Skip to main content

Ada 15 Tipe Overthinking, Apakah Kamu Termasuk?

Dulu, saya sering sekali merasa bersalah atau takut bersalah atas apa yang saya pikir itu salah (kok banyak salahnya, ya?), memalukan, terlihat bodoh, dan lain-lain. Bukan cuma sehari, tapi bisa berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan.

Tapi, seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa tidak banyak hal yang bisa kita genggam dan tidak banyak hal yang bisa kita lepaskan dengan mudah. Yang perlu kita lakukan hanya melakukan yang terbaik tanpa berharap yang terbaik. Nggak kok, bukan pesimis. Itu namanya antisipatif.

Kali ini, saya tidak akan berbicara soal bagaimana cara mengatasi overthinking, tetapi apa saja tipe overthinking menurut John Spacey yang mungkin tidak kita sadari. Setelah ini, baru deh ya saya buat artikel tentang cara mengatasinya.


Overthinking © 
 Marcelo Chagas from Pexels

#1: Abstraction

Ketika memikirkan hal-hal tertentu yang terlalu jauh dari kenyataan. Contohnya, ketika kamu memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi (yang sebenarnya tidak mungkin terjadi) ketika kamu berbicara di hadapan publik. Mungkin, tipe yang ini lebih dekat dengan kekhawatiran berlebih dengan cara pandang yang abstrak.

#2: Complexity

Mempertimbangkan terlalu banyak faktor dalam sebuah keputusan tanpa mempertimbangkan urgensinya. Misalnya, ketika kamu harus memutuskan untuk pergi ke suatu tempat atau tidak, kamu mempertimbangkan bagaimana suhu di sana, apakah ada pedagang yang lewat atau tidak, bagaimana kamu bisa menikmati pemandangan di sana, dll. tanpa mempertimbangkan apakah faktor-faktor tersebut layak dipertimbangkan atau tidak.

#3: Avoidance

Menggunakan proses mengambil keputusan sebagai alasan untuk menghindari suatu hal yang tidak kamu inginkan. Misalnya, mencuci tangan terlalu sering untuk menghindari adanya kuman penyebab penyakit atau menggagalkan rencana pertemuan karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

#4: Cold logic

Menggunakan logika untuk mengambil keputusan yang membutuhkan emosi. Misalnya, ketika kamu ingin membeli sesuatu dari pedagang asongan, kamu akan berpikir cukup lama untuk menentukan apakah kamu akan membelinya atau tidak. Yup, ini pernah saya lakukan dan pada akhirnya, saya tidak membelinya dan keesokan harinya, saya kembali overthinking karena merasa keputusan saya untuk tidak membeli barang tersebut adalah salah.

#5: Intuition neglect

Berpikir secara berlebihan dengan mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sudah kamu ketahui. Misalnya, kamu sudah mengetahui bahwa sesuatu itu adalah hal yang benar dan harus kamu lakukan. Tapi, kamu tetap mengumpulkan data, bukti, fakta, dan sejumlah pro kontra untuk membuat instingmu semakin jelas.

#6: Premature decisions

Membuang waktu dan energi untuk memikirkan keputusan yang belum perlu dibuat. Misalnya, nih, kamu berencana kuliah di sebuah PTN andalanmu, tapi kamu sudah sibuk memikirkan apa saja yang akan kamu bawa saat pertama kali masuk kelas. Padahal, diterima saja belum. Hehe…

#7: Irrelevant decisions

Memikirkan keputusan yang memang tidak seharusnya dibuat atau nggak dibutuhkan sama sekali. Misalnya, memikirkan skenario masa depan yang tidak mungkin terjadi.

#8: Creating problems

Menciptakan atau melihat sesuatu yang baik-baik saja sebagai masalah. Nah, ini biasanya terjadi pada kamu yang sedang menjalin hubungan asmara dan cemburu buta dengan pasangan sehingga setiap kali pasangan berinteraksi dengan lawan jenis, kamu bisa langsung berang.

#9: Neglecting speed

Kondisi yang di dalamnya kamu menganggap bahwa keputusan tidak optimal yang diambil dalam waktu cepat lebih baik daripada keputusan yang optimal dalam waktu lambat. Dalam hal ini, kamu tidak suka dengan peribahasa biar lambat asal selamat karena bagi kamu.

