, peyorasi (penurunan makna) kata “janda” menurut Justito Adiprasetio merupakan gejala dari sistem patriarki yang kuat di masyarakat. Meskipun ide tentang emansipasi sudah terlihat di Indonesia, pertarungan antara patriarki dengan emansipasi masih jauh dari kata selesai. Hal ini juga dikarenakan adanya upaya-upaya yang dilakukan pihak tertentu untuk menyumbat ide emansipasi.
Pada masa orde baru, wacana emansipasi sempat dikebiri dan baru masuk sebagai isu publik ketika ada Komnas Perempuan. Menguatnya stigma negatif terhadap janda pada masa Orde Baru (1966-1998) juga diungkapkan oleh Lyn Parker (2016) saat melacak transformasi sosial kultural di Indonesia. 
Melalui pendidikan dan pengembangan ideologi tentang gender dan keluarga, sistem pemerintahan Orde Baru berusaha mentransformasikan hubungan pernikahan dan perceraian sehingga pembentukan keluarga inti pada masa ini mendapat pujian, sedangkan perceraian dianggap melawan pemerintah.
Lebih buruknya lagi, perceraian dikaitkan dengan upaya pemecah belah serta bersifat kontradiktif terhadap pernikahan. Sikap inilah yang kemudian menjadi penyebab kesulitan para perempuan ketika mengurus perceraian.
Sementara itu, psikolog Meity Arianty kepada Okezone Lifestyle menjelaskan bahwa fenomena pemberian label, stigma, atau apa pun sebutannya kepada janda pasti sulit dihapus dengan mudah. Sama halnya dengan label "autis" yang sering diperuntukkan kepada orang yang lebih suka sendirian, tidak punya teman, dan lebih memilih membaca buku ketimbang jalan dengan teman-temannya. Menurut Mei, pelabelan atau stigma ini terjadi salah satunya karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang citra positif janda. 
Dari tulisan yang panjang (dan sebenarnya mungkin belum sepenuhnya selesai) ini, bisa kita simpulkan bahwa konstruksi budaya patriarki dimulai bukan hanya dari lingkungan terkecil, tapi juga dari entitas payung yang kita sebut pemerintah. Kalau pemerintah punya pemahaman yang kuat soal konstruksi budaya, maka stigma terhadap janda dan entitas minoritas lainnya juga bisa segera dihilangkan.
Nah, buat kamu yang nggak mau disebut kurang edukasi, yuk hilangkan stigma dan perlihatkan kalau kamu adalah orang berpendidikan yang tidak layak menghina, merendahkan, atau menstigma orang lain bagaimanapun latar belakang orang tersebut.
Buat Sahabat Sufi yang terkena stigma janda, jangan menyerah! Buktikan kalau kita mampu berkontribusi positif untuk masyarakat dan tidak mudah terkena virus-virus kebencian akibat stigma tersebut.
Selamat Hari Janda Internasional!

Comments

  1. Yaa, saya suka tulisannya dan setuju.

    Janda bukan hal yang tabu lagi di era milenial sekarang
    Menjadi janda memang bukan pilihan setiap wanita.
    siapa sih yang ingin mempunyai predikat janda.
    namun, pernikahan itu terkadang tidak seperti mimpi anak-anak waktu kecil.
    Bertemu sang pangeran lalu hidup bahagia.
    Apa yang terjadi didalam rumah tangga hanya lah suami dan istri yang mengetahuinya.
    apakah karena kekerasan dalam rumah tangga, finansial. orang lain tidak mengetahuinya.
    orang lain hanya bisa berkomentar tanpa menyadari hidup nya pun esok hari tidak tau akan seperti apa.
    pilihan menjadi janda, lebih baik dari pada makan ati.
    Ya, benar
    "Hilangkan stigma dan perlihatkan kalau kamu adalah orang berpendidikan yang tidak layak menghina, merendahkan, atau menstigma orang lain bagaimanapun latar belakang orang tersebut"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, terima kasih sudah berkunjung dan mengapresiasi laman #PerempuanSufi. Stay positive, spread positivity ya.