#10: Over optimization

Mengubah detail atau hal-hal kecil tanpa melihat gambaran besarnya. Contohnya, kamu melihat sebuah kecelakaan di jalan raya. Hal yang kamu lakukan bukan mencari bantuan atau menelepon panggilan darurat, melainkan melihat apakah kendaraan atau barang-barang korban aman atau tidak.  

#11: Ambiguity aversion

Mengulur waktu atau menunda keputusan karena kehilangan informasi. Hmmm, ini mungkin sering terjadi pada seseorang yang pelupa atau tidak terorganisasi dengan baik saat akan memberikan keputusan.

#12: Lack of principles

Membuat prinsip-prinsip dasar untuk membuat suatu keputusan sekaligus mengatasi masalah agar membuatnya lebih efisien. 

#13: Paralysis by analysis

Kadang, ada banyak hal yang hanya perlu diterima dan dimengerti nanti saja (setelah keputusan selesai dibuat). Tapi, orang dengan pola overthinking yang satu ini tidak akan menyerahkan keputusan mereka sebelum menganalisisnya secara runut dan detail.

#14: Big Thinking

Membuat sebuah solusi yang sangat besar untuk sesuatu yang sangat kecil.

#15: Fear of failure

Membayangkan sesuatu terlalu jauh untuk menghindari kegagalan.

Dari lima belas jenis overthinking  di atas, apakah kamu punya salah satunya?

Comments

  1. Menarik sekali , gua banget intuition neglect , itu sewaktu sebelum gua kena dampak goncangan batin , tidak ada gempa tapi sempoyangan , benar2 mengontrol atau mengasah spiritual baru2 ini tahun 2020 .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, terima kasih sudah berbagi dengan #PerempuanSufi. Yup, memang sering kali banyak hal membuat kita overthinking. Tapi, kita juga punya kemampuan untuk mengelolanya kok. Semoga selalu semangat, ya!

      Delete
  2. Kalo punya lebih dari tiga itu masih baik" aja kan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, terima kasih sudah berkunjung ke laman #PerempuanSufi. Kelima belas poin di atas adalah beberapa pola overthinking yang biasa dialami. Kalau dari poin-poin yang biasa kamu alami itu terasa mengganggu, ada baiknya kamu mengolah mindset kamu supaya tidak overthinking ya. 🌻

      Delete
  3. Kalo punya lebih dari tiga itu masih baik" aja kan ya?

    ReplyDelete

Post a Comment

Bacaan Populer

Apakah Kamu Seorang Empath?

Pernah merasa cemas, sedih, atau marah tanpa sebab yang pasti? Atau bahkan merasakan gejala fisik yang kuat tanpa alasan logis? Mungkin, kamu adalah seorang empath. Sebelum mengenal diri saya sebagai empath, saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya. Terlebih, saya juga pernah disinyalir menderita kepribadian ganda di usia muda. Namun, pada saat itu, saya berpikir bahwa itu hanya sebagian kisah dari pencarian jati diri. Setelah berkelana sampai ke palung diri yang paling dalam dan bertemu sesama empath, saya pun sadar bahwa kami punya gift yang cukup unik dan mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebelum mengenal diksi empath, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai “energian”, yaitu orang yang punya sensitivitas tinggi terhadap energi. Empath dan HSP Empath adalah orang yang sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitarnya sehingga merasakan emosi tersebut di dalam dirinya. Seorang empath cenderung melihat dunia secara berbeda, menyadari bagaimana perasaan orang …

Bukan Cuma Indigo yang Punya Sixth Sense

Beberapa kali saya tidak sengaja meramal kedatangan bencana atau kematian dan sering kali pula saya mengajukan pernyataan yang tepat saat pertama kali bertemu dengan orang-orang baru. Respon mereka rata-rata sama. Sama-sama bertanya, “Kamu indigo?” Padahal, tidak semua orang yang memiliki sixth sense atau indera keenam termasuk ke dalam kategori indigo. Ada juga beberapa jenis karakteristik jiwa yang dianugerahi kelebihan serupa. Nah, kalau kamu juga merasa atau sering disebut indigo, coba kenali karakteristikmu yang sesungguhnya. Apakah memang benar-benar indigo atau bukan. 
#1: Indigo Istilah anak indigo muncul pada era 1960-an dan 1970-an, periode revolusioner ketika terjadi perubahan dalam kesadaran dunia. Orang-orang indigo adalah orang yang tenang dan cinta damai. Mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menaklukkan energi negatif, melainkan cahaya yang kemudian kita sebut aura. Mereka sangat sensitif baik secara emosional maupun lingkungan, serta dilahirkan dengan tingkat intelektu…

Spiritual Awakening, Apakah Kamu Sedang Mengalaminya?

Bagi sebagian orang, istilah spiritual awakening mungkin terdengar asing. Tapi, bisa jadi mereka semua pernah atau bahkan sedang mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah “pencerahan” atau “kebangkitan spiritual”, sebagian lagi menyebutnya “kesadaran spiritual”. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya sebagai kesadaran spiritual karena bagi saya, setiap orang sudah mengalami perjalanan spiritual sejak lahir. Namun, tidak semua orang menyadarinya.  Sebagian orang mungkin akan merasakan kedamaian tersendiri saat mengalaminya, tapi ada juga sebagian orang yang justru merasakan hal-hal lain di luar kendali, seperti merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, kemelut pikiran dan hati, sampai merasakan adanya gangguan mental yang sering kali dianggap sebagai penyakit. Untuk lebih memahaminya, mari kita perjelas dulu batasan kesadaran spiritual ini!
Apa itu kesadaran spiritual? Ketika seseorang melalui kesadaran spiritual, seluruh dunia di luar fisik atau bisa kita sebut sebag…

Mitos Kecantikan dan Budaya Patriarki dalam Lagu “Aisyah Istri Rasulullah”

Sore ini, untuk ke sekian kalinya, telinga saya digandrungi oleh lagu islami berjudul “Aisyah Istri Rasulullah”. Sekilas, nadanya cukup mudah diingat dan terdengar romantis sehingga saya berniat untuk ikut meng-cover lagu tersebut. Seperti biasa, saya akan terlebih dahulu menghafal liriknya sebelum bernyanyi. Sayang seribu sayang, niat saya untuk berpartisipasi memviralkan lagu tersebut terhenti saat menemukan liriknya yang berbunyi kulit putih bersih merahnya pipimu. Kenapa? Dalam buku berjudul The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women, disebutkan bahwa penyebutan kulit putih merupakan salah satu mitos kecantikan yang diproduksi kapitalisme dalam industri kecantikan untuk mengontrol otoritas perempuan atas tubuhnya. Dalam konteks ini, budaya patriarki tidak berupaya mendominasi tubuh perempuan secara fisik, tetapi menghegemoninya secara psikis sehingga banyak perempuan yang terjebak pada mitos putih-itu-cantik. Mitos kecantikan sendiri merupakan bagian dari alat femin…

Karena KB adalah Hak Segala Bangsa

Dulu, sebagian keluarga saya selalu menentang program Keluarga Berencana (KB) karena menganggap hal itu sebagai cara manusia menentang takdir. Sementara itu, sebagian keluarga saya yang lain menganggap bahwa KB adalah hal yang harus dilakukan untuk mengurangi beban mental dan finansial keluarga. Tapi, bukankah nasib dan takdir itu berbeda? Ya, kadang-kadang, ada yang takdirnya memang harus punya banyak anak, tapi hidupnya enak. Tapi, ada juga yang anaknya cuma satu, tapi takdirnya sudah buntu. Pada akhirnya, manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Absolutely. Di tulisan ini, saya tidak akan membahas soal perlu atau tidaknya KB. Saya hanya akan bercerita soal populasi dunia yang semakin lama semakin bertambah. World Economic Forum menyatakan bahwa populasi dunia bertambah sebanyak 83 juta jiwa setiap tahunnya. Saat ini, sudah ada sekitar 7,6 miliar orang di dunia. Tapi, tren populasi di dunia tidaklah sama. Beberapa negara berkembang dengan cepat sehingga populasi semakin bany…