      Salam hangat ❤️

      Delete

Post a Comment

Bacaan Populer

Spiritual Awakening, Apakah Kamu Sedang Mengalaminya?

Bagi sebagian orang, istilah spiritual awakening mungkin terdengar asing. Tapi, bisa jadi mereka semua pernah atau bahkan sedang mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah “pencerahan” atau “kebangkitan spiritual”, sebagian lagi menyebutnya “kesadaran spiritual”. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya sebagai kesadaran spiritual karena bagi saya, setiap orang sudah mengalami perjalanan spiritual sejak lahir. Namun, tidak semua orang menyadarinya.  Sebagian orang mungkin akan merasakan kedamaian tersendiri saat mengalaminya, tapi ada juga sebagian orang yang justru merasakan hal-hal lain di luar kendali, seperti merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, kemelut pikiran dan hati, sampai merasakan adanya gangguan mental yang sering kali dianggap sebagai penyakit. Untuk lebih memahaminya, mari kita perjelas dulu batasan kesadaran spiritual ini! Spiritual Awakening © Retha Ferguson via Pexels Apa itu kesadaran spiritual? Ketika seseorang melalui kesadaran s

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath. Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri. Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi. © Pixabay via Pexels Empath dan HSP Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berb

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan.  © Pexels #1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dilahirk

Dalam Penciptaan Hawa, Tuhan Tak Patriarkis

Baru-baru ini, teman baik saya mengirimkan thread Twitter soal Hawa yang mendorong saya untuk kemudian mengenal perempuan pertama di muka bumi ini secara lebih dekat.  Sebagian dari kita mungkin sudah mendengar kisah bagaimana Adam diciptakan dan diperkenalkan kepada makhluk Tuhan lainnya semasa di surga. Bahkan, beberapa literatur menyebutkan bahwa Adam hidup sampai 930 tahun. Lalu, bagaimana dengan Hawa? Bagaimana ia diciptakan, diturunkan ke bumi, sampai akhirnya melahirkan manusia-manusia lainnya di muka bumi ini? © Luis Quintero from Pexels Benarkah Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam? Menurut tradisi Yahudi , Adam dikecam sebelum dia dipertemukan dengan Hawa. Dalam buku abad pertengahan yang berjudul The Alphabet of Ben-Sira, disebutkan bahwa istri pertama Adam adalah Lilith yang marah dan kemudian bersekutu dengan setan sehingga Tuhan mengecamnya dan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Konsep inilah yang kemudian mengonstruksi anggapan bahwa Hawa (perempuan)

Mitos Kecantikan dan Budaya Patriarki dalam Lagu “Aisyah Istri Rasulullah”

© Janko Ferlic from Pexels Sore ini, untuk ke sekian kalinya, telinga saya digandrungi oleh lagu islami berjudul “Aisyah Istri Rasulullah”. Sekilas, nadanya cukup mudah diingat dan terdengar romantis sehingga saya berniat untuk ikut meng- cover lagu tersebut. Seperti biasa, saya akan terlebih dahulu menghafal liriknya sebelum bernyanyi. Sayang seribu sayang, niat saya untuk berpartisipasi memviralkan lagu tersebut terhenti saat menemukan liriknya yang berbunyi kulit putih bersih merahnya pipimu. Kenapa? Dalam buku berjudul The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women , disebutkan bahwa penyebutan kulit putih merupakan salah satu mitos kecantikan yang diproduksi kapitalisme dalam industri kecantikan untuk mengontrol otoritas perempuan atas tubuhnya. Dalam konteks ini, budaya patriarki tidak berupaya mendominasi tubuh perempuan secara fisik, tetapi menghegemoninya secara psikis sehingga banyak perempuan yang terjebak pada mitos putih-itu-cantik . Mitos kecant